[Kabar] Persoalan Dokter Internship, Pemerhati: Akumulasi Penerapan Sistem Sekuler Kapitalistik

[Kabar] Persoalan Dokter Internship, Pemerhati: Akumulasi Penerapan Sistem Sekuler Kapitalistik

Muslimah News, NASIONAL — Kemenkes melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Program Internship Dokter Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan peserta sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola program. Langkah ini dilakukan menyusul enam kasus meninggalnya peserta internship sepanjang 2026 yang seluruhnya telah diaudit dan diinvestigasi bersama tim gabungan.

Kematian dokter muda ini dinilai menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Pembenahan secara menyeluruh diperlukan terhadap sistem penyelenggaraan program internship.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Kesehatan akan melaksanakan pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi 10.564 peserta Program Internship Dokter Indonesia yang saat ini bertugas di seluruh Indonesia. Pemeriksaan tersebut meliputi medical check-up (MCU), pemeriksaan kesehatan fisik, laboratorium, serta skrining kesehatan jiwa. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar penilaian kondisi kesehatan peserta sekaligus dievaluasi bersama pencapaian kompetensi melalui log-book. Peserta yang telah memenuhi target kompetensi dan dinyatakan sehat dapat menyelesaikan program internship tanpa perpanjangan masa tugas.

Selain itu, Kemenkes juga memperkuat sistem pendampingan terhadap peserta internship. Komunikasi antara peserta, dokter pendamping, wahana, Komite Internship Kedokteran Indonesia (KIKI), pemerintah daerah, hingga Kementerian Kesehatan menjadi faktor penting untuk mendeteksi lebih dini berbagai persoalan yang dihadapi peserta.

Dampak Buruk Sistem Sekuler

Menurut pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti, berbagai persoalan tersebut sejatinya merupakan dampak buruk dari akumulasi penerapan sistem sekuler kapitalistik dalam berbagai aspek, seperti pendidikan—pendidikan dasar hingga pendidikan dokter—, juga tata kelola layanan kesehatan maupun kehidupan.

“Sekularisme kapitalistik telah menjadi asas sejak pendidikan dasar hingga pendidikan dokter. Sistem yang menjauhkan kehidupan dari agama ini menghasilkan individu yang berorientasi dunia dan lemah mentalnya,” ungkapnya kepada MNews, Senin (10-8-2026).

Ia menilai, penerapan sistem ini dalam kehidupan, termasuk dalam kebijakan negara, menghantarkan pada pola hidup yang rusak dan lingkungan yang rusak pula. “Akibatnya, muncul banyak penyakit dan stres berat pada rakyat. Ini jelas memperberat beban para dokter, termasuk dokter internship yang berada pada fase peralihan antara dunia pendidikan dan dunia nyata sebagai dokter profesional,” tuturnya.

Kondisi ini, lanjut Arum, diperparah dengan tata kelola layanan kesehatan yang juga berasas sekularisme kapitalisme. “Regulasi ada, tetapi ada banyak celah pelanggaran yang tanpa sadar ditolerir sebagai sebuah kebiasaan. Akibatnya, beban kerja berlebih, terjadi pengalihan wewenang yang tidak seharusnya, dan kompensasi yang ‘sekadarnya’. Ini menjadi bom waktu yang siap memakan korban,” kritiknya.

Belum lagi, jelasnya, sanksi hukum yang tidak menjerakan menambah lebar celah pelanggaran, yang semua itu membahayakan para dokter dan rakyat sebagai pasien.

Perubahan Menyeluruh

Arum menegaskan, kondisi ini butuh perubahan menyeluruh. “Apalagi, profesi dokter tidak hanya membutuhkan kekuatan ilmu, tetapi juga kesehatan fisik dan mental, serta regulasi yang tertib dan tegas dengan tetap memperhatikan kondisi dokter sebagai manusia biasa,” paparnya.

Perubahan menyeluruh, sambungnya, harus diawali dengan perubahan pada akar masalahnya. “Sekularisme kapitalisme harus ditinggalkan dan diganti dengan sistem Islam. Hanya sistem Islam kafah dalam bangunan Khilafah Islamiah yang mampu menyelesaikan semua persoalan secara mendasar. Sistem Islam kafah menjadikan akidah sebagai asas dalam seluruh aspek kehidupan sehingga keimanan kepada Allah Swt. menjadi sumber kekuatan,” urainya.

Dengan asas akidah Islam ini pula, terang Arum, Khilafah membangun sistem pendidikan gratis sejak tingkat dasar hingga tinggi, termasuk pendidikan kedokteran. “Khilafah menyelenggarakan pendidikan kedokteran berkualitas sehingga melahirkan dokter beriman kuat, profesional, berbadan sehat dan bermental tangguh,” tuturnya.

Tata kelola layanan kesehatan, jelasnya, dijalankan oleh Khilafah dengan prosedur yang mudah dan cepat, akad profesional, dan memperhatikan aspek kemanusiaan dengan kompensasi terbaik. “Ini karena Khilafah memandang profesi dokter sebagai profesi penting dalam kehidupan rakyat, sementara kesehatan adalah hak setiap individu rakyat. Sistem sanksi yang tegas akan diterapkan karena menjadi salah satu pilar tegaknya syariat Allah,” imbuhnya.

Asas akidah Islam yang diterapkan Khilafah, tutur Arum, akan mendorong terwujudnya masyarakat yang hidup taat pada syariat dan tinggi literasi kesehatannya sehingga hidup sehat dan meninggalkan hal-hal yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain.

“Di sisi lain, Khilafah juga mewujudkan kesejahteraan pada setiap individu rakyat. Layanan kesehatan dibangun secara merata, dengan kualitas terbaik dan tanpa biaya. Pembangunan yang dilakukan pun memperhatikan lingkungan sehingga tidak memberikan dampak buruk terhadap kesehatan rakyat,” tuturnya mengutip sabda Rasulullah saw. riwayat Ibnu Majah dan Daruquthni, “Janganlah membahayakan pada diri sendiri, dan jangan pula membahayakan orang lain.”

Tata Kelola Kesehatan Islam

Dengan tata kelola kesehatan Islam, ucapnya, terwujudlah rakyat dengan derajat kesehatan yang tinggi dan angka kesakitan berkurang sehingga beban SDM kesehatan berkurang. “Bahkan, mekanisme tersebut akan melahirkan dokter-dokter yang berintegritas tinggi, profesional, juga sehat fisik dan mental,” tandasnya.

Arum mengingatkan, kondisi ideal ini pernah terwujud ketika peradaban Islam memimpin dunia sepanjang 1.300 tahun lamanya. “Bangunan megah berbagai bimaristan (rumah sakit) menjadi saksi keunggulan para dokter dan tata kelola layanan kesehatan Islam masa tersebut. Bahkan, sebagiannya masih bisa kita saksikan hari ini. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk segera mewujudkannya kembali, pungkasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *