Muslimah News, EDITORIAL — Tidak terasa Ramadan kembali menjelang. Selama sebulan ke depan kaum muslim di dunia akan mendapat jamuan super istimewa. Pada bulan ini, Allah Swt. menjanjikan selaksa pahala, keberkahan, dan ampunan bagi siapa pun yang menginginkannya.
Tidak heran jika sebagian kaum mukminin menyambutnya dengan penuh sukacita. Mereka berharap Ramadan tidak lewat begitu saja. Mereka pun antusias menyiapkan ilmu, mental, dan apa pun yang dibutuhkan, seraya berharap mereka layak meraih takwa.
Namun, tidak sedikit pula dari mereka yang bersikap biasa-biasa saja. Maklum, kehidupan masyarakat kita hari ini sudah sangat sekuler liberal. Pemikiran, perasaan, dan aturan yang melingkupi kehidupan mereka sudah sangat jauh dari Islam.
Ramadan di Tengah Keprihatinan
Mirisnya, memasuki Ramadan tahun ini, kondisi umat masih belum beranjak membaik. Persoalan demi persoalan terus mendera kehidupan umat Islam. Seluruh sektor kehidupan, mulai politik, ekonomi, sosial, termasuk pendidikan dan pergaulan, hukum dan sanksi, tidak ada yang luput dari jeratan persoalan.
Seakan tradisi, kegembiraan umat menyambut Ramadan harus ternodai dengan kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok dan kian mahalnya biaya layanan publik. Padahal, kondisi ekonomi mayoritas masyarakat kita masih jauh dari kata sejahtera.
Meski pertumbuhan ekonomi diklaim selalu meningkat, angka kemiskinan faktanya masih saja besar. Gap sosial pun justru makin menganga. Hal ini terjadi di tengah berbagai bencana yang terus mendera di berbagai wilayah Indonesia.
Padahal, problem kemiskinan sering disebut-sebut sebagai induk berbagai persoalan. Terbukti, kasus-kasus turunan dari kemiskinan juga terus membayangi kehidupan masyarakat kita. Gizi buruk, kelaparan akut, stunting, stres sosial bahkan depresi, sanitasi buruk, merebaknya penyakit TBC, dan sebagainya, masih saja jadi PR besar.
Belum lagi kasus-kasus kriminalitas, termasuk perdagangan orang, kian hari jumlah dan kualitasnya kian mengerikan. Problem generasi pun demikian. Menjelang Ramadan, alih-alih makin mereda, kasus-kasus kenakalan bahkan kejahatan yang dilakukan generasi muda, mulai dari miras dan narkoba, tawuran, bunuh diri, perampokan, zina, penyimpangan perilaku hingga pemerkosaan yang berujung pembunuhan, justru kian merajalela.
Namun, kalangan tua pun ternyata tidak mau ketinggalan. Sindikat narkoba bahkan dimotori generasi tua, dan mirisnya ternyata kerap melibatkan pejabat dan aparat negara. Yang terjadi pada Tedy Minahasa hanyalah salah satu titik di puncak gunung es saja.
Semua ini melengkapi deretan kasus lainnya, termasuk kasus-kasus korupsi yang begitu membudaya akibat kuatnya jaringan para mafia. Mafia pajak, mafia peradilan, mafia proyek, mafia impor, dan sejenisnya demikian mencengkeram. Mereka menggerogoti uang negara hingga kerugiannya setara dengan biaya pemindahan ibu kota.
Semua kekisruhan ini terjadi di tengah hiruk pikuk politik yang tidak ada hentinya. Meski pemilu masih setahun lagi, tetapi suhu politik terus saja memanas. Berbagai kubu kepentingan mulai saling serang dan saling menihilkan. Sebagiannya lagi mulai jilat sana, jilat sini. Menjijikkan.
Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan masa kampanye Pemilu akan dimulai pada 28 November 2023—10 Februari 2024 mendatang, tetapi Ramadan kali ini pun tampak dimanfaatkan oleh parpol dan jagonya untuk unjuk gigi di tengah-tengah masyarakat. Tentu dengan berbagai modus agar tidak dipandang melanggar ketentuan yang bisa mencederai target-target partai.
Pemasangan baliho bergambar tokoh dan bendera-bendera partai sudah marak di jalan-jalan besar. Begitupun aktivitas di medsos, acara seminar-seminar, ziarah pesantren, bahkan acara bedah buku di kampus-kampus, semuanya berbau iklan dan pencitraan.
Ramadan di Tengah Islamofobia
Momen Ramadan memang membawa suasana berbeda. Di tengah berbagai kisruh persoalan, ada kedamaian dan berbagai harapan kebaikan, tentu bagi orang-orang yang beriman dan mereka yang mencintai kebenaran. Ibarat oase, momen Ramadan adalah tempat rehat dan hiburan dari semua kepenatan dan kesedihan.
Namun, tidak demikian bagi mereka yang hatinya bebal dan dikuasai penyakit wahn. Datangnya Ramadan tidak membuat mereka berhenti membenci kembalinya Islam dalam mengatur kehidupan. Upaya mendiskreditkan Islam dan mengalienasi para pendakwahnya ternyata terus saja berjalan.
Atas nama keamanan dan kenyamanan Ramadan, masjid-masjid disterilkan dari dakwah politik yang mencerdaskan. Bagi mereka, muhasabah lil hukkam (kritik pada kebijakan penguasa) dan aktivitas nahi mungkar tidak lebih dari upaya menebar kebencian. Seakan ajaran Islam yang mulia adalah biang perpecahan dan keonaran.
Padahal selama ini para pejuang demokrasilah yang sering membajak Islam. Mereka memakai simbol-simbol keIslaman saat diperlukan. Mereka datang ke pengajian, sowan ke pesantren dan tokoh agama dengan tampilan kopiah dan kerudung. Seakan ingin menunjukkan bahwa mereka prokepentingan umat dan membela kemuliaan Islam. Padahal sejatinya mereka hanya ingin membeli simpati umat Islam.
Sungguh narasi yang mereka tebar hanyalah bentuk hipokrisi politik demokrasi yang sekuler liberal. Islam dimanfaatkan hanya sebagai stempel pencitraan. Umat Islam yang mayoritas, digandeng hanya demi pemenangan pesta lima tahunan.
Sungguh, sudah lama sistem ini mengerdilkan ajaran Islam hanya sebagai ajaran ritual dan moral. Moderasi Islam pun diaruskan demi memandulkan sisi politis Islam. Apalagi, ajaran Islam tentang Khilafah dan jihad fi sabilillah. Keduanya habis dimonsterisasi dan dikriminalkan. Targetnya adalah menjauhkan umat dari potensi kebangkitan sebagaimana yang Barat inginkan.
Ramadan dan Harapan Perubahan
Umat Islam semestinya paham bahwa akar dari semua problem dan kekisruhan yang menimpanya adalah penerapan sistem hidup yang berlandaskan paham sekularisme kapitalisme neoliberal. Sistem ini memang sudah lama dipaksakan penerapannya oleh negara adidaya dan anteknya demi melanggengkan penjajahan.
Sistem ini menafikan kedaulatan Tuhan, digantikan oleh kedaulatan rakyat yang diagung-agungkan. Tidak heran jika peran agama, khususnya Islam, dalam kehidupan terus berupaya disingkirkan. Upaya penegakannya pun terus berusaha diadang. Padahal kunci kebangkitan umat Islam justru ada pada tegaknya Islam.
Sejarah telah membuktikan, sepanjang umat Islam berpegang teguh pada agamanya, dan hidup di bawah naungan institusi Khilafah yang menegakkannya, mereka berhasil menjadi umat terbaik, bahkan menjadi pionir peradaban. Justru ketika umat mulai mencampakkan Islam, dan hidup dengan sistem sekuler, mereka jadi objek penjajahan dan hidup dengan berbagai penderitaan.
Dengan demikian, hadirnya Ramadan semestinya menjadi momentum untuk meningkatan ketakwaan yang mewujud dalam bentuk ketaatan total pada seluruh ajaran Islam sehingga sukses Ramadan terukur dari kesiapan umat untuk hidup dalam naungan sistem Islam.
Selamat datang, Ramadan! Semoga kehadiranmu kali ini tidak sebagaimana Ramadan-Ramadan sebelumnya. Ramadan tahun ini harus memberi spirit perubahan ke arah Islam di tengah umat, meski untuk tegaknya Islam, tentu butuh perjuangan sesuai yang Rasulullah saw. contohkan.
Allah Swt. berfirman,
قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’.” (QS Yusuf: 108). [MNews/SNA]
