Muslimah News, EDITORIAL – Radikalisme masih dianggap sebagai momok berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Memasuki Ramadan, BNPT menyambangi Kantor Pusat Muhammadiyah untuk memperkuat pengarusan moderasi beragama.
Keduanya sepakat bahwa penyebaran paham radikal harus ditangkal. Salah satu gagasan yang dianggap radikal adalah keinginan mengganti haluan negara dengan sistem agama.
Menurut keduanya pula, gagasan seperti ini merupakan kesalahan fatal. Indonesia adalah negara kesepakatan, dan ini sudah final. Para ulama sudah sepakat menjadikan Indonesia sebagai negara Pancasila. Oleh karenanya, moderasi beragama menjadi model yang sangat cocok dalam menangkal narasi radikal.
Stigmatisasi Islam
Patut diduga, sistem agama yang dimaksud adalah sistem Khilafah dan ajaran Islam kafah. Mengingat penolakan gagasan ini senantiasa lekat dengan pengarusan Islam moderat.
Menuding Khilafah sebagai gagasan radikal tentu sangat gegabah karena Khilafah adalah ajaran Islam, sedangkan penerapan ajaran Islam kafah adalah satu-satunya jalan keselamatan.
Khilafah memang tidak termasuk rukun iman. Juga bukan rukun Islam. Namun, para ulama menyebut Khilafah sebagai mahkota kewajiban. Bahkan Rasulullah saw. menyifatinya sebagai simpul utama tempat terikatnya ajaran-ajaran Islam.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ
Dari Abu Umamah al-Bahili dari Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai, maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah kekuasaan, dan yang paling akhir adalah salat.” (HR Ahmad)
Nyatanya, syariat Islam kafah memang tidak bisa dijalankan tanpa institusi Khilafah. Hukum-hukum Islam tentang sanksi, ekonomi, moneter, pergaulan, politik, pendidikan, informasi, media massa, polugri, hankam, jihad, dan lain-lain hanya akan menjadi gagasan tak bermakna jika tidak ditegakkan.
Padahal, tidak ada pilihan bagi seorang muslim selain melaksanakan Islam secara keseluruhan. Karena jika tidak demikian, berarti dia telah mengikuti jalan setan. Allah taala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208)
Yang fatal justru menstigmakan Khilafah dan Islam kafah sebagai ide radikal. Upaya menjauhkannya dari umat, sama halnya dengan upaya menjauhkan umat dari kebaikan dan keberkahan.
Terbukti saat umat hidup tanpa penerapan Islam kafah, berbagai keburukan dan krisis multidimensi terus menimpa umat Islam. Bahkan umat Islam kian kehilangan jati dirinya sebagai sebaik-baik umat dan umat penegak keadilan. Mereka terpecah belah dan terjajah. Allah Swt. berfirman,
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Islam Moderat, Jalan Ketakwaan?
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan dan kebahagiaan hakiki ada pada ketakwaan, bukan terletak pada materi atau hal-hal berbau duniawi. Inilah yang bahkan menjadi salah satu tujuan diwajibkannya ibadah saum saat Ramadan, yakni mewujudkan pribadi dan umat yang bertakwa kepada Allah Swt..
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata bahwa takwa kepada Allah bukan hanya ditandai dengan seringnya puasa pada siang hari dan seringnya salat pada malam hari ataupun kedua-duanya. Takwa kepada Allah adalah meninggalkan yang diharamkan-Nya dan melakukan yang diperintahkan-Nya.
Begitu pun Ibnu Qayyim pernah berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab (ikhlas hanya mengharap rida Allah), baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya. Ia akan melakukan apa yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.”
Dengan demikian, meraih takwa tidak semudah yang kita kira. Tidak bisa hanya dengan salat dan puasa, atau memperbanyak sedekah atau akhlak baik saja. Karena takwa adalah buah keimanan yang maknanya begitu dalam. Ia mewujud dalam ketaatan mutlak pada seluruh titah Rabb-nya. Tidak hanya dalam urusan ibadah dan akhlak, tetapi di seluruh aspek kehidupan.
Takwa seperti inilah yang menjamin seseorang dan umat jauh dari kesempitan. Jalan keluar akan terbuka lebar. Bahkan, kehidupan individu dan umat yang takwa akan diliputi dengan selaksa keberkahan.
Allah Swt. berfirman,
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS sl-A’raf:96)
Hakikat takwa seperti ini tentu akan sulit mewujud dengan pengarusan gagasan Islam moderat. Karena gagasan ini tidak memberi tempat bagi penerapan Islam secara mutlak. Islam moderat bahkan mereduksi ajaran Islam hanya sebatas ibadah dan nilai-nilai moral. Sementara hukum-hukum Islam menyangkut muamalah dan uqubat harus disingkirkan.
Ide ini lahir dari sikap kompromi terhadap nilai-nilai Barat. Sekaligus lahir dari sikap apologetis umat di hadapan serangan pemikiran Barat. Ide ini menghendaki umat Islam menjadi entitas yang inklusif, pluralis, relativis, sekularis, bahkan liberalis. Mereka lalu menyebutnya sebagai Islam yang kekinian dan bisa menjawab tantangan zaman.
Padahal sejatinya, Islam seperti ini menjadi alat untuk menyukseskan agenda Barat. Mereka menyandingkannya dengan perang melawan terorisme yang hakikatnya merupakan perang terhadap kebangkitan peradaban Islam.
Oleh karenanya, bagaimana bisa Islam moderat mewujudkan ketakwaan? Bagaimana bisa pula, Islam moderat mengantarkan umat pada kebangkitan?
Solusi yang Umat Butuh
Jika ada yang mengatakan bahwa negeri ini sudah sesuai dengan Islam, jelas tidak sesuai kenyataan. Bukankah di negeri ini riba, zina, dan khamar dilegalkan? Bukankah di negeri ini para kriminal dimanjakan? Bukankah di negeri ini para penjahat pun bisa dengan mudah duduk di kursi kekuasaan? Bahkan pihak asing pun diberi karpet merah penjajahan!
Dalih bahwa negeri ini adalah hasil kesepakatan para ulama pun masih bisa diperdebatkan. Benarkah para ulama yang dulu berjuang menghendaki hukum-hukum Islam dicampakkan? Lalu, jika mereka masih hidup pada masa sekarang, apakah mereka akan merasa senang?
Sistem demokrasi yang dijalankan hari ini jelas-jelas tidak mengizinkan hukum-hukum Allah diberlakukan. Sistem ini tegak di atas asas sekularisme yang mengagungkan kebebasan, sekaligus menyingkirkan peran agama dari kehidupan. Kalaupun diberi ruang, agama hanya jadi pilihan dan bukan jadi kewajiban.
Tidak heran jika dalam demokrasi, ibadah mahdhah diperkenankan, tetapi riba dan perjudian jadi pilar perekonomian. Kekayaan milik umum pun boleh dikuasai individu, bahkan asing. Padahal, Islam menetapkannya sebagai milik rakyat secara keseluruhan.
Begitu pun segenap ekspresi kebebasan. Sepanjang tidak merugikan orang lain, “fine-fine” saja dipertontonkan. Termasuk berpindah-pindah agama dan aktivitas menyebarluaskan kesesatan.
Inilah yang menguatkan tesis bahwa sejatinya sistem demokrasi kapitalisme neoliberal adalah pilar penjaga bagi penjajahan. Bukan penjajahan fisik, tetapi penjajahan budaya dan pemikiran di dunia Islam.
Wajar jika berbagai kemungkaran, krisis moral, ketidakadilan, krisis ekonomi berkepanjangan, ketergantungan kepada asing, bahkan keterjajahan terus mewarnai kehidupan umat Islam. Hingga pascaruntuhnya institusi Khilafah, umat Islam jatuh terpuruk dalam waktu berkepanjangan.
Pertanyaannya, inikah jati diri umat Islam? Dan inikah cita-cita para ulama yang memperjuangkan kemerdekaan?
Sungguh, umat hari ini tidak butuh moderasi Islam. Mereka justru butuh institusi khilafah sebagai penerap syariat Islam. Tidak hanya sebagai narasi sejarah, tetapi sebagai ajaran yang semestinya segera mereka terapkan dalam kehidupan. Karena keimanan memang menuntut demikian.
Hanya dengan Khilafah, agama, kehormatan, nyawa, dan harta mereka akan terjaga. Karena Khilafah adalah institusi penegak hukum Allah ‘Azza wa Jalla Yang Mahasempurna dan Mahaperkasa.
Menolak Lupa
Sejarah mencatat dengan tinta emasnya, umat ini pernah tampil sebagai umat mulia. Tidak hanya selama satu dua dekade, tetapi belasan abad lamanya. Tidak hanya di Timur Tengah, tetapi hingga Eropa dan Nusantara.
Sepanjang masa itu, lebih dari separuh penduduk dunia merasakan keagungan Khilafah. Hingga mereka yang tidak berislam pun rela tunduk di bawah naungannya yang mulia.
Adalah pantas ulama terdahulu menempatkan penjagaan atas eksistensi negara Khilafah ini dalam urusan yang ma’lumun min ad-diini bi adh-dharuurah. Urusan ini yang semestinya dipahami urgensinya oleh setiap muslim, bahkan ditempatkan sebagai urusan hidup matinya umat Islam.
Jika ada muslim yang tidak peduli dengan perjuangan Khilafah, meragukan kefarduannya, atau meragukan janji Allah tentangnya, atau bahkan membenci perjuangannya dan mencoba mengubur sejarahnya, sudah semestinya dia memeriksa keimanannya.
Alih-alih takwa. Jangan-jangan di sana ada benih-benih kemunafikan, bahkan kekufuran. Maka bagi mereka, cukuplah ayat Allah ini sebagai bahan peringatan,
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا
“Dan kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Akan tetapi, jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.”(QS An-Nisa: 131)
Juga firman-Nya,
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nuur: 63)
Wallahualam bissawab. [MNews/SNA]

MasyaaAllah..
Takwa itu dicapai dengan syariat islam yg kaffah
Takwa itu dicapai dengan syariat islam yg kaffah dan tidak mungkin dengan islam moderat