Penulis: Dra. Iffah Ainur Rochmah
Muslimah News, SIRAH —Jumlah tentara kaum muslim yang berjumlah sekitar 3.000 pasukan dalam pertempuran Mu’tah jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pasukan Heraklius yang mencapai ratusan ribu. Namun, hal itu tidak melemahkan semangat kaum muslim untuk menghadapi musuh demi menjaga kewibawaan Daulah Islam.
Pasukan kaum muslim terus berjalan hingga tiba di perbatasan Balqa’, tepatnya di desa Masyarif. Di sana mereka bertemu dengan pasukan Romawi dan gabungan bangsa Arab. Kedua belah pihak saling mendekat dan bertemu di Mu’tah.
Kaum muslim telah siap menghadapi mereka dan menunjuk salah seorang dari Bani Udzrah bernama Quthban bin Qatadah sebagai komando pasukan sayap kanan, sedangkan salah seorang dari kaum Anshar bernama Abayah bin Malik sebagai komando pasukan sayap kiri. Kedua belah pihak saling bertemu dan saling menyerang.
Tiga Panglima Gugur
Panglima perang pertama, Zaid bin Haritsah bertempur dengan membawa bendera Rasulullah ﷺ. Dalam pertempuran itu, ia mengalami luka parah dan pendarahan hebat hingga akhirnya syahid.
Ja’far bin Abu Thalib mengambil alih komando. Ia membawa bendera Rasulullah ﷺ sambil menunggang kudanya. Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Ja’far bin Abu Thalib memegang bendera dengan tangan kanannya. Ketika tangan kanannya tertebas pedang, ia memegangnya dengan tangan kirinya. Saat tangan kirinya pun terputus, ia mendekapnya dengan kedua lengannya, hingga akhirnya Ja’far gugur sebagai syuhada pada usia 30 tahun dalam kondisi tubuhnya terbelah dua. Allah Taala menganugerahkan kepadanya dua sayap di surga, sehingga ia dapat terbang ke mana pun ia kehendaki.
Sebelum gugur, Ja’far melantunkan syair untuk memompa semangat dirinya di saat situasi genting. “Betapa indah dan dekatnya surga. Keadaannya nyaman dan segar minumannya. Orang-orang Romawi itu hina, mereka kafir jauh dari sanak keluarganya. Aku harus menyerangnya jika aku menjumpainya.”
Saat Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah mengambil alih komando dengan mengambil bendera perang. Ia terjun di medan perang dengan menunggang kudanya. Ia memberikan dorongan kepada dirinya sendiri dengan untaian syair, ”Wahai diriku, terjunlah ke medan perang atau aku memaksamu terjun, meski kamu tidak senang. Mereka berteriak dan berkumpul mengeluarkan gema, tetapi aku melihatmu sedang membenci surga. Sudah sekian lama engkau merasakan keadaan tenang. Tidakkah engkau ini hanya setetes air mani dalam kantong usang?”
Abdullah bin Rawahah melanjutkan, ”Wahai diriku! Jika engkau tidak terbunuh engkau tetap akan mati. Keranda kematian telah menanti. Apa yang engkau harapkan telah diberikan. Jika engkau melakukan aktivitas keduanya, maka akan engkau dapati bimbingan.”
Ia lalu terjun ke medan perang. Dalam kitab sirah disebutkan, di tengah peperangan, Abdullah bin Rawahah menyendiri di suatu tempat untuk beristirahat, lalu ia didatangi sepupunya yang membawa daging. Sepupunya berkata, ”Kuatkan badanmu dengan daging ini, karena aku lihat engkau lapar dalam beberapa hari ini.”
Abdullah bin Rawahah mengambil daging tersebut dari sepupunya untuk dimakan. Namun, sebelum daging itu sampai ke mulutnya, ia mendengar suara gemuruh orang-orang yang sedang bertempur. Ia pun membuang daging itu dari tangannya, dan berkata, “Hai daging kamu hanya untuk dunia.” Kemudian ia mengambil pedangnya, lalu terjun ke medan perang dan bertempur hingga gugur.
Tsabit bin Arqam dan Khalid Bin Walid Mengambil Bendera Perang
Setelah Abdullah bin Rawahah gugur, bendera perang diambil Tsabit bin Arqam. Ia berkata, “Wahai kaum muslim, angkatlah salah seorang dari kalian yang kalian sepakati untuk menjadi komandan pasukan.” Kaum muslim berkata, ”Engkaulah orangnya.” Tsabit menjawab, “Aku tidak siap.” Kaum muslim akhirnya sepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan mereka.
Khalid mengambil bendera, lalu menyerang musuh dan bertempur hingga sore hari. Setelah senja, Khalid memerintahkan pasukannya agar tetap bertahan di tempatnya. Khalid mengutus orang-orang untuk menebarkan debu dari jauh, sehingga musuh mengira bahwa Khalid mendapat bantuan personel yang banyak.
Keesokan harinya, Khalid menyerang lalu mundur sehingga musuh menduga bantuan besar telah datang. Musuh pun tidak berani mengejar kaum muslim. Dengan demikian, musuh telah kalah dan kemenangan ada di pihak kaum muslim.
Ibrah
Perang Mu’tah meneguhkan kewibawaan Daulah Islam. Setelah peristiwa itu, musuh yang hendak menyerang kaum muslim akhirnya berpikir ulang. Bahkan kabilah kecil di sekitar Daulah Islam memilih bersikap netral, setelah sebelumnya berpihak kepada Romawi atau menjadi agennya. Ada juga kabilah yang masuk Islam pasca perang Mu’tah ini.
Ibrah lainnya, para sahabat adalah generasi terbaik yang dibina langsung oleh Rasulullah ﷺ. Meski demikian, sangat manusiawi jika dalam diri mereka muncul rasa takut. Namun, segera ada afirmasi yang terus ditanamkan dalam dirinya. Inti dari afirmasi itu adalah kesadaran bahwa kebanggaan sejati hanya dimiliki manusia yang mendapat jaminan surga dari Allah Taala.
Hal serupa seharusnya kita teladani. Dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, jangan pernah menghitung tentang apa yang akan kita berikan, sebab Allah tidak pernah menghitung nikmat yang Dia berikan kepada hamba-Nya. [MNews/IA-CJ]
