Penulis: Arini Retnaningsih
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Allah Swt. berfirman,
صِبْغَةَ اللهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ
“Sibgah Allah. Siapakah yang lebih baik Sibgahnya daripada Allah? Dan kepada-Nyalah kami menyembah.” (QS Al-Baqarah: 138)
Menurut bahasa, kata “sibgah” (صِبْغَةٌ) atau “shibghah” (transliterasi bahasa Arab) diambil dari kata “shabagha” yang artinya ‘mewarnai, mencelup, mengecat, membaptis (dalam agama Kristen), dan menenggelamkan’; sedang صِبْغَةَ artinya ‘macam, bentuk, agama, ajaran, kepercayaan, dan baptis’. (Kamus al-Munawwir, hlm. 176).
Ketika kita mencelup kain untuk menghasilkan warna yang sempurna, ada dua hal yang harus kita perhatikan, yaitu jenis pencelupnya dan cara mencelupnya. Apabila jenis pencelup yang kita gunakan adalah pencelup yang berkualitas rendah, boleh jadi warna yang dihasilkan akan tidak merata, tidak cerah, dan mudah luntur.
Apabila cara mencelupnya salah, misalnya hanya dicelup sebagian saja atau ada bagian yang terlewat saat dicelup, hasil celupan tidak utuh sehingga menghasilkan kain yang belang. Bila bahan celupannya berkualitas tinggi dan cara mencelupnya benar, barulah kita mendapatkan kain dengan warna indah dan sempurna.
Begitu pun ketika kita mewarnai diri. Kita butuh pencelup terbaik dan harus memperhatikan cara mencelupnya.
Sibgah Allah
Sibgah terbaik, dalam QS Al-Baqarah: 138, adalah sibgah Allah. Mayoritas ulama tafsir menyatakan yang dimaksud “صِبْغَةَ اللَّهِ” (Shibghatullah) dalam ayat ini adalah agama Allah, yaitu Islam. Mengapa Islam dalam ayat ini disebut sebagai sibgah yang berarti ‘celupan pewarna’ yang biasanya digunakan untuk mewarnai kain?
Ibnu Abbas menuturkan sebagaimana yang dikutip oleh Imam Al-Bhagawi dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan tentang ayat ini, “(Yang dimaksud Shibghatullah) adalah agama Allah. Dinamakan sibgah (celupan pewarna) karena pengaruh agama akan tampak pada diri seorang penganutnya sebagaimana pewarna akan tampak pengaruhnya pada sebuah baju. Ada juga yang mengatakan bahwa orang yang beragama akan selalu berkomitmen dan tidak berpisah darinya, sebagaimana warna dari celupan tersebut akan selalu menempel pada baju yang dicelup di dalamnya.”
Dalam Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Syekh Dr. Muhammad Sulaiman al-Asyqar, menafsirkan tentang Sibgah Allah, “Celupkanlah (masukkanlah) diri kalian dan keluarga kalian ke dalam Islam karena Islam adalah Sibgah Allah (celupan-Nya) dan berpegang teguhlah dengannya. Dan celupan akan memasuki setiap bagian barang yang dicelupkan, demikian juga Islam akan mengubah keadaan orang yang berpegang teguh terhadapnya.” (https://tafsirweb.com/586-surat-al-baqarah-ayat-138.html)
Syekh Musthafa al-Maraghi menjelaskan tentang Sibgah Allah, “Allah telah mencelup kita dan telah memfitrahkan kita (menciptakan kita pada awal kejadian) sebagai persiapan kita untuk menerima kebenaran dan mengimani segala yang dibawa para nabi dan rasul. Maka, janganlah kita mengikuti pendapat sesat pemimpin, hawa nafsu tokoh-tokoh masyarakat dan taklid (taat buta) kepada peraturan buatan manusia. Sibgah Allah adalah perhiasan indah bagi kita yang dengannya kita larut kepadanya, seperti larutnya warna celupan kepada kain.” (Tafsir Al-Maraghi Juz 1, hlm. 217)
Sibgah Allah adalah celupan warna terbaik bagi manusia. Hal ini karena Islam adalah agama sempurna yang memiliki warna khas yang mampu membentuk warna indah pada diri manusia. Sibgah Allah ini akan memberikan celupan, baik di bagian dalam maupun luar pada diri manusia sehingga ibarat kain, sampai ke serat-seratnya pun terwarnai sempurna.
Di bagian dalam yang terwarnai, dalam diri seorang muslim, mencakup warna akidahnya yang lurus dan sahih, jauh dari penyimpangan dan kesesatan. Warna pemikirannya (fikrah) pun akan mencerminkan wawasan dan cara pandang islami, selalu merujuk standar Islam. Selera dan perasaannya (syu’ur) selalu cenderung pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pemikiran dan perasaannya menyatu, senantiasa merujuk pada yang telah Allah ajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunah Nabi-Nya.
Sedangkan di bagian luarnya, akan tampak jelas pada seluruh sikap dan perilakunya. Celupan Allah akan menjadi warna istimewa yang menjadi ciri khas seorang muslim. Dalam seluruh perbuatannya, ia senantiasa mengikatkan diri dengan hukum-hukum Allah, tunduk dan patuh terhadap aturan Rabb-nya.
Hasil celupan Allah inilah yang akan mewujudkan kepribadian Islam pada diri seorang muslim, baik pola pikir maupun pola sikapnya, terbentuk warna yang sama secara sempurna.
Celupkan Seluruhnya!
Selain kualitas bahan pencelup, cara mencelup juga menentukan keberhasilan proses pencelupan. Mencelupkan sebagian diri tanpa sebagian lainnya akan menghasilkan celupan yang belang, yakni kepribadian Islam yang terdistorsi. Apalagi bila mencelupkan sedikit saja dalam Islam, sisanya dicelupkan dengan pencelup lain, hasil yang didapat adalah warna yang tidak merata.
Seperti itulah gambaran apabila kita mengambil sebagian dari ajaran Islam kemudian menggantikan sebagiannya dengan aturan dari luar Islam. Misalnya, mengambil Islam sekadar nilai-nilai esensinya, tetapi meminggirkan syariatnya. Mengambil Islam hanya dalam aspek ibadah, kemudian mengambil moderasi sebagai cara beragama, demokrasi sebagai warna politik, kapitalisme sebagai warna ekonomi, liberalisme sebagai warna tatanan sosial, dan sebagainya. Semua ini akan menghasilkan kepribadian Islam yang tidak sempurna, terdistorsi, dan cacat warna.
Oleh karena itu, untuk menghasilkan warna Islam yang sempurna, yaitu kepribadian Islam yang utuh, seorang muslim harus mencelupkan dirinya secara menyeluruh ke dalam Islam. Ini sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 208,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً (سورة البقرة
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan.”
Ramadan Bulan Menyibgah Diri
Menyibgah diri dengan Sibgah Allah adalah komitmen totalitas hidup—ritual maupun nonritual—kepada Allah Taala, Sang Pencipta. Ini adakah komitmen yang akan mewarnai hidup kita dengan ajaran-Nya. Tidak cukup hanya dengan iman dalam hati, tetapi juga harus tampak dari luar.
Itulah Islam kafah, yang tidak setengah-setengah, tidak tebang pilih ayat sesuai nafsu dan keinginan saja.
Oleh karenanya, Ramadan merupakan momen tepat untuk menyibgah diri. Ini karena tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa adalah untuk menggapai ketakwaan.
Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah: 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Takwa adalah menghiasi diri dengan rasa takut kepada Allah yang berkonsekuensi ketaatan mutlak kepada-Nya sehingga akan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan ini dapat tercapai dengan menenggelamkan diri dalam Sibgah Allah, yaitu mempelajari Islam secara utuh dan menerapkannya dalam kehidupan.
Selama Ramadan, hakikatnya kita sedang mencelupkan diri. Apabila celupan warna yang kita gunakan dan cara mencelupnya tepat, jadilah kita seperti sehelai kain dengan warna khas yang indah, yang memesona siapa yang memandangnya. Itulah warna Islam.
Sebaliknya, apabila pencelup yang kita gunakan adalah sibgah Islam moderat ataupun Islam liberal, hasil yang didapat bukan warna Islam yang khas, melainkan berbagai warna campuran yang justru menutup warna Islam yang sesungguhnya pada diri seseorang.
Khatimah
Jelas bahwa yang diinginkan dengan memeluk agama Islam, bukanlah sebatas pengakuan, simbol, ataupun formalitas. Walakin, yang diinginkan dengan memeluk agama Islam adalah lahirnya sebuah keimanan kuat kepada Allah Taala yang menjadi pola pikirnya, tecermin dalam sikap laku, tutur kata, tindak tanduk, hingga perasaan dan emosi kejiwaannya. Ibarat sehelai kain yang tercelup larutan pewarna, tidak ada satu pun bagian dari kain tersebut yang tidak terwarnai larutan pewarna tersebut.
Sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia, yaitu agar manusia menjadi hamba Allah yang sukses mempersembahkan pengabdiannya kepada Allah.
Walhasil, hanya manusia yang sudah tersibgah dengan Sibgah Allah yang mampu dan sanggup menjadi hamba-Nya. Ini dapat dipahami dari ujung ayat QS Al-Baqarah: 138, “Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah.” [MNews/Gz]
Foto sampul: Wallpapercave

MasyaaAllah..
Alhamdulillah
alhamdulullah
thanks for the information
it’s very full heart affirmation