Gaya Hidup Sehat untuk Semua Hanya Terwujud dalam Naungan Khilafah

Gaya Hidup Sehat untuk Semua Hanya Terwujud dalam Naungan Khilafah

Penulis: Dr. Rini Syafri

Muslimah News, KOLOM — Berbagai studi membuktikan bahwa gaya hidup modern menjadi ancaman kesehatan global. Gaya hidup modern seolah-olah sekadar bagian dari kemajuan sains dan teknologi, tetapi ternyata berakar pada peradaban Barat (sekularisme kapitalisme). Oleh karena itu, tidak heran bahwa modifikasi gaya hidup modern yang dimotori Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ternyata hanya berfaedah semu. Kendati gerakan live healthy—yang di Indonesia berwujud program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)—telah berjalan lebih dari satu dekade dan menyedot banyak sumber daya, penyakit akibat gaya hidup modern tidak kunjung berkurang.

Kasus penyakit degeneratif (Noncommunicable diseases/NCD) seperti kanker, diabetes, dan jantung; penyakit menular (Communicable Diseases/CD) seperti TBC dan HIV/AIDS, dan persoalan kesehatan mental masih tinggi. Bagaimana peradaban kapitalisme bisa menyebabkan maraknya penyakit ini? Lantas, bagaimana pandangan peradaban Islam  tentang hak setiap orang untuk mengakses gaya hidup sehat? Tulisan ini mencoba menjawab.

Pemicu Penyakit Degeneratif

Gaya hidup modern—yang sejatinya adalah gaya hidup sekuler—merupakan ancaman global yang nyata, khususnya pada aspek kesehatan. Hal ini sebagaimana dibuktikan dalam banyak studi, ia merupakan faktor kuat pemicu kerusakan kesehatan manusia. Gaya hidup ini mengakibatkan penyakit degeneratif, di luar faktor genetik dan determinan sosial lain tentunya. Ia juga menjadi penyebab penyakit menular dan mental.

Posisi gaya hidup modern sebagai faktor pemicu penyakit degeneratif (misalnya kanker) ditegaskan dalam jurnal bertajuk, Effect of Modifiable Gaya hidup Risk Factors on The Incidence and Prevention of Cancer in Modern Society. Studi yang dipublikasi oleh Annals of The National Academy of Medical Sciences (India) Maret 2024 ini menyatakan bahwa gaya hidup modern yang ditandai dengan terjadinya obesitas, sedentary behavior, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, kebiasaan makan yang buruk, kurang tidur, dan stres, satu sama lain berkelindan menjadi faktor yang meningkatkan risiko berbagai penyakit kanker. 1

Diberitakan pada laman resmi WHO (8-7-2026), diperkirakan terdapat 20,6 juta kasus baru kanker dan hampir sepuluh juta kematian setiap tahun. Tanpa tindakan segera, jumlah kasus kanker tahunan diproyeksikan meningkat hingga hampir 35 juta pada 2050. 2

Hasil riset bertajuk Association of Remnant Cholesterol with Unhealthy Lifestyle and Risk of Coronary Heart Disease: A Population-based Cohort Study (7-2-2025)oleh The Lancet Regional Health – Europe 2025; 51: 101223, menegaskan bahwa gaya hidup modern berupa kurangaktivitas dan buruknya kepatuhan terhadap diet yang benar berhubungan dengan peningkatan kadar kolesterol yang berisiko meningkatkan penyakit jantung koroner. 3

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh The European Journal of Preventive Cardiology menyatakan bahwa kematian oleh penyakit kardiovaskular diperkirakan akan meningkat 73,4% pada 2050, bertambah dari data sekarang 20,5 juta jiwa menjadi 35,6 juta jiwa. Total prevalensi penyakit jantung pada periode yang sama melonjak 90%. 4

Faktor Risiko Penyakit Menular

Gaya hidup modern juga menjadi faktor risiko penyakit menular karena melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan penularan. Tingkat stres yang tinggi, kurang tidur, pola makan yang buruk, kebiasaan merokok, dan kepadatan penduduk di perkotaan dapat melemahkan daya tahan tubuh. Kebiasaan-kebiasaan ini memicu perkembangan TB laten menjadi penyakit aktif serta mempermudah penyebarannya di kota-kota modern.5

The World Health Organization Global Tuberculosis Report 2025 mengingatkan secara global diperkirakan terdapat 10,7 juta kasus baru pada 2024 dan 1,23 juta jiwa di antaranya berujung kematian. Negara dengan beban kasus yang tinggi di antaranya Indonesia (10%).6

Perilaku seks multipartner, termasuk pasangan sejenis, juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Perkara berbahaya ini ditegaskan dalam hasil studi multidisiplin bertajuk Sexual Behavior in Modern Societies: An Interdisciplinary Analysis yang dipublikasikan oleh Sexuality & Culture: An Interdisciplinary Quarterly, 25(6), 2075–2091(7). Perilaku seks multipartner terbukti meningkatkan risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.

Pada masyarakat Amerika, sebagai representasi masyarakat modern, multiple partners (banyak pasangan seks tanpa ikatan pernikahan) menjadi gaya hidup mereka. Ini ditegaskan oleh hasil survei The National Survey of Family GrowthTrusted Source dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) United States, sebagai data statistik 2015—2019 yang dipublikasi dengan tajuk Multiple Sexual Partners: Benefits, Risks, and Statistics oleh Medical News Today.8 Diakui Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) bahwa pelaku seks bebas adalah populasi kunci HIV/AIDS, yakni kelompok paling berisiko menularkan dan tertular.9

Pada 2025 lebih dari 1,2 juta jiwa terinfeksi HIV dan lebih dari 570.000 meninggal karena penyakit terkait AIDS. Dunia gagal mencapai target global dan diperkirakan lebih dari tiga juta orang akan terinfeksi HIV pada 2030.10

Ancaman bagi Kesehatan Mental

Gaya hidup modern juga menjadi ancaman bagi kesehatan mental masyarakat. Hal ini ditunjukkan dalam studi komprehensif bertajuk Mental Health and Well-Being in the Modern Era: A Comprehensive Review of Challenges and Interventive, dipublikasikan pada Januari 2025 oleh Cureus Journal of Medical Science.11 Ada lebih dari satu miliar orang hidup dengan gangguan kesehatan mental, demikian data WHO pada 2025.

Kecemasan dan depresi sangat umum terjadi di semua negara dan komunitas, serta pada semua usia dan tingkat pendapatan. Data penting dari World Mental Health Today menyatakan bunuh diri merenggut sekitar 727.000 nyawa pada 2021 saja. Ini adalah penyebab utama kematian di kalangan anak muda di semua negara.12 Artinya, gaya hidup modern (sekuler) adalah ancaman kesehatan global.

Kegagalan Nyata

Pembahasan modifikasi gaya hidup modern (sekularisme) kembali muncul di agenda WHO seiring dengan peningkatan aspek yang berpengaruh pada kesehatan global pada abad 21. Wujudnya adalah strategi kesehatan global berupa Program Kerja Umum ke-14 tahun 2025—2028 (Global Health Strategy and Fourteenth General Programme of Work 2025—2028). Pada tujuan ke dua dari 6 tujuan strategis, dinyatakan, “Health determinants and the root causes of ill health in key policies across sectors“(determinan kesehatan dan akar penyebab gangguan kesehatan menjadi kunci kebijakan lintas sektor).13 Poin ini juga dibahas pada Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly’s/WHA) ke-79 selama sidang Dewan Eksekutif WHO ke-157 (28—29 Mei 2025) dan ke-158 (2—7 Februari 2026).14

Upaya modifikasi ini telah dilakukan sejak lebih dari setengah abad yang lalu dan diaruskan secara global di bawah kepemimpinan WHO sebagai otoritas kesehatan yang paling berkuasa. Gerakan global Health for All dicanangkan pada 1977, salah satu pesan pentingnya adalah perbaikan aspek determinan kesehatan berupa kemiskinan yang menjadi faktor yang berperan luas dalam proses pembentukan gaya hidup masyarakat. 15

Modifikasi gaya hidup kembali dicanangkan secara khusus pada 1999, yaitu tentang pentingnya gaya hidup sehat. Ada lima rekomendasi WHO berupa menu seimbang, aktivitas fisik, tidur 7—8 jam sehari, hindari tembakau dan alkohol, serta kelola stres.16 Di Indonesia diadopsi berupa program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) yang dicanangkan sejak 2015.

Ada tujuh langkah yang direkomendasikan dalam GERMAS, yaitu melakukan aktivitas fisik, makan buah dan sayur, tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, melakukan cek kesehatan berkala, menjaga kebersihan lingkungan, dan menggunakan jamban.17 GERMAS termasuk di antara agenda penting transformasi layanan primer dan terus digaungkan pemerintah (Kementerian Kesehatan).17 Pemerintah menekankan pentingnya transisi besar dalam pendekatan kesehatan nasional, yakni mengubah Program Kesehatan yang bersifat instruksi menjadi Gerakan Hidup Sehat yang didorong oleh kesadaran individu.19

Hanya saja, dilihat dari waktu ke waktu, gaya hidup modern masih menjadi determinan sosial kesehatan yang berpengaruh kuat dalam memicu kerusakan kesehatan.20, 21 Hal ini membuktikan bahwa upaya modifikasi atau tambal sulam gaya hidup modern atau sekularisme gagal secara nyata dan justru memperpanjang kesengsaraan masyarakat.

Bukan Persoalan Kemajuan Teknologi

Gaya hidup modern kerap dipahami sebagai bentukan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.22 Namun, sejatinya ia hanyalah buah peradaban sekuler. Sekularisme berwujud paham hedonisme dan individualisme menjadi nilai yang menjiwai gaya hidup modern itu. Hal ini tampak dari pola makan tidak sehat, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, kurang tidur atau istirahat, seks bebas, dan mental yang rapuh.

Pola makan modern berupa konsumsi tinggi makanan ultra olahan (ultra processed foods) terbukti memicu kerusakan kesehatan.23 Ultra-Processed Foods adalah makanan atau minuman hasil formulasi industri. Biasanya dibuat dari ekstrak bahan utuh atau bahan sintetis, dicampur banyak zat tambahan kimia seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, dan penguat rasa.

Aspek yang mendasari terbentuknya pola makan UPF adalah sudut pandang sekularisme yang berkelindan dengan nilai-nilai hedonisme dan individualisme. Aspek yang dikedepankan adalah manfaat sesaat, yakni kenikmatan, kelezatan, dan harga murah. Mindset sekuler itu juga didukung penuh sistem kehidupan sekuler, khususnya sistem pendidikannya.

Kemudahan akses dan ketersediaan UPF terkait dengan sistem pangan dan gizi dalam kapitalisme yang merupakan bagian integral dari sistem ekonomi kapitalisme dan produk dari sistem politik demokrasi. Dalam sistem kapitalisme, pangan dipandang sebatas komoditas dan negara beralih fungsi menjadi pelayan korporasi (regulator). Pada saat yang bersamaan kemajuan sains dan teknologi dikondisikan agar berjalan pada koridor tersebut.

Gaya Hidup Ditentukan oleh Sudut Pandang Kehidupan

Gaya hidup didefinisikan WHO sebagai berikut: Lifestyle are patterns of behavioural choices made from the alternatives that are available to people according to their socio-economic circumstances and to the ease with which they are able to choose certain ones over others (24)(Gaya hidup adalah pola pilihan perilaku yang terbentuk dari alternatif yang tersedia bagi orang-orang sesuai dengan keadaan sosial ekonomi mereka dan kemudahan yang mereka miliki dalam memilih pilihan tertentu dibandingkan pilihan lainnya).

Terkait pola perilaku, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyah Juz II menjelaskan tentang pembentukan kepribadian,25 sedangkan gaya hidup menjadi bagian integralnya. Beliau menjelaskan bahwa aktivitas atau tingkah laku (behavior/suluk)yang dilakukan manusia mana pun ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik bersifat fisik maupun nonfisik (naluri).25 Bila dicermati, behavior hingga menjadi kebiasaan (gaya hidup) adalah proses yang kompleks.

Sudut pandang tentang kehidupan menjadi landasan bagi proses perubahan tingkah laku menjadi gaya hidup, karena ia merupakan jawaban atas persoalan fundamental manusia, berupa pertanyaan dari mana asal manusia, mau ke mana setelah kehidupan dunia, dan untuk apa ia datang ke dunia. Sudut pandang tersebut merupakan pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia (akidah akliah).

Ketika akidah Islam dijadikan sebagai tata cara berpikir atau qa’idah fikriyyah akanterbentuk pola pikir Islam atau akliah islamiah.Ketika akidah digunakan sebagai landasan berpikir dalam penilaian baik/buruk dan terpuji/tercela, maka terbentuklah pemahaman dan pola pikir Islam.

Pemahaman itu bila digunakan dalam mengikat dorongan-dorongan yang muncul dari kebutuhan fisik maupun nonfisik/naluri, akan membentuk pola berkecenderungan Islam (nafsiah islamiah). Demikian pula, gaya hidup islami akan terbentuk dari tingkah laku yang sesuai syariat Islam secara berkelanjutan (kebiasaan). Adapun ketika sudut pandang selain Islam (baik sosialisme atau sekularisme kapitalisme) digunakan sebagai landasan gaya hidup, sudut pandang tersebut akan menjadi faktor penentu pertama dan utama gaya hidup.

Jika sudut pandang tentang kehidupan itu sahih, tentu akan berfaedah bagi terpeliharanya kesehatan. Sebaliknya, jika sudut pandang tentang kehidupan adalah batil, tentu akan berbahaya bagi kesehatan. Hal ini mencakup gaya hidup dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan maupun kebutuhan nonfisik (naluri).

Demikianlah, gaya hidup modern menjadi ancaman kesehatan global bukan karena kemajuan teknologi, tetapi karena rusaknya aspek paradigmatis, yaitu sarat dengan hedonisme materialistis. Dengan demikian, gaya hidup bukan sekadar yang terlihat di permukaan atau kebiasaan fisik harian, tetapi terkait paradigma kehidupan yang melandasinya.

Gaya Hidup Sekuler Menjadi Ancaman Nyata

Ideologi sekuler kapitalisme berpengaruh signifikan terhadap cara berpikir, berperasaan, hingga pembentukan tingkah laku (suluk) dan gaya hidup. Sekularisme menjadi fondasi tegaknya peradaban kapitalisme. Yang ada pada ruang kehidupan manusia adalah pemahaman tentang kehidupan yang terpancar dari sekularisme. Kebahagiaan dimaknai sebagai perolehan materi sebanyak banyaknya, sedangkan gambaran kehidupan dunia adalah teraihnya manfaat. Kriteria baik-buruk ditimbang dari aspek manfaat sesaat.26

Saat ini dunia didominasi oleh satu model sistem kehidupan, yakni sekularisme, dengan kapitalisme sebagai sistem ekonominya dan demokrasi sebagai sistem politiknya. Barang dan jasa yang bisa dan tersedia untuk diakses masyarakat untuk memenuhi kebutuhan adalah produk kapitalisme. Pendidikan yang bisa dan yang mungkin diakses hanyalah sistem pendidikan sekuler, sekalipun nyata bahaya dan pertentangannya dengan Islam. Setiap orang yang hidup dalam naungan sekularisme harus mengambil pemahaman sekuler, sekalipun ia menganut akidah Islam.

Adapun pada aspek pemenuhan kebutuhan pangan, yang tersedia di pasar adalah pangan dan gizi produk sistem pangan dan gizi sekuler. Pangan dan gizi diposisikan sebatas komoditas, sedangkan keberadaannya sebagai kebutuhan dasar manusia diabaikan. Akhirnya pangan yang tersedia tidak hanya mahal, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan. Demikian pula dengan kebutuhan rumah, pakaian, keamanan, dan kesehatan.

Adapun terkait kebutuhan nonfisik/naluri, gaya hidup sekuler menjadikan pemenuhannya dalam rangka meraih kenikmatan materi sebanyak mungkin. Hal ini sesuai dengan makna kebahagiaan dalam pandangan kapitalisme. Di samping itu, pemenuhannya juga berlandaskan paham kebebasan berperilaku yang merupakan salah satu pilar ideologi sekuler.

Sebagai contoh, Asosiasi Kesehatan Seksual Amerika (ASHA) menyatakan bahwa selama ada persetujuan dan tidak membahayakan siapa pun yang terlibat, tidak ada cara yang benar atau salah untuk mencapai kenikmatan seksual. Ini dapat mencakup memiliki banyak pasangan seksual. ASHA menambahkan bahwa faktor penting dalam kehidupan seks yang memuaskan adalah pemahaman individu tentang kebutuhan dan tanggung jawab seksual mereka sendiri serta pengakuan terhadap kebutuhan dan tanggung jawab pasangan mereka.8

Sejalan dengan pandangan tersebut, sebagaimana teori Sigmund Freud, libido (energi seksual) dipandang sebagai penggerak utama kehidupan (libido shapes our motivations and instincts, influencing everything from survival to social interactions. Understanding libido reveals how deeply it impacts our behavior and development). 27 Oleh karenanya, seksualitas harus menjiwai semua aspek kehidupan, tidak terkecuali sistem pendidikan dan ibadah sekalipun.

Setiap orang dipaksa beraktivitas demi merealisasikan nilai materi, karena peradaban sekularisme hanya mengakui satu nilai, yakni nilai materi. Paham hedonisme, individualisme, dan materialistis begitu menonjol. Padahal, normalnya setiap insan tidak hanya butuh nilai materi, tetapi juga butuh nilai spiritual, moral, dan kemanusiaan. Tidak heran saat ini gaya hidup sekuler menjadi ancaman nyata bagi kesehatan bahkan keberlangsungan kehidupan di planet bumi.

Peradaban Islam

Peradaban Islam adalah satu-satunya ruang hidup yang akan membentuk gaya hidup yang selaras dengan fitrah insaniah, yakni gaya hidup yang meniscayakan terpeliharanya kesehatan setiap orang sepanjang hayat. Ini karena akidah Islam adalah satu-satunya yang mampu menghadirkan mindset yang sahih dan memuliakan manusia. Selain itu, akidah Islam juga merupakan landasan yang layak bagi bangunan peradaban yang diperuntukkan bagi manusia.

Akidah Islam menjawab persoalan fundamental manusia secara memuaskan akal dan menenteramkan jiwa, yakni bahwa di balik alam semesta, manusia, dan hidup ada Allah Al-Khaliq Al-Mudabbir (Maha Pencipta dan Maha Pengatur). Manusia datang ke dunia untuk mengabdikan diri kepada Allah, yaitu bahwa setiap aktivitasnya akan dipertanggungjawabkan kelak pada Hari Akhir.

Dengan demikian, ruang peradaban Islam hanya diisi oleh pemahaman-pemahaman yang benar tentang kehidupan. Setiap orang dalam aktivitasnya bersungguh-sungguh agar senantiasa terikat aturan Allah Swt. dengan dorongan meraih rida Allah Swt. Tercapainya keridaan Allah adalah puncak kebahagiaan seorang mukmin.

Aktivitas makan, misalnya, tidak sekadar untuk kenyang, tetapi memiliki spirit ketaatan pada Allah Swt. Dengan demikian, seorang mukmin hanya akan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal lagi baik, yakni tidak membahayakan kesehatan dan jiwa. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 172,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya“.

Adapun kenikmatan dan kelezatan niscaya akan diraih dengan mengonsumsi makanan yang halal dan tayib.

Demikian pula ketika memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Rumah tidak sekadar dipandang sebagai hunian, tetapi memiliki fungsi sosial hingga ideologis. Rumah adalah tempat bagi para ibu untuk memberikan visi dan misi hidup kepada anak-anaknya. Hal ini tecermin dalam doa Nabiyullah Nuh a.s. yang termaktub dalam QS Al-Mu’minun: 29,

 رَّبِّ أَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْن

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku di tempat yang diberkahi dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.”

Demikian juga tecermin pada doa Nabiyullah Ibrahim a.s. agar keluarganya diberi kediaman di lingkungan yang mendirikan salat dan diberi rezeki yang termaktub pada QS Ibrahim: 37,

 رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْع ٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.”

Pertimbangan seorang muslim dalam berpakaian jauh melebihi kepentingan fashion, yaituuntuk memenuhi tuntutan syariat. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-A’raf: 26,

 يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.”

Demikian juga dalam memenuhi kebutuhan nonfisik atau naluri, selalu dilandaskan pada pandangan bahwa makna kebahagiaan bagi seorang muslim adalah keridaan Allah Swt. dan pemenuhan naluri harus tunduk kepada ketentuan syarak. Motivasi utama dalam kehidupan adalah takwa dan kesadaran atas hubungan dengan Allah selalu dihadirkan.

Hanya ada satu model sistem kehidupan dalam peradaban Islam, yaitu sistem kehidupan yang terpancar dari akidah Islam. Sistem ini bekerja sepenuhnya agar segala kebutuhan manusia—baik bagi pemenuhan kebutuhan fisik maupun naluri—tersedia kapan pun dan di mana pun sehingga dapat diakses secara mudah.

Negara dalam sistem Islam hadir sebagai pelaksana syariat kafah. Ia bekerja dengan falsafah amal dalam Islam, yaitu berupaya secara serius untuk merealisasikan tujuan keberadaan masyarakat Islam, yakni melalui fungsi sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan junnah (perisai pelindung).

Sementara itu, kemajuan sains dan teknologi dirancang sedemikian rupa sehingga mempermudah rakyat dan negara dalam menjalankan perkara yang dituntut oleh syarak. Ketakwaan individu, kontrol sosial, dan kehadiran negara sebagai pelaksana aturan Allah akan mendorong dan mengondisikan setiap orang agar memiliki gaya hidup yang sehat. Wallahualam. [MNews/Ragil]

Daftar Pustaka

1. https://nams-annals.in/effect-of-modifiable-gaya hidup-risk-factors-on-the-incidence-and-prevention-of-cancer-in-modern-society-a-review/

2. https://www.who.int/news/item/08-07-2026-who-calls-for-urgent-action-as-new-cancer-cases-are-projected-to-nearly-double-by-2050

3. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6052788/

4. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39270739/

5. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/populations-comorbidities/social-determinants.

6. World Health Organization (WHO) https://share.google/L6dXN2Tir9wS9yLQd.

7. https://link.springer.com/article/1

8. https://www.medicalnewstoday.com/articles/multiple-sex-partners

9.https://www.unaids.org/en/resources/presscentre/pressreleaseandstatementarchive/2026/july/20260727_PR_UNAIDS_special_report_AIDS2026

10. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids

11. Mental Health and Well-Being in the Modern Era: A Comprehensive Review of Challenges and Interventions – PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11836072/

12. https://www.who.int/news/item/02-09-2025-over-a-billion-people-living-with-mental-health-conditions-services-require-urgent-scale-up

13.https://www.who.int/about/general-programme-of-work/fourteenth

14. https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/everyday-actions-for-better-health-who-recommendations.

15. World Health Organization. Technical Discussions Healthy Gaya hidups. World Health Organization Regional Office for the Eastern Mediterranean. Juli 1989.

16.. https://www.who.int/europe/news-room/fact-sheets/item/everyday-actions-for-better-health-who-recommendations.Everyday actions for better health – WHO recommendations.

17. https://ayosehat.kemkes.go.id/germas

18. https://jogja.antaranews.com/berita/788275/menkes-transformasi-kesehatan-memperpanjang-usia-hidup-masyarakat

19. https://menpan.go.id/site/berita-terkini/berita-daerah/menkes-hidup-sehat-harus-menjadi-gerakan-bukan-sekadar-program.

20. https://www.ihmorg.org/diseases-caused-by-the-modern-gaya hidup/

21. https://www.who.int/health-topics/noncommunicable-diseases#tab=tab_1

22. https://www.researchgate.net/publication/382947156_The_Impact_of_Technology_on_Society_Positive_and_Negative_Effects

23. https://wfpc.sanford.duke.edu/podcasts/carlos-monteiro-dangers-ultra-processed-foods/

24. https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/108180/EUR_ICP_LVNG_01_07_02.pdf;js; World Health Organization (WHO)..https://iris.who.int. PDF. Regional Office for the Eastern Mediterranean.

 25. An-Nabhani, T. Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz II.

26. An-Nabhani, T. An-Nizham al-Islam, Bab “Hadharah wal Madaniyah”.

27. https://www.verywellmind.com/what-is-the-libido-2795329

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *