[Ramadan Sedunia] Ramadan di Australia, Cahaya Dakwah dari Nusantara

[Ramadan Sedunia] Ramadan di Australia, Cahaya Dakwah dari Nusantara

Muslimah News, RAMADAN SEDUNIA — Australia memiliki hubungan yang erat dengan Indonesia, karena kedekatan secara geografis. Meski dekat Indonesia, ternyata Ramadan di Australia berbeda. Yuk, kita kulik!

Jika di Indonesia kita biasa puasa selama sekitar 13 jam, durasi puasa di Australia lebih pendek dua jam, yakni hanya sekitar 11 jam. Durasi makin pendek lagi ketika Ramadan bertepatan dengan musim dingin. Akibatnya, Australia termasuk dalam daftar negara-negara dengan waktu puasa paling singkat. Meski muslim adalah minoritas di Australia, tetapi suasana Ramadan akan tetap terasa. Hal ini karena kekompakan komunitas muslim yang jumlahnya cukup banyak di sana. Seperti di Sydney dan Melbourne, banyaknya muslim di dua kota ini menjadikan suasana Ramadan tidak terlalu berbeda jauh dengan di Indonesia.

Jika di Indonesia sapi Australia terkenal karena banyak kita impor, di Australia sendiri umat Islam justru kesulitan mendapatkan daging sapi yang bisa dikonsumsi. Ya, meski harga daging sapi di Australia murah (dan lebih murah daripada di Indonesia), muslim di sana harus selektif memastikan daging tersebut berasal dari sapi yang disembelih sesuai syariat Islam. Alhamdulillah, di beberapa tempat seperti Adelaide ada Central Market yang menjual daging halal.

Meski minoritas, jumlah muslim Australia mengalami pertumbuhan yang tinggi, terutama karena adanya imigrasi. Adanya persepsi yang negatif terhadap Islam dan kaum muslim pasca peristiwa 9/11 memicu sikap islamofobia pada masyarakat negeri Kanguru ini.

Aborigin Muslim

Islam telah lama masuk Australia dan umat Islam ikut berkontribusi terhadap negeri ini. Pada era 1.600—1.700-an, nelayan dari Makassar menjalin hubungan dagang dengan komunitas Aborigin Yolngu. Nelayan Makassar tersebut tiba di pesisir utara Australia Barat, Australia Utara, dan Queensland. Orang Makassar tersebut berdagang dengan penduduk asli dan mencari teripang yang mereka jual sebagai makanan di pasar Cina.

Hubungan dagang tersebut berlanjut hingga terjadi perkawinan antara penduduk asli dan orang Makassar. Lokasi pemakaman orang Makassar pun ditemukan di sepanjang garis pantai Australia. Terdapat bukti bahwa komunitas muslim Aborigin berasal dari Kerajaan Gowa Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, sudah ada sejak 1650-an dan menyebarkan agama Islam di Australia Utara hingga ke desa Kayu Jawa di Australia Barat. Lukisan gua Aborigin menggambarkan perahu tradisional Makassar dan sejumlah peninggalan Makassar telah ditemukan di pemukiman Aborigin di pesisir barat dan utara Australia.

Sejak masa Sultan Hasanuddin (1653-1669), kapal-kapal pinisi menguasai Teluk Carpentaria, Darwin untuk mencari Teripang. Kemudian pendatang muslim ini berinteraksi dengan Suku Aborigin, dan beranak pinak hingga melahirkan Suku Aborigin Marege yang berbahasa Melayu. Catatan sejarah membuktikan bahwa Islam telah lama masuk Australia dan disampaikan secara damai oleh muslim Nusantara. Maka sungguh tak tepat jika Islam dikaitkan dengan kekerasan dan terorisme. [MNews/Rgl]

Sumber foto: Republika

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *