Utsman bin Affan ra. memerintahkan beberapa ahli menyalin Al-Qur’an yang ada pada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khaththab ra. Kemudian mushaf Al-Qur’an tersebut disebarkan ke beberapa wilayah Daulah Islam disertai pengajar yang membimbing kaum muslimin cara membacanya. Dengan demikian, kaum muslimin seluruhnya hingga sekarang memiliki kesatuan bacaan Al-Qur’an.
Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Adalah Utsman bin Affan ra., Khalifah kaum muslimin yang pertama kali menyatukan bacaan Al-Qur’an. Beliau memerintahkan beberapa ahli menyalin Al-Qur’an yang ada pada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khaththab ra. Kemudian mushaf Al-Qur’an tersebut disebarkan ke beberapa wilayah Daulah Islam disertai pengajar yang membimbing kaum muslimin cara membacanya. Dengan demikian, kaum muslimin seluruhnya hingga sekarang memiliki kesatuan bacaan Al-Qur’an.
Berawal dari Adanya Perbedaan Bacaan Al-Qur’an
Sekitar tahun 25 H, yakni tahun ketiga atau kedua kekhilafahan Utsman bin Affan ra., telah datang Hudzaifah bin Yaman menghadap Khalifah Utsman ra. di Madinah.
Pada saat itu Hudzaifah bersama penduduk Irak telah memerangi wilayah Syam dan menaklukkan daerah Armenia dan Azerbaijan. Hudzaifah sangat terkejut dengan perbedaan mereka dalam membaca Al-Qur’an. Kaum muslimin di Syam membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang tidak pernah didengar muslimin Irak. Begitu pula sebaliknya, penduduk Irak membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang tidak pernah didengar penduduk Syam.
Huzaifah pun berkata, “Penduduk Kufah membaca qiraat ibnu Mas’ud, sedangkan penduduk Bashrah membaca qiraat Abu Musa. Demi Allah jika aku bertemu dengan Amirulmukminin, sungguh aku akan memintanya untuk menjadikan bacaan tersebut menjadi satu.”
Khalifah Membentuk Tim Ahli
Ibnu Syihab berkata bahwa Anas bin Malik mengatakan kepada Ibnu Syihab, “Bahwa Hudzaifah bin Yaman telah berjumpa dengan Khalifah Utsman ra. Dia telah memerangi penduduk Syam dalam penaklukan daerah Armenia dan Azerbaijan bersama-sama penduduk Irak. Hudzaifah sangat terkejut dengan perbedaan mereka mengenai qiraat (bacaan). Maka Hudzaifah berkata kepada Utsman: Wahai Amirulmukminin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Qur’an sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani. Utsman kemudian mengutus seseorang kepada Hafshah agar dia mengirimkan kepada Khalifah lembaran-lembaran yang akan kami salin ke dalam beberapa mushaf, kemudian Khalifah akan mengembalikannya lagi segera. Hafshah pun lalu mengirimkan ke Utsman, lalu Khalifah memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al ‘Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Mereka menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berkata kepada tiga kelompok orang-orang Quraisy ‘Apabila kalian berselisish dengan Zaid bin Tsabit tentang sesuatu dari Al-Qur’an maka tulislah sesuai dengan lisan kaum Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan lisan mereka maka lakukanlah hal seperti itu’. Setelah mereka menyalin lembaran-lembaran tersebut ke dalam mushaf, Utsman segera mengembalikannya kepada Hafshah. Selanjutnya Utsman mengirimkan ke seluruh wilayah negeri Islam satu mushaf yang telah disalin tadi. Utsman memerintahkan lembaran apa saja selain Al-Qur’an agar dibakar.”
Dari periwayatan di atas, diketahui bahwa yang pertama kali dilakukan Khalifah Utsman bin Affan ra. adalah membentuk satu tim ahli untuk melaksanakan tugas penulisan Al-Qur’an. Mayoritas ulama berpendapat ada empat orang, yaitu Zaid bin Tsabit dari Anshar. Kemudian dari Quraisy, yaitu Abdullah bin Zubair, Said bin ‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits. Mereka semua adalah orang-orang yang berilmu dan teliti.
Setelah membentuk tim, Utsman mengutus seseorang kepada Ummul Mukminin Hafshah binti Umar bin Khaththab ra. Ia meminta lembaran-lembaran Al-Qur’an yang telah dikumpulkan di zaman Khalifah Abu Bakar ra.
Tim penulis pun menjadikan lembaran tersebut sebagai acuan dalam menjalankan tugas mereka. Kemudian mereka menulis ulang berdasarkan perintah Khalifah Utsman ra.
Khalifah Utsman sendirilah yang mengawasi proses kodifikasi Al-Qur’an ini. Utsman berkata pada tim panitia, “Jika kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam hal apa pun pada Al-Qur’an maka tulislah dengan lisan Quraisy. Kerena Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy.”
Mengirim Salinan Al-Qur’an ke Wilayah Kekuasaan Negara Islam Beserta Pengajarnya
Setelah Mushaf Utsmani selesai dibuat, Utsman bin Affan ra. mengirim salinan Al-Qur’an tersebut ke wilayah-wilayah kekuasaan Negara Islam. Para ulama berbeda pendapat berapa jumlah mushaf yang ditulis oleh kekhilafahan Utsman ra. Pendapat yang mahsyur menyebutkan bahwa mushaf Al-Qur’an tersebut dikirim ke Makkah, Madinah, Kufah, Syam, Bashrah, dan satu lagi dipegang oleh Utsman sendiri.
Setiap mushaf yang dikirim itu disertai dengan pengajar yang mengajarkan kaum muslimin cara membacanya berdasarkan hadis-hadis sahih dan mutawatir. Abdullah bin Sa’ib mengajarkan mushaf yang dikirim ke Makkah, Mughirah bin Syiab mengajar di Syam, Abu Abdurrahman Sulami di Kufah, Amir bin Qash di Bashrah, Zaid bin Tsabit di Madinah. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber:
Budi Yuwono. Hikayah Empat Khalifah. Penerbit Khairul Bayaan.
Taqiyyuddin an Nabhani. Syakhshiyah Islam (Kepribadian Islam) Jilid I. Pustaka Thariqul Izzah.
