Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.
Muslimah News, OPINI – Berkumpulnya 2.000-an umat Islam di Times Square New York City, AS, untuk melaksanakan Tarawih berjemaah menjadi hal menarik yang dibahas seluruh dunia. Ini adalah kali pertama kaum muslim AS—yang notabene minoritas—menggelar tarawih bersama di kota padat tersebut.
Padahal, AS adalah negara yang pertama kalinya menyerukan islamofobia pada dunia. Terlebih New York adalah kota yang sangat akut mengidap islamofobia sebab kota ini merupakan tempat terjadinya tragedi 11 September 2001 silam, yakni penyerangan Gedung kembar WTC yang diklaim sebagai serangan aksi terorisme. Dari tragedi tersebut, wajah teroris dilabelkan pada kaum muslim dan AS mulai mempropagandakannya ke seluruh dunia.
Serangkaian peristiwa islamofobia pun terjadi. Sebut saja penghinaan terhadap Rasulullah dengan pembuatan karikatur Nabi di Denmark, penutupan masjid dan pesantren di Prancis, juga pelarangan hijab di India.
Bahkan, tragedi serangan yang berujung pada hilangnya nyawa umat Islam telah terjadi atas nama islamofobia, sebut saja penembakan pada jemaah masjid di Christchurch Selandia Baru, pengusiran dan pembantaian warga Rohingya oleh militer Myanmar, dan masih banyak lainnya.
Namun demikian, alih-alih berkurang, jumlah penganut Islam makin hari makin besar, termasuk di negara-negara Barat yang mengidap akut islamofobia, seperti AS dan Eropa. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah ini tanda kebangkitan Islam?
Muslim AS
Di AS sendiri, menurut data dari Pew Research Center, populasi muslima di AS terus naik. Pada 2050, populasi muslim diprediksi mencapai 8,1 juta orang alias tumbuh dua kali lipat. Artinya, agama Islam dapat menjadi agama kedua terbesar setelah Kristen, mengalahkan Hindu dan Yahudi.
Selain berpindah agama, alasan meningkatnya jumlah muslim di negeri Paman Sam ini adalah karena migrasi, yakni sebanyak 10% imigran yang datang ke AS adalah muslim. Faktor lainnya adalah tingginya kelahiran bayi dari keluarga muslim AS–yang memang cenderung memiliki anak lebih banyak daripada keluarga AS lainnya.
Pertumbuhan populasi muslim yang tidak terelakkan ini menyebabkan jumlah masjid pun terus bertambah secara signifikan. Berdasarkan hasil survei 2020, masjid di AS mencapai 2.769 masjid. Jika dibandingkan pada 2010, terjadi peningkatan sebesar 31%. (Laporan yang dikutip Yenisafak berjudul ‘The American Mosque 2020: Growing and Evolving’ 2021).
Survei ini didukung sejumlah lembaga di AS, termasuk Islamic Society of North America (ISNA), Center on Muslim Philanthropy, Institute for Social Policy and Understanding (ISPU), dan Association of Statisticians of American Religious Bodies (ASARB). (Voi, 2021)
Dengan demikian, tarawih di AS sedang mempertontonkan pada dunia bahwa populasi muslim di negara tersebut makin besar. Selain itu, berkumpulnya umat di tempat ramai dan terbuka untuk melaksanakan Tarawih merupakan bagian dari perlawanan mereka terhadap islamofobia. Akan tetapi, apakah ini juga pertanda kebangkitan Islam?
Respons Biden
Tentu kita harus mengapresiasi peristiwa ini yang merupakan sejarah bagi kaum muslim di New York. Terlebih, di negeri kita yang notabene mayoritas muslim, justru banyak tanggapan “nyinyir” terhadap berkumpulnya kaum muslim untuk menyiarkan agama Islam. Sebut saja terhadap Aksi 212 atau yang terbaru adalah gerakan membaca Al-Qur’an di Malioboro, Yogyakarta. Seharusnya, siar Islam seperti ini didukung oleh seluruh umat Islam Indonesia, bukan malah dinyinyiri.
Terlepas dari itu semua, ada hal lain yang patut kita soroti, yaitu respons dunia. Sejumlah media memberitakan peristiwa tersebut sebagai wujud toleransi beragama. Juga menganggap toleransi beragama di AS cukup tinggi sehingga negeri muslim harus mencontoh AS dalam menjalankan toleransi beragama.
Ditambah dengan perkataan Presiden AS Joe Biden saat merespons peristiwa tersebut. Biden mengapresiasi dan berpesan pada umat Islam di seluruh dunia bahwa bulan suci merupakan waktu untuk berefleksi dan menumbuhkan spiritual. Komunitas berkumpul untuk mempraktikkan belas kasih, kemurahan hati kepada yang membutuhkan, memberi, dan untuk merayakan bersama orang terkasih.
Biden pun mengutip QS Al-Zalzalah: 8 untuk mengingatkan bahwa Al-Qur’an mengajarkan bahwa siapa pun yang melakukan kebaikan walaupun seberat atom, akan ada balasannya. Biden menegaskan bahwa AS akan terus bersuara untuk hak asasi manusia, termasuk untuk Uighur di Cina, Rohingya di Burma, dan komunitas muslim lainnya di seluruh dunia. (Okezone, 7/4/2022)
Bukan kali ini saja Biden mengutip dalil syarak. Saat kampanye Pilpres 2020, Biden menggunakan hadis demi menarik dukungan suara muslim. Tentu ini bukan karena Biden percaya Al-Qur’an, tetapi semata demi kepentingan politiknya.
Begitu pun kutipan dalil yang mengajak umat memperjuangkan HAM atas muslim Uighur di Cina. Tentu ini bukan karena AS membela Islam, tetapi semata untuk kepentingan negaranya yang sedang terancam kekuatan ekonomi Cina.
PBB Serukan Kebebasan Agama
Selain respons media yang seolah sedang mengembalikan citra AS pada negara yang menegakkan HAM—setelah sebelumnya citra itu makin hancur di bawah kekuasaan Donald Trump—Biden pun menarik mundur pasukan yang telah menduduki Afganistan selama 20 tahun. Ditambah, media AS kini yang paling getol membongkar perilaku biadab pemerintahan Cina pada Muslim Uighur. Hal ini seolah menggiring opini dunia bahwa di bawah Biden, kaum muslim terlindungi.
Tahun lalu, PBB juga menyerukan perang melawan islamofobia. Dalam Twitter resminya, PBB mengatakan bahwa mereka mendukung dialog global yang mempromosikan budaya toleransi dan perdamaian, berlandaskan pada HAM dan keberagaman beragama.
Tanggal 15 Maret dipilih sebagai Hari Peringatan Internasional Melawan Islamofobia karena bertepatan dengan peristiwa Jumat berdarah di Selandia Baru. Padahal, kita ketahui, PBB adalah lembaga bentukan AS yang dianggap menjadi perpanjangan tangan AS untuk menjadi “polisi dunia”; mengatur dunia sesuai dengan agenda global mereka.
Oleh karenanya, melihat respons PBB yang kini ikut melawan islamofobia dan mempromosikan kebebasan agama, patut kita duga ini merupakan langkah politik untuk mewujudkan agenda global mereka.
Agenda Global
Sebagai negara adidaya, tentu AS memiliki agenda global untuk mempertahankan hegemoninya. Ancaman demi ancaman harus diredam sedini mungkin. Emerging power of China, misalnya, lalu ancaman Rusia, juga ancaman kebangkitan Islam yang harus segera mereka atasi. Walhasil, strategi harus ditancapkan agar umat Islam tidak bangkit untuk kembali memimpin dunia.
Dengan demikian, promosi toleransi beragama dan menjadikan AS sebagai kiblat toleransi beragama bukan tidak mungkin menjadi strategi untuk meredam kebangkitan Islam. Ini karena toleransi yang Barat ajarkan adalah menyamakan semua agama dan beragama harus sesuai nilai-nilai yang diadopsi Barat. Tentu ini bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Kaum muslim tidak boleh terkecoh pada apa pun yang Barat aruskan. Kaum muslim harus meyakini bahwa agamanyalah yang benar, lalu menjadikannya sebagai pedoman hidup. Apa pun yang ia lakukan harus sesuai dengan syariat kafah, tidak boleh tercampur dengan pemahaman kufur. Yang tidak kalah penting adalah cara agar Islam dapat kembali tegak, yaitu dengan mengikuti Sunah Rasulullah saw..
Khatimah
Wahai kaum muslim, sesungguhnya kaum kafir telah melakukan segala upaya dalam membendung kebangkitan Islam. Sedangkan mereka mengetahui yang mereka lakukan hanyalah mengulur waktu hingga tiba saatnya Islam memimpin dunia.
Untuk menjadikan masyarakat hidup damai dan penuh ketenangan, bukan dengan toleransi dan kebebasan beragama, melainkan dengan menerapkan syariat Islam kafah dalam bingkai Khilafah Islamiah. Inilah metode yang Nabi ajarkan.
Walhasil, seruan kaum muslim bukan hanya untuk melawan islamofobia, tetapi juga menolak toleransi dan kebebasan beragama yang digaungkan Barat. [MNews/Gz]
Foto sampul: Kompas TV
