[Kabar] Gembira Sambut Ramadan, K.H. Rokhmat S. Labib: Perlu Keyakinan dan Pemahaman Islam

[Kabar] Gembira Sambut Ramadan, K.H. Rokhmat S. Labib: Perlu Keyakinan dan Pemahaman Islam

Muslimah News, NASIONAL—Ramadan harusnya disambut dengan gembira. Menurut ulama aswaja, K.H. Rokhmat S. Labib, hal ini dapat terwujud dengan keyakinan dan adanya pemahaman Islam yang baik.

“Bergembira atau tidak, dipengaruhi aspek perasaan yang didasari keyakinan atau akidah seseorang. Ditambah adanya pengetahuan atau pemahaman tentang Islam,” jelasnya dalam Tarhib Ramadan Mubarak yang bertema “Ramadan Makin Berkah dengan Syariah Kafah”, Ahad (27/03/2022).

Kiai Labib menuturkan ketika seseorang meyakini bahwa yang dihadapi akan membawa kebaikan, tentulah akan bergembira. “Tetapi sebaliknya, kalau orang itu meyakini yang dihadapi akan membawa mudarat atau merugikan, tentu bersedih,” ujarnya.

Ia mengatakan sebagai muslim, jika perspektif pertamanya adalah akhirat atau pahala dan dosa, maka pasti benar.

“Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang mencantumkan untung dan rugi yang terkait dengan akhirat. Orang yang merugi adalah yang merugikan diri mereka, keluarga mereka, dan di hari kiamat. Misalnya, ketika seseorang ditawari harta yang melimpah untuk keluar dari Islam dan ia mau, maka meskipun ia memperoleh harta yang banyak, ia menjadi orang merugi. Demikian pula dalam hal ibadah, seperti  meninggalkan ibadah untuk keuntungan materi, maka merugi,” urainya.

Karenanya, ia menyatakan, ketika seseorang sudah berperspektif akhirat yang yakin dengan hari pembalasan dan  memikirkan keuntungan pahala yang akan didapatkannya di syahrul mubarak ini, maka ia sudah pasti bergembira.

“Mengapa demikian? Karena Ramadan itu luar biasa. Di bulan tersebut, diwajibkan puasa sehingga di sepanjang waktu akan terus berpahala. Doa orang yang berpuasa akan dikabulkan, meskipun tidak saat itu juga. Puasa juga akan mendapatkan balasan langsung dari Allah yang tidak terhingga. Ibadah sunah atau nafilah, pahalanya dinaikkan seperti ibadah wajib. Sedangkan, pahala ibadah wajib, dinaikkan juga berkali lipat,” ungkapnya.

Motivasi

Kiai Labib menyampaikan dalam memotivasi semangat, khususnya bagi yang biasa-biasa saja menghadapi Ramadan, maka diarahkan untuk mendapatkan sesuatu. “Seperti firman Allah dalam Ali Imran ayat 133 yang menyatakan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” ungkapnya.

Ia menerangkan pada ayat tersebut tidak disebutkan bersegeralah salat atau jihad, atau bentuk amal lainnya. “Namun, bersegeralah menuju ampunan dan surga, sebuah hasil yang akan didapatkan. Tentu ini akan membuat orang tergugah,” paparnya.

Jadi, ia menasihati, kalau mau bersemangat, bayangkan surga-Nya, bayangkan pahalanya. “Hal itu juga yang membuat para sahabat bersemangat, contohnya dalam berjihad yang dijanjikan surga. Terlebih berjihad di bulan Ramadan. Begitu pula keluarga Yasir yang diminta bersabar menghadapi siksaan sedemikian rupa karena akan mendapat surga, maka mereka pun menjawab kami akan bersabar karena surga itu sudah tampak di depan mata,” ucapnya.

Memang, jelasnya, di bulan Ramadan tubuh akan lebih lemas, tetapi ada semangat lain dari kemauan yang dilandasi keyakinan atas pahala, rida Allah, dan surga.

Pemahaman

Selanjutnya, Kiai Labib mengingatkan, butuh pengetahuan atau pemahaman pula tentang Islam. “Kalau seseorang memahami Islam hanya mengatur tentang ibadah, maka dia hanya akan terikat dengan hukum-hukum ibadah. Namun, kalau ia memahami Islam tidak hanya mengatur tentang ibadah, tetapi semua aspek, maka dia akan terikat dengan seluruh hal yang diatur oleh Islam,” cetusnya.

Maka, imbuhnya, di samping meningkatkan keimanan, mesti meningkatkan pula pemahaman bahwa Islam adalah agama yang lengkap, menyeluruh, termasuk aturan negara di dalamnya.

“Apalagi, ketakwaan itu tidak bisa hanya sekadar dorongan individu atau internal, melainkan perlu dorongan eksternal. Dorongan eksternal paling kuat adalah negara. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan kerusakan rakyat adalah akibat kerusakan penguasa—yang menerapkan aturan atau sistem. Kemudian kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama yang cinta harta dan kedudukan,” tegasnya.

Kiai Labib menguraikan rusaknya ulama akan menjadikannya tidak beramar makruf nahi munkar. “Dia membisu ketika penguasa berbuat kerusakan, bahkan akan membela dan memberikan dalil atas kerusakan itu. Misalnya, riba haram, lalu dicarikan dalilnya untuk membolehkan. Akhirnya, ulama yang rusak ini membuat penguasa menjadi tenang karena merasa tidak melakukan kerusakan atau keburukan. Bahkan, menjadi alat legitimasi penguasa,” tukasnya.

Oleh karenanya, ia mengingatkan kalau ingin kebaikan, ulamanya harus baik yang akan mengingatkan penguasa jika melakukan kerusakan sehingga penguasa dan rakyat pun akan baik.

“Jika penguasa tidak mau diingatkan, maka rakyat yang mendengarkan ulama bisa meminta penguasanya diganti. Selain itu, sistemnya pun harus diubah menjadi sistem yang membawa kebaikan dan keberkahan melalui dakwah terus menerus. Tidak hanya di tingkat individu, tetapi sampai tingkat negara atau dalam fikih disebut Khilafah. Pada akhirnya, terwujudlah berkah dengan syariah kafah dalam naungan Khilafah,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Sumber foto: iStock

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *