[Kabar] K.H. Rokhmat S. Labib: Adat Istiadat Bukan Dasar Kebajikan

[Kabar] K.H. Rokhmat S. Labib: Adat Istiadat Bukan Dasar Kebajikan

Muslimah News, NASIONAL—Ulama aswaja K.H. Rokhmat S. Labib menegaskan kearifan lokal atau adat istiadat bukanlah dasar kebajikan.

“Kebaikan itu harus berdasarkan akidah Islam dan sesuai syariat-Nya. Sedangkan, meskipun budaya, adat istiadat, kearifan lokal, kearifan nasional, bahkan kearifan internasional yang disepakati, maka tidak ada nilainya ketika bertentangan dengan Islam,” ungkapnya dalam “Ketakwaan dan Kearifan Lokal (Adat Istiadat)” di Khilafah Channel Reborn, Kamis (31/3/2022).

Ia pun mengutip firman Allah,

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.’ Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS Al-Baqarah: 189).

Kiai Labib menerangkan asbabun nuzul dari ayat tersebut adalah adanya adat istiadat kaum Anshar pada masa jahiliyah, yaitu ketika pulang dari haji masuk ke rumahnya bukan melalui pintunya. Sehingga, lanjutnya, untuk melanggar hal tersebut tidak mudah dan butuh keberanian.

“Namun, kemudian ada orang Anshar yang pulang melalui pintu yang seharusnya, lalu merasa bersalah. Maka, turunlah ayat ini yang memberikan penjelasan bahwa itu bukanlah al-birr (kebajikan) jika memasuki rumah bukan melalui pintunya. Walaupun saat itu dianggap baik oleh adat istiadat orang Madinah, sebelum masuk Islam, yang diajarkan dari generasi ke generasi dan mengakar kuat,” jelasnya.

Jadi, katanya, ayat ini menceritakan tentang adat istiadat yang berlaku yang diterima dari nenek moyang mereka, lalu mereka ambil sebagai sesuatu yang harus diamalkan.

“Hanya saja kemudian, ayat ini memberikan patokan bahwa apa yang diajarkan oleh nenek moyangnya itu bukanlah kebajikan. Kebajikan adalah bagi orang bertakwa,” ujarnya.

Atau, imbuhnya, dengan kata lain dasar kebajikan bukan adat istiadat, tetapi Islam. “Baik dalam perkara akidah, maupun perkara amal,” terangnya.

Perkara Berat

Kiai Labib juga menyatakan persoalan adat istiadat ini dikabarkan pula dalam QS Al-Baqarah: 170,

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.’ Mereka menjawab, ‘(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).’ Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.”

Karenanya, ia menegaskan, adanya beberapa ayat tentang adat istiadat, seperti juga dalam Al A’raf ayat 28 dan ayat lainnya, menunjukkan ini perkara berat.

Ia lantas menyatakan, kemudian Allah memberikan langkah selanjutnya agar masuk melalui pintu yang seharusnya, jangan pedulikan apa yang didapatkan dari nenek moyangmu.

“Karena ketika Allah mengatakan itu bukan kebajikan, maka bukan kebajikan. Selanjutnya, Allah menegaskan agar bertakwalah kepada Allah, kerjakan perintah-Nya, jauhi larangan-Nya. Bukan perintah dan larangan nenek moyang, kecuali masih bersesuaian dengan Islam,” ucapnya.

Ia menekankan dengan takwalah, manusia akan beruntung, yaitu mendapat pahala dan Surga. “Dan yang bisa memberikan itu hanya Allah. Apakah nenek moyang bisa memberikan pahala dan surga? Atau nenek moyang punya surga dan neraka?” tanyanya lugas.

Bertentangan

Kiai Labib pun mencontohkan adat istiadat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan akidah Islam.

“Misalnya, meminta bantuan kepada selain Allah untuk menghentikan hujan. Kalau mau disebut kearifan lokal atau adat istiadat, jelas tidak boleh, apalagi dibayar oleh negara. Berbeda dengan salat istisqa—yang memang perintah Allah—dengan meminta kepada Allah agar hujan dihentikan,” urainya.

Ia mempertanyakan bagaimana mungkin menyamakan antara yang meminta kepada Allah dengan yang meminta kepada selain Allah.

“Bukan hanya soal hujan, di semua perkara kita hanya meminta kepada Allah. Bahkan, salafus saleh pun ketika sandalnya putus, meminta kepada Allah dalam rangka menunjukkan kelemahan diri seorang hamba,” paparnya.

Oleh karenanya, ia mengingatkan, kemusyrikan yang dibungkus dengan istilah-istilah yang seolah indah, jelas merupakan penipuan. “Yang dengan itu orang bisa salah dan terjerumus. Menjerumuskan orang ke dalam perbuatan dosa adalah tindakan dosa. Bahkan, menjadi fatal kalau sampai terjerumuskan ke dalam kesyirikan,” cetusnya.

Untuk itu, ia menasihati, seorang muslim harus menjadikan Islam sebagai pedoman menilai mana yang baik dan mana yang buruk.

“Penilaiannya tidak boleh atas akal dan hawa nafsu manusia, baik manusia sekarang maupun yang terdahulu. Jika tidak berasal dari wahyu, berarti dari akal dan hawa nafsu. Ketika bertentangan, baik yang belum maupun yang sudah mengakar, harus dihilangkan karena dapat merusak akidah,” tegasnya.

Tidak hanya adat istiadat, tambahnya, tetapi juga hukum-hukum yang tidak sesuai Islam.

“Seperti di negeri ini, sebenarnya yang berlaku adalah sistem yang diimpor dari Belanda, Belanda dari Prancis, dan Prancis dari Romawi. Ini Jelas bertentangan dengan Islam. Ketentuannya adalah Islam, jangan dibalik justru Islam yang diadili. Jangan akal dan nafsu dikedepankan, sedangkan Al-Qur’an, petunjuk dari Allah, malah dikebelakangkan,” tutupnya. [MNews/Ruh]

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *