Muslimah News, INTERNASIONAL— Pakar hukum dan masyarakat Prof. Suteki, S.H., M.Hum. meminta umat Islam waspada karena Barat telah mengubah strategi perang. Hal ini ia katakan terkait perkembangan islamofobia dan kebijakan dunia untuk memeranginya dalam “Islamophobia Sebagai Basis Kebijakan dan Kajian” di kanal Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (23/4/2022).
“Kita harus waspada. Saat ini ada perkembangan luar biasa di level dunia terhadap islamophobia dengan munculnya kebijakan memerangi islamofobia 15 Maret lalu. Amerika—yang dikatakan sebagai polisi dunia—telah mengubah strategi perang. Sebelumnya sangat konfrontatif, sekarang kooperatif,” kupasnya.
Menurutnya, seolah dunia ini memasuki era damai, dalam arti perbedaan dalam Islam dan ajarannya seolah dihargai. “Mengapa demikian? Karena Amerika yang disebut Raja Islamofobia sudah mengesahkan undang-undang untuk memberantas islamofobia. Menteri Kehakiman Swedia telah mengeluarkan perintah untuk menangkap semua penghina Islam. Kemudian PBB juga sudah menetapkan 15 Maret sebagai Hari Anti Islamofobia,” jabarnya.
Berdamai?
Hanya saja, Prof. Suteki mengkritisinya dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
“Cukupkah itu sebagai jaminan bahwa mereka sudah berdamai dan akan melindungi umat Islam? Atau menjamin Islam akan berkembang di daerah yang sudah mendeklarasikan gerakan anti islamofobia? Apakah kebijakan ini sekadar respons strategis konflik Rusia-Ukraina? Karena dari konflik Rusia-Ukraina ini bisa dikatakan tatanan dunia mulai berubah. Barat makin gelisah karena Rusia banyak didukung oleh umat Islam. Kita pun masih bertanya, betulkah Rusia itu mendukung atau membela umat Islam?” tanyanya bertubi.
Selanjutnya, ia juga menilai kondisi di dalam negeri. “Apakah pemerintah dan kelompok-kelompok yang memusuhi Islam sudah hilang kecurigaannya terhadap umat Islam? Saya kira tidak bisa dikatakan begitu,” ujarnya.
Ia mencontohkan apa yang terjadi di Sumatera Barat, ada pernyataan dari D3nsus 88 bahwa jaringan N11 berupaya menggulingkan pemerintahan yang ada sebelum 2024 dengan berbekal golok.
“Di sisi lain terhadap KKB di Papua terkesan sangat lambat ditangani. Persoalan N11 ini pun terkait dengan isu Khilafah. Kemudian terkait kasus “AA”, ada pihak-pihak yang menuding ini kasus ini dilakukan kelompok radikal yang memicu pengeroyokan. Nantinya, ini akan menyasar kelompok-kelompok yang mengusung Khilafah. Jadi, tampaknya di negeri ini belum berhenti bersikap islamofobia,” sindirnya.
Prof. Suteki juga memandang islamofobia diduga kuat mendasari kebijakan di negeri ini, seperti di lingkungan ASN, penegakan hukum di kepolisian terkait tindak pidana yang dihubung-hubungkan dengan kekhalifahan.
“Jadi, fobia ini merupakan psikologi abnormal. Islam pun bisa ditakuti oleh orang yang mengidap islamofobia, baik ajarannya atau orangnya bisa dianggap berbahaya dan membahayakan atau monster yang menakutkan. Padahal, Islam tidak salah. Namun, dikondisikan seolah Islam adalah sesuatu yang menakutkan dengan cara menghubungkannya dengan pengeboman, perang, pembunuhan, penyembelihan, dan kekerasan lainnya,” paparnya.
Sandiwara?
Oleh sebab itu, jelas Prof. Suteki, saya curiga mereka bisa jadi bersandiwara, pura-pura baik terhadap umat Islam. “Mengapa perlu curiga? Karena posisi mereka dari awal sebagai musuh Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang kafir itu tidak akan rida membiarkan umat Islam sampai bertekuk lutut kepada ajaran mereka,” cetusnya.
Ia menyatakan, pada prinsipnya kita bisa berasumsi bahwa apa yang dilakukan AS dan sekutunya sebenarnya dalam rangka menyukseskan program moderasi atau deradikalisasi ajaran Islam. “Mereka punya kebijakan ini, tetapi tidak pernah berhenti memusuhi Islam,” ungkapnya.
Sementara itu, lanjutnya, kalau bicara tentang moderasi, di negeri ini yang diutamakan adalah Islam garis tengah. “Padahal, Islam garis tengah ini basisnya sekularisme, sedangkan yang dituntut terhadap umat Islam adalah Islam kafah,” terangnya..
Jadi, ia menekankan, kebijakan atau resolusi dunia tentang anti islamofobia bukanlah solusi, melainkan peluang memastikan penguatan Islam wasathiyah atau jalan tengah dengan isu moderasi Islam.
“Kita jangan terjebak oleh sandiwara mereka karena dalam sejarahnya Barat memiliki dendam terhadap umat Islam. Ini sandiwara untuk menyembunyikan permusuhan Barat yang takut akan kebangkitan Islam. Ibarat musang berbulu domba,” tukasnya..
Meskipun begitu, ia menegaskan, kebenaran pasti akan tegak. “Habis gelap terbitlah terang, tetapi gelap tidak akan berubah menjadi terang ketika kita tidak pernah menghadirkan setitik cahaya. Dan cahaya itu adalah kebenaran Islam,” tandasnya. [MNews/Ruh]
Sumber foto: iStock

Maasyaalloh..Allohuakbar