[Editorial] Menunggu Keadilan untuk Palestina

[Editorial] Menunggu Keadilan untuk Palestina

Muslimah News, EDITORIAL — Ramadan benar-benar menjadi bulan perjuangan bagi rakyat Palestina. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, mereka harus melewati bulan mulia ini di tengah kekejaman Zionis Israel yang kian menggila.

Pada Sabtu, 9 April 2022 lalu, pasukan Israel kembali menyerang kamp pengungsian Jenin di Tepi Barat. Tak tanggung-tanggung, yang diturunkan adalah pasukan khusus dari unit elite Shayetet 13 Angkatan Laut Israel. Target mereka, memburu pelaku teror di Tel Aviv bernama Ra’ad Fathi Hazem.

Cari-Cari Alasan

Pada Kamis (7/4) sebelumnya, Ra’ad diketahui menyerang sebuah bar di Tel Aviv. Setidaknya 3 orang Israel tewas dan 12 luka-luka. Namun, menembak pelaku saja tidak cukup, pemerintah Zionis membebaskan tentaranya untuk melakukan tindakan bersenjata tanpa batas atas rakyat Palestina.

Bahkan tidak hanya tentara, warga Yahudi pun diizinkan untuk secara masif merebut dan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina. Kalau perlu, mereka diizinkan membunuh warga Palestina yang diduga berbahaya.

Pemerintah Israel berdalih, langkah represif ini adalah untuk menghalangi penyerangan di masa depan. Namun, banyak pihak menilai tindakan ini merupakan hukuman kolektif atas perlawanan rakyat Palestina yang nyatanya tak kunjung padam.

Pasca perang 11 hari antara Israel dan Palestina yang terjadi tepat 11 April tahun 2021 lalu, ketegangan memang terus meningkat. Pasukan Israel yang bersenjata canggih beserta penduduk Yahudi kian masif meneror warga Muslim dan mencari gara-gara untuk mengusir mereka.

Kondisi ini tak hanya di Jenin yang dikenal sebagai pabrik para militan Islam saja. Di Jalur Gaza pun sama. Peristiwa bentrokan kerap terjadi, baik antar warga Muslim dengan warga Yahudi, atau antar warga Muslim dengan tentara Zionis.

Akibatnya, puluhan warga Palestina mati syahid sejak Januari tahun ini. Sementara pada penyerangan terakhir di Jenin ini, tiga orang Muslim ditembak mati. Di antaranya dua orang perempuan yang video penembakannya beredar luas di dunia maya.

Ramai-Ramai Mengkhianati Palestina

Mirisnya, kekejaman ini terjadi di tengah kian mesranya hubungan Israel dengan para pemimpin muslim di dunia. Mereka seakan beramai-ramai meninggalkan rakyat Palestina memperjuangkan nasibnya sendirian.

Sekitar dua minggu sebelumnya, tepatnya pada 28 Maret 2022, telah terjadi pertemuan antara perwakilan sejumlah negara-negara Arab di Negev, Israel. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari negara Maroko, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain, Israel, dan Amerika Serikat. Mereka membahas tentang perluasan kerjasama di bidang energi, lingkungan dan keamanan, serta program nuklir Iran.

UEA dan Bahrain sendiri telah menormalisasi hubungan dengan Israel sejak 2020 lalu. Saat itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump menginisiasi Perjanjian Abraham dengan latar belakang kepentingan komersial dan kekhawatiran bersama tentang Iran.

Adapun Mesir sudah jauh lebih dulu menjalin kemesraan sejak 1979. Sedangkan, Maroko melakukan normalisasi hubungan dengan Israel beberapa saat setelah Bahrain dan UEA. Juga atas inisiasi Amerika.

Di luar pertemuan tersebut, normalisasi juga nampak dari kunjungan pejabat dan pemimpin Israel ke beberapa negara Arab dan Islam lainnya. Salah satunya kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada 9 Maret 2022 di Ankara.

Presiden Erdogan menyatakan negaranya dan Israel berusaha menghidupkan kembali dialog politik bilateral berdasarkan kepentingan bersama. Sementara Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berkata, “Sambutan hangat untuk Presiden Israel Isaac Herzog, lagu kebangsaan Israel di Istana di Ankara, momen yang menyenangkan.”

Semua realitas ini tentu sangat memilukan. Terlebih selama ini negeri-negeri muslim dianggap sebagai mitra strategis bagi rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak-hak mereka.

Namun, rupanya kedok mereka makin terbuka. Selama ini jika tidak bersama Inggris, mereka pasti berjalan bersama Amerika. Suara lantang mereka dalam soal Palestina, hanyalah sandiwara untuk menutup kerakusan atas dunia. Mereka lebih takut kepada tuan penjajahnya daripada kepada kaum muslim dunia dan Tuhannya.

Bahkan, mereka lantang mengutuk Rusia dalam aksinya di Ukraina demi menyenangkan Amerika. Sementara mereka diam atas pembantaian dan kezaliman yang dipertontonkan Israel pada Muslim Palestina dari masa ke masa.

Butuh Kepemimpinan Islam Sesungguhnya

Realitas ini semestinya makin menyadarkan kita bahwa umat ini tidak pantas berharap kepada semua pihak yang berdiri di kubu Inggris dan Amerika. Karena faktanya, tidak ada satupun pemimpin (Muslim) dunia yang serius membela Palestina.

Tidak heran jika masalah Palestina tidak kunjung selesai sehingga berharap pada mereka hanyalah buang-buang waktu saja. Bahkan, sama halnya membiarkan kezaliman kian merajalela.

Terlebih, bangsa Israel tidak mengerti bahasa manusia. Yang mereka pahami hanyalah bahasa senjata. Maka, perang atau jihadlah yang bisa menghentikan mereka. Bukan perjanjian-perjanjian semu yang nyatanya kian mengokohkan penjajahan atas Palestina dan melanggengkan hegemoni kapitalisme atas dunia.

Namun, jihad defensif yang selama ini sudah dilakukan oleh bangsa Palestina ternyata tidak cukup untuk mengusir mereka. Bangsa Palestina benar-benar butuh kepemimpinan Islam yang siap menjadi benteng penjaga dan memobilisir kekuatan muslim di seluruh dunia.

Itulah Khilafah Islamiah yang mengikuti metoda kenabian. Sebuah kepemimpinan politik Islam yang kemunculannya sangat ditakuti negara-negara adidaya. Bahkan, telah mendorong mereka mengerahkan segala daya untuk menghapus cita-cita penegakkannya.

Mereka berusaha menjadikan ide dan gerakan yang memperjuangkannya sebagai musuh bersama. Lalu memobilisir kekuatan anteknya melalui agenda perang melawan teror dan pengarusderasan moderasi beragama.

Memang tak ada jaminan kapan Khilafah yang dinantikan ini akan berdiri tegak. Entah berapa lama lagi bangsa Palestina harus bersabar dan berjuang sendirian melawan penjajahan.

Namun, masa itu pasti akan tiba. Allah Swt. nampaknya sedang memberi kita kesempatan untuk berkontribusi dalam penegakkannya. Berjuang di akhir zaman, yang pahalanya 50 kali lipat pahala para Sahabat pada masa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.

Hari ini, tugas kita hanyalah berusaha. Serius menapaki jalan perjuangan sesuai yang Rasul contohkan. Selebihnya, Allahlah yang akan menyempurnakan hasil sesuai yang dijanjikanNya.

Allah Swt. berfirman,

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105) [MNews/SNA]

Sumber foto: arabnews

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *