[Ramadan Sedunia] Ramadan di Jepang, Mendulang Yen dengan Wisata Halal

[Ramadan Sedunia] Ramadan di Jepang, Mendulang Yen dengan Wisata Halal

Muslimah News, RAMADAN SEDUNIA — Di Jepang, berpuasa disebut dengan danjiki. Artinya, aktivitas tidak makan dan minum yang biasa dilakukan para biksu Buddha. Durasi puasa di Jepang lebih panjang daripada di Indonesia, yaitu sekitar 16 jam.

Menjelang Ramadan, muslim Jepang berkumpul di Islamic Center di Tokyo untuk membentuk kepanitiaan agenda Ramadan. Selain agenda salat berjemaah, berbagai acara pun digelar, seperti dialog keagamaan, buka puasa bersama, dan pembagian buku-buku islami.

Untuk berbuka puasa, masjid-masjid di Jepang menyajikan makanan khas dari berbagai negara secara gratis. Namun, mayoritas menu makanan adalah khas Timur Tengah dan Turki, meski ada juga makanan Barat berupa spaghetti dan makaroni. Buka puasa dilakukan dalam dua tahap, yaitu makan takjil setelah azan magrib dan makan besar setelah selesai salat magrib.

Selama Ramadan, muslim di Jepang tetap bekerja karena tidak ada hari libur. Bahkan, ketika Lebaran pun demikian. Namun biasanya, muslim Jepang mengajukan cuti ketika Idulfitri untuk berkumpul bersama keluarga. Muslim di Jepang merupakan minoritas, tapi jumlah mereka kian meningkat. Pada akhir 2019, jumlah umat Islam di Negeri Sakura sebanyak 230 ribu, termasuk 50 ribu orang Jepang yang memeluk Islam.

Meningkatnya jumlah muslim mendorong pembangunan masjid, tempat salat, dan restoran makanan halal. Saat ini, Jepang memiliki 110 masjid untuk beribadah. Salah satunya, masjid yang cantik di Prefektur Gifu. Berlokasi tidak jauh dari kampus Universitas Gifu, Masjid Bab Al-Islam Gifu dapat ditempuh hanya dengan lima menit bersepeda dari kampus. Masjid ini bergaya khas Timur Tengah dengan kubah putih yang tampak begitu cantik, terutama di malam hari.

Selama bulan Ramadan, umat Islam di Gifu yang umumnya berasal dari negara Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, dan Malaysia melakukan kegiatan berbuka puasa bersama.

Islam masuk ke Jepang pada 1920-an melalui imigrasi beberapa ratus muslim Turki dari Rusia setelah revolusi Rusia. Pada 1930, jumlah pemeluk Islam di Jepang mencapai sekitar 1.000 orang. Jumlah mereka terus berkembang karena adanya migrasi, lahirnya anak-anak di keluarga muslim, dan masuk Islamnya warga asli Jepang.

Sebagai upaya dakwah, komunitas muslim di Jepang menyelenggarakan program dialog interaktif di mana pengurus masjid melakukan diskusi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Islam, program “makan malam bulanan” di masjid bersama masyarakat lokal, program “kunjungan ke masjid”, pembinaan komunikasi antara pengurus masjid dan kantor polisi setempat, dan study group bersama para peneliti Jepang untuk memahami berbagai fenomena di kawasan Timur Tengah.

Satu hal yang masih menjadi persoalan adalah terkait pemakaman karena tradisi orang Jepang ketika meninggal adalah dikremasi, padahal ini merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Di seluruh Jepang saat ini hanya ada 5 lahan makam muslim, yakni di Tokyo, Kobe, Hokkaido, Kanto dan di Prefektur Yamanashi. Namun, mengingat makin besarnya jumlah muslim, lahan makam yang tersedia tidak lagi memadai. Komunitas Muslim di sana telah bekerja sama dengan komunitas Buddha setempat untuk mengusahakan lahan makam. Namun, upaya tersebut ditolak oleh masyarakat lokal.

Satu hal yang patut disyukuri, masyarakat Jepang makin ramah terhadap muslim. Selain karena faktor dakwah, juga karena faktor ekonomi, yaitu upaya Jepang untuk menjaring turis muslim. Sesuai data Global Muslim Travel Index 2019, pangsa turis muslim di dunia sekitar 140 juta pelancong dan membelanjakan US$189 miliar. Untuk meraup pangsa pasar ini, Jepang berusaha menjadikan dirinya sebagai moslem-friendly country bagi pelancong, dengan berbagai fasilitas seperti hotel syariah, restoran halal, tempat salat di berbagai lokasi, dan program-program IT untuk kenyamanan para turis muslim. Di samping itu, Jepang pun memberikan fasilitas bebas visa untuk negara-negara muslim, termasuk Indonesia.

Wisata halal yang dikembangkan Jepang ini merupakan hal positif dan memang tengah menjadi tren dunia saat ini. Negara lain yang juga menggiatkan wisata halal adalah Korea Selatan. Indonesia sebagai negara mayoritas muslim harusnya lebih terdepan dalam pengembangan wisata halal. Bahkan, sebaiknya tak hanya wisata yang dibuat halal sesuai syariat, semua aspek kehidupan tentunya juga harus dibuat halal dengan penerapan syariat Islam kafah. [MNews/Rgl]

Sumber foto: Council of European Muslims

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *