Harapan Islam untuk Generasi Milenial

Harapan Islam untuk Generasi Milenial

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, OPINI — Dalam pembukaan Pekan Milenial Naik Kelas, Presiden Jokowi mengungkapkan harapan besarnya kepada milenial yang menghuni lebih dari 50% penduduk Indonesia.

Terdapat tiga pesan penting Presiden untuk milenial. Yang pertama, mereka harus melek digital dan tidak gaptek.

Kedua, milenial harus mahir berwirausaha atau membuka lapangan kerja dan membantu masyarakat serta orang-orang sekitar untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Ia berharap agar milenial tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada lapangan kerja.

Ketiga, Presiden berharap selain memiliki kecakapan digital, generasi milenial juga harus memiliki kecakapan finansial. Ia mengatakan peran kaum muda sangat penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Demi mewujudkan hal itu, pemerintah sangat mendukung akses modal bagi milenial untuk mendukung kaum muda agar siap berwirausaha dan siap bekerja, Di antaranya adalah program kartu prakerja yang sudah termanfaatkan untuk memulai usaha baru.

Potensi Milenial

Berdasarkan data BPS, hasil sensus penduduk 2020 menyatakan jumlah penduduk Indonesia didominasi usia muda.  Jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94% dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Sementara itu, jumlah penduduk paling dominan kedua berasal dari generasi milenial sebanyak 69,38 juta jiwa penduduk atau sebesar 25,87%.

Generasi Z sendiri merujuk pada penduduk yang lahir di periode kurun waktu tahun 1997—2012 atau berusia antara 8—23 tahun. Sementara generasi milenial adalah mereka yang lahir pada kurun waktu 1981-1996 atau berusia antara 24—39 tahun. (kompas, 22/1/2021)

Itulah sebab, tidaklah berlebihan jika banyak yang mengatakan bahwa Indonesia saat ini sedang memanen bonus demografi. Dengan bonus ini, potensi generasi muda sebagai pilar peradaban akan bergantung pada sudut pandang ideologi yang mendominasinya.

Terjebak Paradigma Kapitalisme

Jika kita memandang potensi ini dalam kacamata kapitalisme maka bonus demografi yang sedang terjadi di Indonesia akan memberi banyak keuntungan bagi korporasi. Tenaga dan keterampilan milenial seperti melek digital, cakap finansial, dan produktif bekerja adalah modal dasar bagi industri untuk memanfaatkan mereka sebagai SDM “buruh”. Alhasil, kehidupan mereka hanya akan berkutat pada upaya mencari materi sebanyak-banyaknya.

Dengan alasan ini pula kurikulum pendidikan hari ini diarahkan untuk mengisi sektor industri dan dunia kerja. Tengok saja betapa banyak lembaga pendidikan yang menawarkan sekolah kejuruan dan keahlian agar generasi muda terserap dengan baik di dunia kerja.

Begitu pula dengan pendidikan vokasi yang ada di perguruan tinggi. Tujuannya sama, agar milenial makin produktif. Dalam pandangan kapitalisme, produktif yang dimaksud ialah kreatif menghasilkan uang dan berwirausaha secara mandiri.

Melek digital dan cakap finansial memang keterampilan yang milenial butuhkan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Hanya saja, keterampilan dan segala potensi yang dimiliki milenial haruslah diberdayakan dengan paradigma yang benar, yakni membangun peradaban unggul. Bukan hanya meraih pundi-pundi harta, tetapi miskin visi misi penciptaan manusia.

Adapun dalam hal berwirausaha, sekilas harapan yang disampaikan Presiden tampak bagus. Hanya saja, ucapan tersebut seakan menyiratkan pesan bahwa negara mulai berlepas diri dari tanggung jawabnya menyediakan lapangan kerja untuk menyediakan akses lapangan kerja yang memadai.

Negara mendorong masyarakat berwirausaha sendiri, memenuhi kebutuhannya sendiri, dan kalau bisa membantu membuka lapangan kerja baru. Secara tidak langsung, negara telah melalaikan tugas pokoknya dalam menjamin kesejahteraan bagi rakyat.

BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) anak muda berusia 20-24 tahun pada Februari 2021 mencapai 17,66%, sedangkan usia 25-29 tahun mencapai 9,27%. Dari sisi pendidikan, tingkat pengangguran terbuka yang berasal dari lulusan SMA, SMK dan pendidikan tinggi universitas masih tinggi. TPT dari lulusan SMA naik dari 6,69% tahun lalu menjadi 8,55% tahun ini, begitu juga pada lulusan SMK yang naik dari 8,42% menjadi 11,45% serta universitas dari 5,70% menjadi 6,97%. (Katadata, 31/8/2021)

Siapa yang bertanggung jawab atas hal itu? Tentu saja negara. Mereka menganggur bukan karena rasa malas atau tidak berusaha keras dalam mencari kerja, tetapi karena minimnya peran negara dalam membuka lapangan kerja untuk mereka. Negara justru memberi porsi banyak dengan memberi serapan kerja bagi tenaga kerja asing.

Harus Bangkit

Mari kita merenung sejenak dengan apa yang pernah Hasan al Banna katakan mengenai pemuda, “Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia mana pun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya.”

Kebangkitan pemuda hanya bisa kita wujudkan manakala pemuda kembali pada hakikat visi misi ia diciptakan, yaitu sebagai hamba Allah dan pemimpin peradaban. Potensi generasi milenial harus kita arahkan pada paradigma yang benar, yakni Islam.

Salah satu masalah krusial problem generasi muda saat ini problem identitas dan jati diri. Di saat teknologi informasi melewati batas-batas ruang, tidak sedikit generasi muda terombang-ambing dengan arus hedonis dan permisif. Pergaulan sosial di antara mereka bahkan sangat jauh dari aturan Islam. Semua ini terjadi akibat sistem kehidupan sekuler liberal yang merusak.

Alhasil, banyak kita jumpai generasi muda melek digitalisasi, tetapi hatinya dipenuhi nafsu duniawi. Banyak generasi muda didorong menjadi wirausahawan, tetapi tidak didorong untuk berkepribadian Islam. Banyak anak muda kita terampil teknologi dan finansial, tetapi belum cakap dalam beragama. Antara kehidupan dunia dan akhirat tidak seimbang.

Padahal, Islam menuntun para pemuda menjadi generasi yang mengakhirat, bukan hanya mendunia. Islam berharap agar pemuda mampu melakukan peran pentingnya, yaitu sebagai  pioner perubahan ke arah kebangkitan Islam.

Keteladanan Pemuda

Muhammad al-Fatih adalah satu contoh pemuda teladan di masa peradaban Islam. Di usianya yang masih belia 14 tahun, ia sudah hafal Al-Qur’an dan menguasai 6 bahasa dunia. Di usia 21 tahun, ia menggantikan ayahnya sebagai kepala negara di Kekhalifahan Turki Utsmani. Selain itu, ia juga ahli taktik militer, rajin ibadah, bahkan tak pernah meninggalkan salat malam dan rawatibnya.

Berkat prestasi itulah, Allah Swt. memberikan kemenangan kepadanya dalam menaklukkan Konstantinopel yang kala itu bentengnya tidak bisa ditembus selama 750 tahun lamanya. Kekuasaan Byzantium yang adidaya saat itu takluk di tangan seorang Muhammad al-Fatih.

Imam Syafi’I pernah berkata, “Hayaatu al-fata bil ‘ilmi wa at-tuqa.” (hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa). Ada tiga kata kunci penting yang dapat digali dari ungkapan tersebut, pertama kata dari “pemuda”, yang kedua “ilmu”, dan yang terakhir adalah “takwa”.

Pemuda harus memilki visi hidup yang jelas sebagai seorang muslim, yakni sebagai hamba Allah Swt. yang tunduk dan taat kepada perintah Allah. Pemuda juga harus memiliki kecakapan ilmu yang memberinya bekal menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

Ilmu dunia untuk memberi kebermanfaatan dan kemaslahatan bagi umat. Ilmu akhirat diperuntukkan agar ia beramal sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebab, wajib bagi setiap pemuda muslim untuk mengkaji dan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, untuk diamalkan dalam kehidupan.

Realisasi tertinggi atas ketaatan seorang hamba akan mewujudkan ketakwaan hakiki. Dengan ilmu dan takwa inilah, Rasulullah saw. membina dan mendidik para sahabat menjadi pribadi-pribadi yang saleh, kuat, dan militan.

Rasulullah memperkuat barisan perjuangan dakwahnya dengan membina para pemudanya. Sebut saja Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Sa’ad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam, Mush’ab bin Umair, Thalhah bin Ubaidillah, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Haritsah, dan sebagainya. Mereka semua menjadi pejuang dakwah di usia belia.

Sudah saatnya generasi muda milenial bangkit bersama Islam. Jangan mau tenggelam di bawah peradaban kapitalisme sekuler yang jelas rusak dan merusak. Jadilah generasi muda dambaan umat. Wallahualam. [MNews/Has]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *