Pemerintah tampak tidak peduli bahwa sumber penerimaan pajak pada APBN adalah uang dari kantong rakyat. Dengan demikian, makin menumpuk utang negara, peluang mencekik kembali rakyat dengan kebijakan pajak tentu makin besar. Namun, yang lebih berbahaya dari itu, tentu adalah soal kedaulatan negara yang tergadai akibat utang.
Kategori: Editorial
[Editorial] Umat (Benar-Benar) Butuh Penjaga
Tanpa Khilafah sang penjaga, umat Islam makin hilang kehormatannya. Harta mereka dijarah dan agama mereka direndahkan. Hukum-hukum Islam termasuk sistem negaranya pun difitnah sebagai sumber keburukan. Mereka gaungkan perang melawan teror dengan target memonsterisasi Khilafah sang penjaga dan mengkriminalkan para pengemban dakwahnya.
[Editorial] Kisruh THR di Tengah Merebaknya Kasus Korupsi Pejabat
Banyak pihak menilai keputusan pemerintah soal THR ASN sangat zalim dan mengada-ada. Betapa tidak? ASN bukan hanya abdi negara, tetapi juga abdi keluarga. Ironisnya, keputusan ini diambil di tengah kisruh korupsi pejabat dan budaya flexing yang makin parah.
[Editorial] Pemuda Sibuk Tawuran, para Elite Sibuk Pemenangan
Fakta kian buruknya kondisi generasi, bukan hanya muncul di saat sekarang. Namun, persentuhan kaum elite dengan generasi muda selalu dibungkus oleh kepentingan politik pragmatis. Terutama saat ada kepentingan mendulang suara, mengingat generasi muda jumlahnya banyak sebagai pemilih pemula.
[Editorial] Ramadan Tiba, Marhaban!
Selamat datang, Ramadan! Semoga kehadiranmu kali ini tidak sebagaimana Ramadan-Ramadan sebelumnya. Ramadan tahun ini harus memberi spirit perubahan ke arah Islam di tengah umat, meski untuk tegaknya Islam, tentu butuh perjuangan sesuai yang Rasulullah saw. contohkan.
[Editorial] Memburu Tikus Berdasi, Mimpi Memberantas Korupsi
Sulitnya memberantas korupsi sejatinya menunjukkan buruknya sistem hidup yang sedang diterapkan. Sistem ini memang tegak di atas paham sekuler liberal yang menafikan peran agama atau prinsip halal haram dalam kehidupan. Wajar jika kebebasan perilaku menjadi hal yang lumrah dan diniscayakan.
[Editorial] Pemilu Demokrasi di Tengah Pusaran Kepentingan Oligarki
Pada dasarnya, di dalam demokrasi memang tidak ada tempat bagi tuhan, tidak ada juga bagi standar halal haram. Demokrasi hanya memungkinkan seorang muslim masuk dalam kancah permainan, tetapi tidak akan pernah memberi tempat bagi tegaknya kebenaran Islam.
[Editorial] Skandal Pajak Terus Berulang, Sampai Kapan?
Betapa muak perasaan masyarakat. Di satu sisi, mereka terus diburu dan dipalak dengan berbagai pungutan pajak. Di sisi lain, korupsi dan skandal mafia pajak terus bermunculan. Padahal sejauh ini, gaji dan tunjangan para pegawai pajak tergolong paling tinggi di antara pegawai negara lainnya.
[Editorial] Paradigma Islam Mengatasi Pengangguran
Menciptakan lapangan kerja dan ruang berusaha yang kondusif semestinya menjadi prioritas kebijakan politik ekonomi Indonesia. Sayangnya, selama ini pemerintah hanya berhenti di retorika saja. Dalam Islam, negara menempatkan diri sebagai pengurus dan penjaga. Mereka berusaha maksimal mengurus dan menyejahterakan rakyat dengan jalan menerapkan syariat Islam.
[Editorial] Beras Mahal, Negara Kalah Lawan Mafia (?)
Kepala Bulog mengakui, kebijakan impor beras telah dimanfaatkan para mafia untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Sayangnya, pemerintah tampak selalu gagap menghadapi situasi yang berulang terjadi ini. Padahal, negara semestinya berperan besar menyolusi kenaikan harga beras. Posisinya tidak boleh kalah oleh siapa pun yang hendak merugikan rakyat banyak.
[Editorial] Mimpi Zero Korupsi dalam Sistem Sekuler Demokrasi
Budaya korupsi sudah mewabah dari level atas hingga bawah. Suap menyuap, mark up, fee proyek, perjalanan dinas, mafia kasus, dan sejenisnya, menjadi kian lumrah. Sampai-sampai, untuk mendapatkan sebagian layanan publik pun tidak lepas dari uang pelicin agar bisa kelar secepatnya. Wajar jika mimpi memberangus korupsi seakan kian jauh dari harapan.
[Editorial] Menakar Keseriusan Pemerintah Mengentaskan Kemiskinan
Kemiskinan adalah problem kompleks yang berakar dari penerapan sistem politik ekonomi yang asasnya rusak sehingga memproduksi berbagai kerusakan. Sistem ini tidak lain adalah sistem kapitalisme neoliberal yang tegak di atas asas sekularisme dan diusung negara-negara adidaya, lalu dipaksakan penerapannya di negeri-negeri lainnya.
