Penulis: Ummu Naira Asfa
Muslimah News, OPINI — Beberapa beberapa perusahaan rintisan atau startup di Indonesia ramai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, di antaranya edu-tech Zenius, furnitur Fabelio, platform pertanian Tani Hub, fintech landing Uang Teman, e-commerce JD.ID, dan aplikasi pembayaran LinkAja.
Zenius mengumumkan PHK pada 25% pegawainya, yaitu sekitar 200 orang. LinkAja mem-PHK ratusan karyawannya, Fabelio puluhan karyawannya, Tani Hub juga telah menutup dua gerainya di Bandung dan Bali.
Uang Teman dikabarkan belum membayarkan tanggungan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, bahkan OJK telah mencabut izin usaha jasa keuangannya. Sedangkan LinkAja memberhentikan ratusan karyawannya.
Tidak hanya di Indonesia, startup di India juga telah memberhentikan 6.000 karyawan dalam lima bulan terakhir. Di Amerika, perusahaan health-tech MFine, ed-tech Vedantu, dan dari Unacademy ke Lido Learning dan Cars24 memberhentikan lebih dari 3.600 karyawan tahun ini.
Sebelum ini, beberapa startup Indonesia pada akhirnya juga harus gulung tikar, antara lain Airy Rooms, Stoqo, Qlapa, dan Sorabel.
PHK massal ini disebabkan startup harus menyesuaikan diri karena perubahan model bisnis dan skema pasar. Selain itu, kondisi ekonomi yang berubah dan terjadinya resesi atau pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Hendra Setiawan Boen, analis dan praktisi hukum restrukturisasi utang dari Kantor Frans & Setiawan menyatakan fenomena ini terjadi karena dana operasional startup sepenuhnya bergantung pada pendanaan pihak luar melalui fundraising, private placement, sampai pinjaman. Selain itu, startup tidak tumbuh secara organik dan terlalu terburu-buru untuk booming. (Suara Lampung, 27/5/2022).
Fenomena Bubble Burst
Menurut Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini, PHK massal di banyak startup ini disebut bubble burst. Melansir Investopedia (29/5/2022), fenomena ekonomi bubble burst adalah ledakan gelembung ekonomi, yaitu terjadi pertumbuhan ekonomi (eskalasi atau kenaikan nilai pasar yang cepat) yang terlalu tinggi, tetapi juga diiringi dengan kejatuhan yang relatif cepat. Inflasi yang cepat dalam harga aset ini diikuti penurunan nilai yang cepat atau kontraksi. Fenomena inilah yang terjadi di startup-startup tersebut.
Lonjakan harga aset didorong oleh perilaku pasar yang tinggi dan terkena euforia. Aset diperdagangkan dengan kisaran harga yang jauh lebih tinggi dari nilai intrinsik aset.
Gelembung ekonomi juga disebabkan perubahan perilaku investor yang bisa terjadi kapan saja. Banyak perusahaan yang mendapatkan dana dari investor, tetapi kondisi ekonomi yang memburuk membuat perusahaan bangkrut. Hal ini biasa terjadi di pasar saham atau sektor ekonomi nonriil yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalisme.
Startup dengan bisnis yang berbasis internet mengeluarkan produk berupa aplikasi yang berbentuk digital dan jasanya beroperasi melalui website. Untuk tumbuh dan berkembang, startup butuh dana dari investor. Muncullah perusahaan-perusahaan modal ventura (VC) yang dibentuk untuk memberikan investasi kepada perusahaan-perusahaan startup. Sebagai imbal baliknya, VC mendapatkan saham dari perusahaan startup tersebut.
Indonesia adalah target pasar yang besar bagi para investor bisnis. Startup adalah jalan termudah dan termurah untuk mengembangkan bisnis. Hal ini yang menjadi magnet bagi para investor (baik investor lokal maupun asing) untuk menanamkan modal investasinya di perusahaan-perusahaan startup di Indonesia.
Saat valuasi perusahaan makin tinggi, perusahaan bisa dijual dengan harga yang sangat tinggi atau melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana ke publik dengan harga saham per lembar yang tinggi. Saat itulah perusahaan dan investor mendapat keuntungan.
Permainan bisnis startup inilah yang nantinya bisa mengguncang ekonomi karena fokus investasinya pada sektor ekonomi nonriil sehingga rentan terjadi penggelembungan ekonomi, bahkan bisa pecah.
Jika terjadi guncangan di bidang ekonomi atau politik, misalnya, harga saham bisa turun drastis seketika akibat kepercayaan (trust) publik yang anjlok. Kelabilan kondisi ini yang menjadi penyebab utama mudahnya perusahaan startup melakukan PHK massal.
Solusi Islam Mencegah Bubble Burst
Sistem ekonomi Islam berfokus pada pembangunan ekonomi sektor riil dan tidak mengenal sektor ekonomi nonriil. Dengan kata lain, ekonomi nonriil bertentangan dengan sistem Islam. Hukum jual beli saham di lantai bursa saham juga haram karena di dalamnya terdapat riba dan akad syirkah yang batil.
Startup dijadikan sebagai jalan bagi para kapitalis pemodal besar untuk menguasai data (big data) dan pasar kaum muslim. Hal ini sebenarnya sangat berbahaya karena ekonomi kaum muslim menjadi dikuasai asing.
Allah Swt. berfirman, “Dan sekali-kali Allah tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS An-Nisa: 141)
Islam tidak bergantung kepada investasi asing karena hal itu bisa menjadikan ketergantungan terhadap negara lain. Jika negara tidak mengutamakan sektor riil, industri tidak menjadi prioritas dan produksi negara menjadi tidak ada. Sama saja dengan bergantung pada produk negara lain. Dampaknya, kita akan terus-menerus bergantung impor. Dengan demikian, sistem ekonomi Islam mencegah terjadinya bubble burst.
Negara Islam kafah mengembangkan tiga sektor industri, yaitu industri berat, industri strategi berbasis militer, dan di bidang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Untuk menjalankan tiga industri ini, negara harus menjadi negara berdaulat berlandaskan ideologi Islam dalam bentuk negara Khilafah Islamiah.
Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mencakup tentang perolehan harta kekayaan dan pemanfaatannya, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun distribusi. Asas sistem ekonomi Islam berdiri di atas tiga pilar, pertama, cara harta diperoleh (menyangkut kepemilikan); kedua, terkait pengelolaan kepemilikan; dan ketiga, terkait distribusi kekayaan di tengah masyarakat agar tidak terjadi kesenjangan ekonomi.
Sistem ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok per individu rakyat, bukan per kapita sehingga negara betul-betul me-riayah (mengurusi) rakyatnya dengan sungguh-sungguh, tidak sekadar mencari untung untuk kepentingan segelintir orang atau swasta.
Sungguh, sistem ekonomi kapitalisme bertentangan dengan sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi kapitalisme hanya mengutamakan keuntungan, bukan kesejahteraan rakyat.
Permasalahan mendasar dan turunan dari sistem ekonomi kapitalisme sangat kompleks, mulai dari kesenjangan ekonomi, bubble burst, bahkan bisa berimbas pada naiknya angka kriminalitas dan permasalahan sosial lainnya. Oleh karenanya, sudah saatnya kita beralih pada sistem ekonomi Islam secara kafah. Wallahualam. [MNews/Gz]
