[Kabar] Kenaikan Harga Bahan Pokok, Ratu Erma: Keserakahan para Kapitalis dan Keabsurdan Kemampuan Penguasa

[Kabar] Kenaikan Harga Bahan Pokok, Ratu Erma: Keserakahan para Kapitalis dan Keabsurdan Kemampuan Penguasa

Muslimah News, NASIONAL — Menanggapi kenaikan harga berbagai bahan pokok yang cukup melonjak, aktivis muslimah Ratu Erma Rachmayanti menyatakan ada keserakahan para kapitalis dan keabsurdan kemampuan penguasa dalam mengendalikan harga.

Hal tersebut ia kemukakan dalam “Kenaikan Harga Jangan Dianggap Biasa, Ini adalah Kejahatan Penguasa atas Rakyatnya” di sebuah podcast, Selasa (5/4/2022)

Ia menilai memang tidak bisa dinafikan bahwa sebelumnya telah terjadi pandemi yang mengganggu rantai pasok.

“Akibatnya, setelah pandemi akan terjadi lonjakan permintaan input dan bahan baku. Nah, ini mengakibatkan tingginya pengangkutan barang-barang tersebut yang menyebabkan naiknya harga transportasi. Belum lagi, untuk mengejar ketertinggalan produksi di masa pandemi kemarin, banyak pabrik bekerja cepat sehingga meningkatkan permintaan energi,” urainya.

Kemudian, tambahnya, ada faktor kenaikan harga minyak global. “Terjadinya konversi bahan yang sebelumnya dari fosil menjadi komoditas pertanian dan perkebunan. Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan harga-harga meningkat,” ujarnya.

Alasan Pembenaran

Hanya saja, Ratu Erma mengkritisi pernyataan pemerintah tentang kenaikan harga sebagai sesuatu yang wajar karena menyesuaikan harga keekonomian dengan harga global.

“Sebenarnya ini tidak bisa menjadi alasan pembenaran karena umat Islam di negeri muslim memiliki sumber daya alam dan elemen-elemen sumber daya yang sungguh sangat besar sehingga bisa menjadi basis industri dunia,” terangnya.

Bahkan, lanjutnya, posisi strategisnya memudahkan untuk bisa mendistribusikan sumber daya alam ke berbagai wilayah dunia.

“Tetapi apa yang terjadi? Penguasa negeri muslim—termasuk di negeri ini— lemah kemampuannya. Tidak memiliki persiapan serta pengetahuan untuk mengantisipasi situasi krisis. Bahkan, yang lebih dasar lagi adalah tidak punya kedaulatan atas pangan dan kondisi bangsanya sehingga menyebabkan bangsa ini terbelakang secara ekonomi,” kritiknya.

Ia pun menyayangkan sumber pemasukan negara hanya dari pajak. “Yang mereka tahu hanyalah menarik pajak, pajak, dan pajak dari rakyat. Sedangkan, sumber daya alam yang sedemikian kayanya itu hanya bisa mereka gadaikan kepada orang asing” ungkapnya miris.

Peran mereka, sambungnya, hanya sebagai “penjaga tanah” dan tidak melihat potensi sumber daya manusia yang besar ini sebagai kekuatan intelektual untuk mengoptimalkan sumber daya alam.

“Sebaliknya, hanya dipandang sebagai beban demografis yang harus dikurangi atau hanya menjadi pekerja bagi perusahaan-perusahaan kapitalis yang mengelola sumber daya alam di negeri ini,” cetusnya.

Apalagi, ungkapnya, penguasa muslim ini dalam hubungan internasional hanya tergantung saja. “Akibatnya, generasi muslim menjadi korban dolar dan manufaktur. Harga-harga komoditas negeri muslim pun ditentukan harga global yang ditetapkan pemimpin nonmuslim,” ucapnya.

Terburuk

Selanjutnya Ratu Erma mengatakan ada yang terburuk dari sifat penguasa negeri muslim. “Yakni, berdiri tegak menghalangi jalan penerapan Islam yang mulia. Hukum-hukum Islam diabaikan, sistemnya juga begitu,” paparnya.

Padahal, imbuhnya, Islam satu-satunya yang mampu menjamin kekuatan negeri-negeri muslim. “Namun, mereka menyia-nyiakan perintah Islam bahwa penguasa muslim haruslah independen, adil dalam melakukan pemerataan distribusi, dan mencegah keserakahan para kapitalis global. Ini dikhianati. Jangankan mereka memusuhi para kapitalis, malah justru bergandengan tangan dan memfasilitasi keserakahan itu,” tukasnya.

Ia mengutip firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 28,

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?”

Jadi, menurutnya, inilah kejahatan paling keji yang dilakukan para penguasa negeri muslim, terlepas dari situasi krisis global yang mempengaruhi naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

“Umat manusia, khususnya umat Islam, akhirnya tidak pernah keluar dari krisis yang dialami dan tidak pernah lepas menjadi korban dari keserakahan para kapitalis global. Kecuali, dengan berlepas diri dari hukum-hukum sekuler dan kembali kepada hukum-hukum Allah yang akan membawa kebaikan dunia dan akhirat kelak,” tandasnya.

Ia mengatakan bahwa Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 96,

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Jadi, tegasnya, kenaikan harga-harga tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang wajar dengan berbagai alasan pembenar. “Tetapi, ini karena sumber daya alam negeri muslim telah diserahkan pengelolaannya kepada orang kafir,” tutupnya. [MNews/Ruh]

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *