Muslimah News, INTERNASIONAL — Dunia hari tidak lepas dari persoalan ekonomi. Kenaikan harga, kelaparan, krisis pangan, kesenjangan ekonomi, krisis moneter, dan lainnya yang tidak hanya mendera negara miskin dan berkembang, tetapi juga di negara maju.
Menyoroti hal tersebut, pakar ekonomi Caria Ningsih, S.E., M.Si., Ph.D. menjelaskan persoalan ini terjadi disebabkan penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang mampu dijawab tuntas jika diganti dengan sistem ekonomi Islam. “Ada lima poin perbedaan yang sangat nyata antara kedua sistem tersebut,” ungkapnya dalam “Perbandingan Sistem Ekonomi Kapitalisme dan Sistem Ekonomi Islam” di kanal Muslimah Ulul Albab, Jumat (29/4/2022).
Pertama, jelasnya, di dalam sistem ekonomi kapitalisme, permasalahan ekonomi terjadi karena kelangkaan atau keterbatasan alat pemuas kebutuhan manusia.
“Ini berimplikasi pada konsep pembangunan ekonominya yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi semata. Berbeda dengan Islam, yang memandang permasalahan ekonomi ada bila terjadi masalah distribusi sumber daya kekayaan dan pemuas kebutuhan manusia. Akibatnya, sistem ekonomi Islam sangat memperhatikan aspek distribusi kekayaan,” ujarnya.
Kedua, lanjutnya terkait dengan mekanisme distribusi dalam sistem ekonomi kapitalisme hanya mengenal dua konsep kepemilikan kekayaan, yaitu kepemilikan individu atau swasta dan kepemilikan negara. “Porsi kepemilikan individu atau swasta ini cukup besar dibandingkan dengan porsi kepemilikan negara. Mereka juga memahami bahwa distribusi kekayaan itu perlu dilakukan, maka mekanisme distribusinya dilakukan melalui mekanisme harga yang menjadi penentu daya beli dan konsumsi masyarakat,” terangnya.
Kemudian, imbuhnya, distribusi ditentukan oleh kebebasan kepemilikan, kemampuan bekerja, dan perolehan harta yang dilakukan oleh tiap individu atau swasta. “Hukum rimba terjadi di dalamnya. Siapa yang kuat, maka dia akan bisa bertahan dan menguasai ekonomi. Siapa yang lemah, maka dia akan tersingkir. Akhirnya, terjadi dampak kesenjangan ekonomi ekstrem,” paparnya.
Sedangkan, ujarnya, dalam sistem ekonomi Islam, mekanisme distribusi telah diatur oleh syariat. “Di antaranya adalah konsep kepemilikan yang meliputi kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Pengaturan kepemilikannya terkait dengan sebab dan tata cara dalam kepemilikan harta tersebut. Kemudian mekanisme distribusi kekayaan juga dilakukan, seperti dalam mengonsumsi suatu barang, zakat, infak, sedekah, termasuk mekanisme subsidi oleh negara kepada yang tidak mampu,” jelasnya.
Ketiga, ia menyampaikan, terkait pengembangan harta dan investasi. “Di dalam sistem ekonomi kapitalisme tumpuannya riba, spekulasi, gharar, dan maysir. Transaksi barang haram pun dilakukan. Permodalannya bertumpu pada perbankan ribawi, pasar modal, dan valas. Akibatnya terjadi hambatan dalam sirkulasi harta, resesi, dan krisis ekonomi,” sebutnya.
Sedangkan, terangnya, dalam sistem ekonomi Islam diharamkan riba, spekulasi, gharar, maysir , transaksi barang haram dan menimbun harta. “Islam sangat fokus pada pengembangan sektor riil. Sumber permodalan melalui hutang piutang tanpa riba, mekanisme sirkah, bahkan negara bisa memberikan pinjaman dan pemberian modal bagi warga negara yang membutuhkan,” tuturnya.
Keempat, ucapnya, terkait mata uang. “Sistem ekonomi kapitalisme mengandalkan sistem mata uang kertas dengan nilai ekstrinsik dan intrinsik yang berbeda. Inilah muara ketidakstabilan nilai tukar dan berdampak kepada ketidakstabilan ekonomi,” kritiknya.
Ia melanjutkan berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang standar mata uangnya berbasis emas dan perak atau dinar-dirham. “Dinar dan dirham memiliki nilai ekstrinsik dan intrinsik yang sama dan relatif stabil. Ini menjadi jaminan juga terhadap kestabilan ekonomi dengan kestabilan nilai tukar,” ulasnya.
Kelima, ungkapnya, terkait ukuran keberhasilan ekonomi. “Dalam sistem ekonomi kapitalisme, keberhasilan pembangunan ekonomi dicapai dengan pertumbuhan ekonomi secara agregat atau menyeluruh. Tidak memperhatikan apakah ekonomi individu per individu masyarakat sudah terpenuhi kebutuhannya atau tidak. Akibatnya, sistem ekonomi kapitalisme gagal mengatasi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi,” tukasnya.
Sebaliknya, ia menguraikan, sistem ekonomi Islam memandang ukuran keberhasilan ekonomi jika tercapai kesejahteraan setiap individu masyarakat. “Ukuran kesejahteraan masyarakat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan vital, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Ditambah kebutuhan tersier lainnya yang dijamin oleh negara,” kupasnya.
Oleh karena itu, ia menyatakan, tampaklah sistem ekonomi kapitalisme terbukti bersifat rusak dan merusak.
“Berlawanan dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang dapat memberikan kesejahteraan bagi umat. Apalagi, sistem ini bukan sekadar konsep, tetapi sudah terbukti dalam rentang 1300 tahun sejak masa Rasulullah saw., dilanjutkan khulafaurasyidin, dan para khalifah setelahnya. Tidak hanya ekonomi di dalam wilayah Daulah Islam, tetapi juga bisa memberikan dampak kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat di dunia pada saat itu,” tutupnya. [MNews/Ruh]
Sumber foto: iStock
