Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Bagaimanapun, kehadiran seorang kepala negara di tengah rakyat sangat dibutuhkan. Tidak hanya mengeluarkan kebijakan dari kursi jabatannya tanpa mengetahui realitas sesungguhnya dari kehidupan masyarakat, pemimpin juga semestinya hadir dengan pernyataan dan nasihat yang menyejukkan hati rakyat, tidak membuat rakyat bingung atau malah menimbulkan kepanikan.
Di dalam Islam, khalifah bukan jabatan yang dibanggakan, tetapi adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak. Kehadiran khalifah di tengah masyarakat dalam rangka me-riayah urusan umat sesuai dengan aturan Allah Swt., termasuk bagaimana agar rakyat menaati apa yang menjadi kebijakan syar’i Khalifah tersebut.
Ajakan untuk Bermurah Hati
Setelah rakyat bersatu di bawah kepemimpinannya, Muawiyah bin Abu Sufyan datang ke Madinah. Hasan dan Husein serta sejumlah orang Quraisy bertemu dengannya. Ia juga menuju rumah Utsman bin Affan ra..
Muawiyah masuk ke rumah Utsman dan bertemu dengan Aisyah binti Utsman bin Affan sambil menenangkan serta menyuruhnya untuk menahan diri dari kesedihannya.
Khalifah Muawiyah berkata kepadanya, “Wahai putri saudaraku, sesungguhnya orang-orang memberikan kepada kita kekuasaan maka kita harus menunjukkan sikap murah hati yang di bawahnya ada kemarahan, sebagaimana mereka menunjukkan kepada kita ketaatan yang di bawahnya ada kedengkian. Maka kita menjual kepada mereka ini dengan ini dan mereka menjual kepada kita ini dengan ini. Jika kita memberi selain yang mereka beli dari kita, mereka akan bersikap kikir terhadap kita pada hak kita. Kita akan memandang remeh hak mereka.”
“Masing-masing dari mereka memiliki pengikut. Ia melihat posisi dan kedudukan pengikutnya. Jika kita merusak janji dengan mereka, maka mereka pun akan merusak janji terhadap kita. Kemuian kita tidak tahu apakah pergiliran berikutnya itu menjadi milik kita atau justru menimpakan keburukan terhadap diri kita? Bahwa kamu menjadi putri Utsman Amirulmukminin itu lebih kusukai daripada kamu menjadi salah satu budak kaum muslim. Sebaik-baik pengganti untukmu adalah aku sepeninggal ayahmu,” ujarnya lagi.
Didoakan Kebaikan oleh Rakyat
Ketika Miswar bin Makramah bertemu dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, Khalifah Muawiyah berkata kepadanya, “Kamu jangan melepaskan diri dari dosa. Bukankah kamu mempunyai dosa yang dikhawatirkan akan membinasakan dirimu jika Allah tidak mengampuninya untukmu?”
Miswar menjawab,”Ya! Sesungguhnya aku mempunyai dosa yang jika engkau tidak mengampuninya maka aku pasti binasa karenanya.”
Muawiyah berucap, “Apakah yang menjadikanmu lebih merasa berhak berharap ampunan dariku? Demi Allah, apa yang kulakukan berupaya memperbaiki keadaan rakyat, menegakkan hukum had, mendamaikan antar manusia, berjihad di jalan Allah, serta urusan-urusan lain yang besar, yang tak dapat dihitung kecuali oleh Allah, kita tidak bisa menghitungnya lebih banyak daripada apa yang kau sebutkan berupa aib dan dosa. Sesungguhnya aku berada di atas din yang Allah menerima padanya kebaikan dan memaafkan kesalahan dirinya. Demi Allah, atas hal itu tidaklah aku disuruh memilih antara Allah dan selain-Nya kecuali aku pasti memilih Allah atas selain-Nya.”
Miswar berkata, “Aku berpikir ketika Muawiyah mengatakan ucapannya itu kepadaku dan aku mengerti bahwa ia telah mendebatku.” Rawi riawayat ini berucap, “Apabila Miswar mengingat kejaian itu sesudahnya, maka ia senantiasa mendoakan kebaikan untuk Muawiyah.” Syu’aib meriawayatkan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Miswar atsar yang semisal dengan ini.
Pemimpin yang Mengajak Rakyat untuk Menaati Allah
Hisyam bin Ammar, sang Khathib Damaskus, berkata bahwa Amru bin Waqid menceritakan kepada kami, Yunus bin Halbas menuturkan kepada kami, ia berkata, “Aku mendengar Muawiyah yang naik ke atas mimbar Damaskus pada hari Jumat, ia berpidato.”
“Wahai segenap manusia! Pahamilah ucapanku. Kalian tidak akan mendapatkan orang yang lebih mengetahui urusan dunia dan akhirat melebihi diriku. Tegakkan wajah kalian dan luruskan saf kalian di dalam salat atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih. Tahanlah tangan orang-orang bodoh kalian (dari bertindak bodoh) atau Allah akan menjadikan musuh kalian berkuasa atas kalian, lantas musuh itu menimpakan seburuk-buruk siksaan terhadap kalian.”
“Bersedekahlah kalian, dan jangan sampai ada orang yang berkata, ‘Sesungguhnya aku ini sedikit hartanya,’ karena sedekah yang dilakukan orang yang sedikit hartanya itu lebih utama daripada sedekahnya orang kaya. Jauhkanlah diri kalian dari tuduhan zina terhadap wanita yang menjaga kehormatan dirinya, walaupun seseorang hanya berkata, ‘Aku mendengar’ atau ‘Sampai berita kepadaku.’ Andaikata salah seorang di antara kalian menuduh berzina seorang perempuan yang hidup pada masa Nabi Nuh dahulu, niscaya ia akan disuruh bertanggung jawab terhadap tuduhannya itu pada Hari Kiamat nanti.” Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Qadhi Syaikh Muhammad bin Ahmad Kan’an. Daulah Bani Umayah. Al Qowam.
Sumber foto: Quora

Maasyaalloh