Penulis: Ustazah Dra. Iffah Ainur Rochmah
Muslimah News, SIRAH — Abu Sufyan dari Makkah datang ke Madinah membawa satu misi, yakni mempertahankan perdamaian sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Sulhu Hudaibiyah. Namun, sebelum menemui Rasulullah ﷺ, ia mencoba mencari jalan melalui orang-orang terdekat beliau. Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Ali bin Abi Thalib telah didatangi. Satu demi satu pintu diketuk, tetapi tidak ada yang memberikan angin segar bagi kepentingan Abu Sufyan.
Perdamaian yang Terancam
Mengapa Abu Sufyan harus datang ke Madinah? Jawabannya terkait dengan apa yang terjadi antara Bani Bakr dan Bani Khuza’ah. Quraisy membantu Bani Bakr menghadapi Bani Khuza’ah, sementara Khuza’ah berada di pihak Rasulullah ﷺ. Artinya, tindakan Quraisy itu tidak bisa dilepaskan dari posisi mereka dalam Sulhu Hudaibiyah.
Padahal, sulhu berarti perdamaian. Perjanjian itu bukan sekadar kesepakatan biasa, melainkan kesepakatan untuk tidak berperang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu peperangan. Oleh karena itu, ketika Quraisy membantu Bani Bakr menghadapi Khuza’ah, situasinya menjadi serius.
Dari sinilah muncul kekhawatiran akan pecahnya perang. Rasulullah ﷺ membaca bahwa Quraisy sebenarnya tidak menginginkan perang. Mereka justru ingin mempertahankan perdamaian dan memperpanjang masa berlakunya karena memperhitungkan besarnya kerugian yang akan mereka hadapi jika perang terjadi. Lalu, Abu Sufyan datang ke Madinah untuk mengupayakan agar perdamaian tersebut tetap dipertahankan.
Tujuannya pun jelas, rumah putrinya, Ummu Habibah, istri Rasulullah ﷺ. Ia berharap putrinya dapat menjadi penolong untuk menyampaikan kepentingannya kepada Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan menuju Madinah, Abu Sufyan bertemu dengan Budail bin Warqa’ yang baru pulang dari sana. Abu Sufyan sebenarnya sudah menduga Budail telah menemui Rasulullah ﷺ. Namun, ketika ditanya, Budail tidak mengakuinya.
Dalam kondisi perang, sikap Budail tersebut merupakan bagian dari strategi. Ia tidak membuka informasi kepada pihak lawan mengenai apa yang telah dilakukan kaum muslim. Ini menunjukkan bahwa kejujuran dalam Islam bukan sekadar mengikuti naluri atau perasaan manusia, tetapi harus ditempatkan sesuai tuntunan syariat dan situasi yang dihadapi.
Seorang muslim berbuat jujur karena Allah memerintahkannya. Karena itu, ukuran baik dan buruk tidak cukup hanya berdasarkan apa yang dianggap baik oleh manusia. Yang menjadi pedoman adalah hukum Allah.
Abu Sufyan mencari bukti lain. Ia mendatangi tempat rombongan Budail dan menemukan sisa biji kurma yang dimakan unta. Dari situ ia menyimpulkan bahwa Budail memang baru datang dari Madinah. Dalam situasi perang, perjalanan ke Madinah tentu bukan untuk bersantai, melainkan sangat mungkin untuk menemui Rasulullah ﷺ.
Abu Sufyan pun menyadari bahwa perang makin tidak terhindarkan. Ia segera menuju Madinah dan berusaha menemui Ummu Habibah, istri Rasulullah ﷺ, dengan harapan mendapatkan bantuan untuk bertemu Rasulullah ﷺ.
Pintu-Pintu yang Tertutup
Namun, harapan itu kandas. Abu Sufyan hendak duduk di tempat yang biasa digunakan Rasulullah ﷺ, Ummu Habibah menyingkirkan tempat duduk tersebut. Bagi Abu Sufyan, sikap putrinya itu menjadi tanda bahwa ia tidak bisa berharap banyak dari sana. Ia pun pergi menemui Rasulullah ﷺ secara langsung.
Rasulullah ﷺ tidak memberikan respons yang diinginkan Abu Sufyan. Bagi seorang politisi, gestur pun dapat menjadi komunikasi politik. Tatapan, sikap, cara berjabat tangan, hingga perhatian dalam sebuah forum dapat menjadi statement politik. Karena itu, Abu Sufyan tentu dapat membaca bahwa misinya tidak memperoleh sambutan positif.
Ia kemudian berusaha mencari jalan lain. Abu Bakar, Umar, dan Ali telah ditemuinya, tetapi tidak satu pun memberikan apa yang diharapkannya. Sampai akhirnya ia bertemu Abbas bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah ﷺ yang telah masuk Islam. Di sinilah lobi itu kembali berlangsung.
Umar bin Khaththab melihat Abu Sufyan masih berusaha mencari jalan. Umar bahkan meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk membunuhnya. Namun, sebelum Rasulullah ﷺ memberikan respons, Abbas menyatakan bahwa ia telah melindungi dan menjamin Abu Sufyan.
Islam atau Diperangi
Setelah itu, persoalannya menjadi sangat jelas. Abu Sufyan ditanya, apa sebenarnya yang ia kehendaki? Apakah ia menerima pilihan untuk masuk Islam, atau memilih diperangi?
Meski akhirnya masuk Islam, Abu Sufyan tidak langsung menerima. Persoalannya bukan karena ia tidak mengenal Islam. Ia bukan orang yang jauh dari Islam. Putrinya sendiri, Ummu Habibah, adalah istri Rasulullah ﷺ. Para pemuka Quraisy juga bukan tidak mengetahui kebaikan dan keunggulan Islam. Persoalannya adalah ketidakmauan menerima dan ketidakmampuan menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti kebenaran yang datang melalui Islam.
Masuk Islamnya Abu Sufyan bukan hanya memiliki arti bagi dirinya. Sebagai salah satu tokoh besar Quraisy, keislamannya juga menjadi statement politik yang berpengaruh bagi masyarakat Quraisy Makkah. Abbas kemudian mengusulkan agar masuk Islamnya Abu Sufyan diapresiasi.
Rasulullah ﷺ memberikan bentuk perlindungan, yakni siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan aman, siapa yang memasuki rumah tokoh tertentu yang sebelumnya berada di pihak musyrik lalu masuk Islam juga aman, siapa yang memasuki Masjidilharam aman, dan siapa yang menutup pintu rumahnya juga aman.
Batas Diplomasi
Dari kisah ini terlihat satu pelajaran penting. Diplomasi memang membuka ruang komunikasi. Seorang utusan dapat mencari jalan melalui berbagai saluran. Musyawarah juga memiliki tempatnya. Akan tetapi, tidak semua perkara dapat dinegosiasikan tanpa batas.
Di sinilah pentingnya membedakan antara perkara yang dapat dimusyawarahkan dan perkara yang telah memiliki ketetapan. Musyawarah dan pemberian masukan tidak bermakna setiap keputusan harus mengikuti keinginan manusia.
Kisah Abu Sufyan menunjukkan batas itu dengan sangat jelas. Ia datang membawa kepentingan politik. Ia mencoba menemui orang-orang yang dianggap dapat membantunya. Ia mencari jalan melalui putrinya, Abu Bakar, Umar, Ali, hingga Abbas. Namun, semua upaya itu tidak serta-merta mengubah sikap Rasulullah ﷺ.
Yang harus ditundukkan bukanlah keputusan Rasulullah ﷺ, melainkan hawa nafsu Abu Sufyan sendiri. Ia telah mengenal Islam dan menyaksikan kebenarannya. Persoalan sesungguhnya adalah keberanian menerima kebenaran itu, ketika penerimaan tersebut menuntut seseorang melepaskan ego, kedudukan, dan kepentingan yang selama ini melekat pada dirinya.
Diplomasi Abu Sufyan berakhir buntu. Namun, kebuntuan itu justru membuka jalan bagi keputusan besar, yaitu menerima Islam atau menghadapi konsekuensinya. [MNews/Aisyah-CJ]
