[Kabar] UIY: Hanya Kematian yang Bisa Menghentikan Kerakusan

[Kabar] UIY: Hanya Kematian yang Bisa Menghentikan Kerakusan

Muslimah News, NASIONAL — Menyikapi kerakusan para oligarki yang makin menjadi-jadi di negeri ini, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyatakan bahwa hanya kematian yang bisa menghentikan kerakusan. ”Kerakusan itu memang tidak berujung, hanya bisa dihentikan oleh kematian,” tuturnya dalam acara Fokus to The Point yang bertajuk ”Greedy: Inilah Kerakusan Perusak Negeri” di kanal UIY Official, Jumat (21-8-2026).

Kesimpulan itu ia sandarkan kepada hadis Rasulullah saw., ”Seandainya anak Adam sudah memiliki satu lembah emas, niscaya ia masih ingin memiliki dua lembah emas. Tidak ada yang memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah.” (HR Bukhari dan Muslim).

”Dan itu tergambar dengan sangat jelas pada apa yang sedang kita alami ini hari. Para pengusaha batu bara tidak puas dengan keuntungan yang sudah sangat luar biasa. Mereka masih saja melakukan praktik kotor seperti under invoicing dan transfer pricing,” bebernya.

Menurutnya, dengan cara normal saja para pengusaha batu bara sudah untung besar. “Ongkos produksi batu bara itu sekitar 40 US$/ton. Jika harga internasional sekarang sekitar 140 US$/ton, maka mereka sudah untung 100 US$/ton. Produksi nasional batu bara kita 800 juta ton pertahun. Dari 800 juta ton itu, untuk DMO (Domestic Market Obligation) sebesar 25 % (200 juta ton). Yang diekspor sebesar 600 juta ton. Berarti keuntungan mereka sangat besar,” paparnya.

Meski keuntungan sudah besar, lanjutnya, para pengusaha itu masih merasa kurang. ”Ini terbukti mereka tidak mau melepas batu bara untuk DMO sehingga membuat pasokan batu bara dalam negeri selalu kurang dan PLN terpaksa berhemat,” tandasnya.

Ia mengungkap alasan para pengusaha itu tidak mau melepas batu bara untuk DMO, yakni karena harga DMO hanya separuh dari harga internasional atau sekitar 70 US$/ton. “Padahal dari harga 70 US$ itu, mereka sudah untung 30 US$/ton. Tetapi bagi orang yang rakus, 30 US$ itu masih kurang karena jika diekspor untungnya bisa 100 US$/ton,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, mereka masih melakukan under invoicing, yaitu menyebutkan jumlah satuan yang diekspor di bawah jumlah yang sebenarnya. ”Adapun transfer pricing adalah menjual komoditas ke perusahaan di luar negeri yang sebenarnya adalah miliknya juga, dengan harga di bawah harga pasaran. Kedua praktik kotor itu dilakukan untuk menghindari pajak guna mendapat untung yang lebih besar. Coba bayangkan berapa kerugian negara yang ditimbulkan oleh praktik kotor itu? Itu enggak bisa dijelaskan, kecuali dengan satu kata, greedy (kerakusan),” ucapnya kesal.

Kerakusan itu, sambungnya, membawa dampak luar biasa bagi kerusakan negeri ini, karena dengan kekuatan finansial yang dimiliki, para oligark itu bisa membeli apa pun dan membeli siapa pun. ”Kerakusan itu bukan hanya soal moral individu, tetapi juga terkait penerapan sistem kapitalisme yang salah,” pungkasnya. [MNews/Irianti]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *