[Kabar] Ustazah Iffah: Perang Istilah Sengaja Dibuat agar Kaum Muslim Inferior dengan Agamanya

[Kabar] Ustazah Iffah: Perang Istilah Sengaja Dibuat agar Kaum Muslim Inferior dengan Agamanya

Muslimah News, NASIONAL—Aktivis muslimah Ustazah Iffah Ainur Rochmah memandang saat ini sedang terjadi perang istilah yang sengaja dibuat agar kaum muslim inferior dengan agamanya.

“Perang istilah bukan sesuatu yang ringan bagi kita untuk bisa merajut kembali jalan mewujudkan kehidupan Islam. Sadarilah, perang istilah ini sengaja dibuat untuk menjatuhkan mental kaum muslim agar inferior terhadap agamanya sendiri. Juga, agar kebangkitan Islam bisa mereka halangi, setidaknya bisa mereka tunda,” urainya dalam “Bahasa, Alat Perang Peradaban?” di sebuah kanal YouTube, Ahad (24/4/2022).

Ia mengutip dari salah seorang pemikir muslim Dr. Ahmad Ibrahim Khizr yang menyatakan perang ini sengaja dibuat oleh mereka yang punya kebencian terhadap Islam.

“Mereka memprovokasi kaum muslim agar tidak mencintai agamanya dan tidak menginginkan kembalinya peradaban Islam. Dr. Khizr mengatakan perang istilah itu meliputi dua hal, yaitu taqbiihul hasan dan tahsiinul qabiih. Yang senyatanya keburukan, ditampilkan dengan istilah yang positif dan baik. Sebaliknya, sesuatu yang sudah jelas mulia, baik, dan akan menjadi obat mujarab bagi manusia dihadirkan seolah sesuatu yang buruk,” paparnya.

Ustazah Iffah mencontohkan tentang jihad yang merupakan dzarwatu as-sanah min Islam (puncak keagungan ajaran Islam).

“Namun, saat ini yang muncul adalah persepsi bahwa ini sesuatu yang harus hati-hati membicarakannya, jangan sampai kita dianggap pendukung aktivitas jihad. Jangan sampai termasuk kelompok yang disebut radikal. Demikian pula istilah Khilafah. Khilafah adalah sebuah konsepsi pemerintahan Islam yang sebenarnya tidak asing. Namun, ironinya hari ini banyak dari kaum muslim khawatir dikaitkan dengan ajaran Islam yang sangat mulia, yakni Khilafah,” ungkapnya miris.

Distopia

Bahkan, ujarnya, di media sudah terjadi konsepsi yang disebut distopia. “Bagaimana membuat sesuatu menjadi begitu buruk sehingga orang tidak mau mendekati, merangkul, dan mengimplementasikannya,” terangnya.

Sebaliknya, ia melanjutkan, ada sesuatu yang senyatanya buruk dipoles sedemikian rupa seolah positif. “Dalam sistem kapitalisme banyak sekali aktivitas ekonomi yang bertentangan dengan syariat, tetapi dipoles seolah positif, seperti ribawi dan tindakan spekulatif atau maysir. Riba tidak dianggap buruk karena dalam bahasa internasional maupun lokal dimaknai sebagai bunga, interest, atau faidah,” jelasnya.

Khairu Ummah

Kemudian Ustazah Iffah pun mengingatkan umat Islam adalah khairu ummah sebagaimana tercantum dalam QS Ali-Imran: 110. “Mengapa Allah memberikan kualifikasi demikian? Tidak dengan kualifikasi lain, seperti umat moderat atau pertengahan? Apakah kita bisa menggugat kualifikasi yang sudah ditetapkan oleh Allah?” tanyanya lugas.

Ia menyatakan, jika kita beriman kepada Allah atau haqqul yakin bahwa Allah yang pantas memberi kualifikasi dan status tadi, maka sekali-kali kita tidak akan mempertanyakannya.

“Demikian pula, Allah memberikan status kafir kepada orang-orang yang tidak beriman kepada Allah. Istilah munafik untuk orang-orang yang menyukai kekalahan umat Islam di medan perang sebagaimana kegembiraan kaum mukmin mendengar kemenangan Rasulullah. Maka, tentu saja kita tidak akan menggugat status tersebut. Kualifikasi dan status yang Allah berikan adalah yang terbaik. Kita yakin hal itu,” tegasnya.

Namun, ia menilai, hari ini banyak sekali upaya untuk membuat kaum muslim tidak percaya diri, inferior, bahkan tidak menyukai dan malu dengan apa yang telah Allah tetapkan.

“Istilah dan kualifikasi yang telah Allah berikan, digugat dan dianggap belum sesuai dengan perkembangan zaman sehingga perlu direvisi. Inilah hasil dari perang istilah yang dilancarkan oleh mereka yang terjangkit islamofobia,” kritiknya.

Apalagi, imbuhnya, kaum muslim justru turut terlibat dan menyokong pandangan perlu revisi istilah kafir dan adanya moderat.

“Kemudian memilah, mana kaum muslim yang berkualifikasi moderat atau berpaham wasathiyah, dan yang berpaham radikal. Ini adalah sebuah fitnah yang saat ini menimpa kaum muslim,” tuturnya miris.

Sadar

Ustazah Iffah pun menasihati kaum muslim agar menyadari bahwa ini tidak datang begitu saja.

“Ada upaya yang dilakukan oleh mereka yang tidak menghendaki bangkitnya kembali peradaban Islam, yang tidak ingin kaum muslim mengenali jati dirinya sebagai khairu ummah dan merajut kembali jalan mewujudkan jati diri itu secara nyata dalam peradaban Islam,” cetusnya.

Dengan demikian, ia menggarisbawahi, hendaknya kaum muslim terus meningkatkan ketakwaan.

“Mengenalkan kepada anak-anak, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya tentang situasi yang sedang dihadapi kaum muslim dan bagaimana respons yang seharusnya diberikan. Membangkitkan kerinduan akan tegaknya kembali peradaban Islam seraya terus berdoa kepada Allah agar segera menurunkan pertolongan-Nya untuk mengembalikan peradaban Islam tersebut.” tutupnya. [MNews/Ruh]

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *