Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pada 42 H, kelompok Khawarij yang telah dimaafkan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dalam Perang Nahrawan mulai bergerak lagi. Terlebih setelah mereka mendapat berita terbunuhnya Khalifah Ali oleh Ibnu Muljam. Mereka pun bertekad untuk kembali menampakkan diri dengan menghimpun pasukan.
Mereka bermaksud melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada 43 H, kembali kelompok Khawarij ini ditumpas oleh pasukan kaum muslim yang dipimpin Ma’qil bin Qais.
Kabar tentang Kemunculan Khawarij
Disebut Khawarij disebabkan karena keluarnya mereka dari din Islam dan pemimpin kaum muslim. Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslim adalah pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi (musyawarah) dua utusan.
Mereka berkumpul di suatu tempat yang disebut Kharura (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah, mereka juga disebut Al-Kharuriyyah. Dalam mengajak umat mengikuti mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.
Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, “Telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy berkata, ‘Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw. yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil.’ Maka Nabi saw. berkata, ‘Celaka kamu! Siapa yang bisa berbuat adil kalau saya saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika saya tidak berbuat adil.'”
Kemudian Umar bin Khaththab berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal batang lehernya!’ Rasul menjawab, ‘Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh salatnya dibanding salat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target. (Karena sangat cepatnya anak panah yang dilesatkan), maka ketika ditelitilah ujung panahnya maka tidak ditemukan suatu bekas apa pun, lalu ditelitilah batang panahnya namun tidak ditemukan suatu apa pun, lalu ditelitilah bulu anak panahnya namun tidak ditemukan suatu apa pun, rupanya anak panah itu sedemikian dini menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firkah/golongan.’
Abu Sa’id berkata, “Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadis ini dari Rasulullah saw. dan saya bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib ra. telah memerangi mereka, dan saya bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga saya dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi saw.” (HR Bukhari 3341).
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Telah Memaafkan Khawarij
Penumpasan kelompok Khawarij oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. dinamakan Perang Nahrawan, terjadi pada bulan Syakban 38 H. Pendapat lain mengatakan terjadi pada bulan Shafar di tahun yang sama.
Khalifah Ali ra. memerintahkan Abu Ayyub al-Anshari mengibarkan bendera tanda aman bagi pasukan Khawarij. Khalifah menawarkan kepada mereka, “Barang siapa bernaung di bawah bendera ini maka ia aman, barang siapa kembali ke Kufah dan al-Mada’in maka ia aman, kami tidak ingin menumpahkan darah kalian kecuali orang-orang yang telah membunuh rekan kami.”
Sebagian dari mereka memilih kembali, jumlah mereka sekitar empat ribu orang. Hanya tersisa seribu orang saja atau kurang dari itu bersama Abdullah bin Wahab ar-Rasibi.
Pasukan Khawarij yang tersisa tetap melakukan penyerangan terhadap pasukan muslim. Akhirnya, Khalifah Ali ra. menghabisi kelompok Khawarij sehingga banyak dari mereka yang terbunuh. Turut tewas pula pemimpin mereka dalam peperangan ini, Abdullah bin Wahab, Hurqush bin Huzair, Syuhairah bin Aufa, dan Abdullah bin Syajarah as-Sulami.
Khalifah memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dari mereka dan menyerahkannya kepada kabilah-kabilah mereka untuk diobati. Lalu mengembalikan senjata dan barang yang dirampas kepada mereka. Al-Haitsam bin Adi berkata, “Ali tidak membagi-bagikan harta rampasan perang yang dirampas dari kaum Khawarij pada peperangan Nahrawan. Namun, beliau mengembalikan semua kepada keluarga-keluarga mereka.”
Khawarij Kembali Ditumpas
Pemikiran Khawarij yang tersisa ternyata tidak berubah. Mereka tetap menganggap kafir setiap muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Pada tahun 43 H, kembali terjadi pertempuran besar antara Khawarij dengan tentara Kufah. Khawarij berhasil menghimpun sejumlah besar pasukan yang dipimpin Mustaurid bin Alqamah.
Khalifah Muawiyah memerintahkan Mughirah bin Syu’bah selaku Wali Kufah menyiapkan pasukan untuk menghadapi Khawarij. Pasukan muslim berjumlah tiga ribu personel dipimpin Ma’qil bin Qais.
Terjadi pertempuran sengit antara dua kubu pasukan. Kaum Khawarij akhirnya mundur dan pasukan Ma’qil terus mengejar mereka. Khawarij khawatir mereka semua akan terbunuh. Oleh sebab itu, mereka melarikan diri dari pasukan kaum muslimin hingga melintasi sungai Tigris. Wallahualam. [MNews/Has]
Sumber: Qadhi Syaikh Muhammad bin Ahmad Kan’an. Daulah Bani Umayah. Al Qowam.
Prof. Dr. Ibrahim al-Quraibi. Tarikh Khulafa. Qisthi Press.

Subhanalloh..
Apakah kaum khawarij ini masih ada sampai sekarang?