[Kabar] Aktivisme untuk Palestina Harus Merangkul Visi Perubahan yang Jelas

[Kabar] Aktivisme untuk Palestina Harus Merangkul Visi Perubahan yang Jelas

Muslimah News, INTERNASIONAL — Asma Siddiq selaku anggota Kantor Berita ideologis internasional menyatakan bahwa “Palestina merdeka” tidak akan pernah terwujud melalui solusi dua negara, gencatan senjata, atau perjanjian perdamaian. Genosida dan pendudukan juga ia tegaskan tidak akan berakhir melalui boikot global, ICC, atau PBB. “Oleh karena itu, aktivisme untuk Palestina harus merangkul visi perubahan yang jelas,” ujarnya dalam rilis Kantor Berita ideologis internasional, Jumat (14-8-2026).

Menurutnya, jutaan orang telah menghadiri protes di berbagai negara di dunia dan menyerukan diakhirinya genosida di Palestina. Telah ada pula seruan global untuk memboikot produk-produk dari entitas Zion*s dan tekanan internasional untuk menghentikan perdagangan dan pasokan senjata kepada Zion*s guna melemahkannya. “Meski demikian, Zion*s tetap saja bergeming,” katanya.

Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa umat Islam harus memiliki arah perubahan yang visioner dan mampu menjadi solusi tuntas atas penjajahan di Palestina. Satu-satunya cara untuk menghapus pendudukan militer menurutnya adalah melalui mobilisasi tentara muslim di bawah negara kuat.

“Inilah visi jelas yang menjunjung tinggi Islam, memperjuangkan keadilan, dan menjadi pelindung dan perisai umat muslim, yakni mewujudkan institusi Islam dalam bentuk sistem pemerintahan kekhilafahan berdasarkan metode kenabian sebagaimana yang pernah diwujudkan Nabi Muhammad ﷺ,” tuntasnya.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan UNICEF (6-8-2026), setidaknya 300 anak di Gaza tewas oleh entitas Yahudi dalam 300 hari terakhir “gencatan senjata” Isra*l-Ham*s. Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan, Juli adalah bulan paling mematikan di Gaza sejak gencatan senjata, dengan 152 orang tewas, termasuk 21 anak-anak dan 14 perempuan. Alhasil, jumlah korban tewas sejak Oktober 2025 mencapai lebih dari 1.200 dan lebih dari 4.000 orang terluka akibat pendudukan.

Jumlah korban tewas secara keseluruhan di Gaza sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 73.300, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak dan 174.000 orang terluka. UNICEF juga menekankan, keluarga sekarang terbatas pada sepertiga wilayah Jalur Gaza karena pasukan Zion*s menduduki sisanya. Mereka berlindung di antara bangunan yang hancur, puing-puing, dan sampah yang belum dibersihkan. Anak-anak Gaza juga terus menghadapi kekurangan gizi akut, penyakit, air yang tidak aman, dan sistem sanitasi yang rusak.

Dari data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), tercatat ada lebih dari 80 sekolah Palestina di seluruh Tepi Barat saat ini sedang menghadapi pembongkaran atau perintah terkait, serta lebih dari 4.200 “warga entitas Yahudi” menyerbu kompleks Al-Aqsha dan melakukan ritual dan doa Talmud mereka. [MNews/Ika Mawar]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *