“The Game of Nations” di Balik Invasi Rusia terhadap Ukraina

“The Game of Nations” di Balik Invasi Rusia terhadap Ukraina

Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.

Muslimah News, OPINI — Invasi Rusia terhadap Ukraina adalah satu dari sekian keburukan yang dialami dunia di bawah kepemimpinan peradaban barat. Negara-negara besar berseteru menancapkan pengaruhnya dalam konstelasi global. Tidak peduli seberapa besar kerusakan yang terjadi dan seberapa banyak nyawa manusia yang mati, atas nama kepentingan negaranya, militerisasi seolah sah dieksekusi.

Ukraina adalah korban dari “the game of nations” (permainan negara-negara besar). Ini karena pada hakikatnya, perang di Ukraina adalah perang antara Rusia dan AS yang sama-sama memiliki watak imperialis kapitalis. Oleh karena itu, selama dunia dipimpin oleh peradaban Barat, invasi yang menyebabkan jutaan nyawa melayang tidak akan pernah terhenti.

Apa sesungguhnya akar persoalan dalam Krisis Ukraina? Mengapa Rusia menginvasi Ukraina? Siapa yang diuntungkan dalam peperangan ini? Mengapa AS memiliki kepentingan terhadap konflik tersebut? Mampukah PBB, NATO, OKI menyelesaikan konflik? Bagaimana seharusnya sikap negeri muslim?

Jebakan Invasi

Sejak November 2021, Isu serangan Rusia pada Ukraina sudah bergulir. Sebuah citra satelit menunjukkan penumpukan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina. Sebanyak 100.000 tentara bersama dengan tank dan perangkat keras militer lainnya telah siap dimobilisasi. Walaupun pada awalnya Rusia menyangkal, tetapi pada 24/2/2022, Presiden Rusia Vladimir Putin tiba-tiba mengumumkan operasi militernya pada Ukraina. (CNBC Indonesia, 3/3/2022)

Alasan Rusia menyerang Ukraina karena rezim Ukraina saat ini makin merapat pada Barat, terlihat dari sikap politiknya yang ingin bergabung dengan Uni Eropa dan NATO. Tentu hal demikian membuat marah Rusia karena Ukraina merupakan teras bagi Rusia yang langsung berhadapan dengan Eropa sehingga Rusia tidak boleh kehilangan Ukraina demi menjaga keamanan negaranya.

Terlebih, pecahan Uni Soviet yang berada di Eropa timur telah banyak yang merapat dan bergabung dengan NATO, seperti Polandia dan negara-negara Balkan. Tentu Rusia tidak akan tinggal diam. Sebagai negara raksasa di Asia Utara, Rusia membutuhkan negara-negara tersebut untuk membangun kembali kekuatannya agar mampu menandingi AS.

Selain itu, secara historis, pada masa Hitler, Jerman pernah mengancam Rusia. Untuk mengamankan Rusia dari serangan Eropa, Rusia butuh Ukraina sebagai “bumper”. Inilah motif di balik serangan Rusia pada Ukraina.

Namun demikian, beberapa pihak menganggap invasi Rusia terhadap Ukraina sebagai keputusan politik yang buruk. Ini karena Rusia akan membayar kontan kerugian besar, seperti terkurasnya sumber daya Rusia, termasuk politik dan ekonominya, serta berbagai sanksi ekonomi dari negara-negara besar, khususnya Eropa dan AS. Semua itu akan makin memperlemah ekonomi Rusia.

Sanksi ekonomi, misalnya, berupa dikeluarkannya Rusia dari keanggotaan SWIFT yang membuat transaksi internasional Rusia tersendat. Begitu pun perdagangan gas, senjata, dan minyak Rusia pun akan tersendat. Hari pertama invasi, harga saham Rusia langsung turun drastis dan menyebabkan nilai mata ulang Rusia—rubel—anjlok.

Tidak heran jika banyak pengamat mengatakan invasi kali ini sebagai jebakan kedua setelah sebelumnya hal yang sama dilakukan Uni Soviet saat menyerang Afganistan, yang menjadi dugaan kuat penyebab runtuhnya Uni Soviet kala itu. Akankah Rusia bernasib sama?

Perang, Siapa Dalang?

Layanan Darurat Ukraina melaporkan lebih dari 2.000 warga sipil Ukraina tewas selama invasi Rusia. Banyak di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Angka tersebut belum termasuk jumlah tentara yang tewas akibat serangan Rusia. (CNN Indonesia, 3/3/2022)

Ukraina kini porak-poranda. Dilansir dari I-News (25/2/2022), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merasa negaranya telah ditinggalkan dan dibiarkan sendiri menghadapi serangan Rusia. AS yang diharapkan membantu Ukraina telah menyatakan sikapnya untuk tidak mengirimkan pasukan. Presiden AS Joe Biden juga mengatakan hanya akan mengirimkan tentara pada anggota NATO, sedangkan Ukraina belum menjadi anggota NATO. (Tempo 3/3/2022)

Padahal, yang memprovokasi Ukraina untuk reaktif terhadap Rusia adalah AS. Terlihat dari AS yang telah melatih tentara Ukraina dan menyuplai senjata. Hingga akhirnya Ukraina dengan berani menegaskan kembali keinginannya untuk bergabung dengan NATO. Ini yang memicu kemarahan Rusia dan menjadi alasan kuat dilakukannya invasi.

Setelah melihat kerugian yang cukup besar, baik dari sisi Ukraina dan Rusia, lantas siapa sebenarnya dalang di balik adanya invasi ini? Jawabannya bisa kita lihat dari negara mana yang paling banyak diuntungkan.

Menurut pengamat hubungan internasional Farid Wadjdi, yang paling banyak diuntungkan adalah AS. Apa alasannya?

“The Game of Nations”

Invasi Rusia terhadap Ukraina akan menaikkan persepsi ancaman Rusia pada Eropa. Kondisi ini tentu akan makin membuat NATO merasa dibutuhkan. NATO sendiri adalah aliansi militer bentukan AS yang terdiri dari negara Amerika Utara dan beberapa negara Eropa untuk menjaga perdamaian di Kawasan Atlantik Utara dari pengaruh komunis.

Namun, setelah Pakta Warsawa (aliansi militer Blok Timur) bubar, urgensi keberadaan NATO makin dipertanyakan. Dengan adanya konflik Ukraina ini, Eropa dan negara yang bergabung dengan NATO akan kembali merasa memerlukan NATO. Inilah yang mengikat negara-negara Eropa sebagai anggota NATO untuk terus tunduk pada kepentingan AS.

Selain itu, AS melihat hubungan yang makin rapat antara Rusia dan Eropa, misalnya proyek gas Jerman-Rusia. Ketergantungan ekonomi Eropa pada sumber daya Rusia akan memengaruhi politik Eropa dan ini mengancam kepentingan AS. Walhasil, AS perlu menciptakan konflik agar hubungan Eropa-Rusia renggang. Dibuatlah musuh bersama, yaitu Rusia.

Inilah “the game of nations”, yakni negara-negara besar melakukan serangkaian manuver politiknya untuk mengamankan kedudukannya di kancah perpolitikan dunia. Sejatinya, krisis Ukraina adalah pertarungan antara negara-negara imperialis kapitalis yang sedang mengamankan kepentingan negaranya masing-masing. Ukraina sebagai negara kecil hanya menunggu nasib atas kebijakan yang diambil negara-negara besar.

Akar Persoalan

Konflik Ukraina akan terus dijaga agar keberadaan NATO makin berpengaruh di Eropa. Dengannya, AS akan mampu menundukkan Eropa. AS dan negara-negara besar seolah menutup mata atas kematian jutaan nyawa manusia. Inilah wujud hipokrisi negara-negara imperialis kapitalis.  Mereka menyerukan HAM, tetapi pada saat yang sama menjadi pelanggar HAM.

Konflik Ukraina bukanlah satu-satunya yang dipelihara, bisa terlihat dari konflik di Timur Tengah, eksistensi Yahudi terus dipelihara agar AS memiliki legitimasi menyelesaikan konflik. Konflik perbatasan pun seolah dilestarikan, seperti konflik Muslim Moro di Filipina Selatan, Muslim Pattani di Thailand, konflik di Sudan Utara dan Selatan, India dan Kashmir, Palestina dan lain-lain.

Oleh karenanya, akar persoalan konflik Ukraina sejatinya adalah kehadiran peradaban Barat dalam memimpin dunia. Peradaban ini akan terus menerus memproduksi negara-negara imperialis kapitalis. Atas nama kepentingan ekonomi dan politiknya, invasi satu negara atas negara lainnya akan selalu hadir di atas darah umat manusia.

Mampukah NATO, PBB, ataupun OKI menjadi Solusi?

Sungguh malang nasib bangsa Ukraina, menjadi “korban” atas keserakahan negara-negara besar. Lantas, bagaimana agar konflik ini selesai? Apakah selesai dengan masuknya Ukraina ke NATO?

Tentu saja solusi ini sangat absurd, mengingat AS dan NATO adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap terjadinya invasi di Irak, Afganistan, dan Suriah. Atas nama keamanan dunia, mereka membunuh jutaan manusia tidak berdosa. Sungguh hipokrisi yang sangat nyata.

Begitu pun dengan PBB dan OKI. Hingga saat ini, PBB hanya mampu membuat resolusi-resolusi tanpa mengirimkan bantuan militer untuk menghentikan peperangan. Apalagi jika kita melihat anggota tetap PBB yang memiliki hak veto (AS, Rusia, Inggris, Prancis, RRC) semuanya adalah negara imperialis kapitalis. Sedangkan negara-negara anggota OKI berada di bawah ketiak negara-negara besar.

Oleh sebab itu, berharap pada PBB, OKI, ataupun NATO dalam menyelesaikan konflik Ukraina bagaikan pungguk merindukan bulan. Jangankan menjadi solusi, keberadaan mereka serupa upaya tambal sulam dalam menjaga kepentingan negara adidaya.

Khatimah

Dunia membutuhkan negara yang pro pada kehidupan umat manusia. Dunia membutuhkan satu sistem yang sesuai fitrah manusia. Aturan Sang Pencipta harus ada agar terwujud kedamaian dan ketenteraman di seluruh penjuru dunia.

Dunia sangat butuh negara penerap syariat Islam kafah, lalu menjadikan jihad sebagai politik luar negerinya agar Islam rahmatan lil ‘alamin tersebar ke seluruh dunia. Wallahualam. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *