[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 7/7)

[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 7/7)

Penulis: MR Kurnia, dkk

Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bagian 6/7.

Muslimah News, TELAAH KITAB — Adapun jawaban paham sekuler (sekularisme) terhadap Al-Uqdatul al-Kubro adalah jawaban yang amat spekulatif. Sebabnya, jawaban tersebut berasal dari manusia yang lemah dan terbatas, serta tidak dapat menjangkau pengetahuan di luar batas-batas kemampuan indrawinya. Bahkan, mereka sendiri pun tidak yakin apakah jawaban itu benar. Apabila ada jawaban yang pasti benar (yang bersumber dari wahyu), jawaban spekulatif ini pasti salah.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk meyakini jawaban tentang Al-Uqdatu al-Kubro yang diberikan oleh Islam karena jawaban ini didasarkan pada wahyu yang pasti benar. Allah Swt. menjelaskan bahwa setiap muslim wajib mengikuti apa yang telah diturunkan-Nya dan haram mengambil petunjuk dari selain-Nya.

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al-A’raf: 3).

Jawaban Islam tentang Al-Uqdatu al-Kubro yang bersumber dari wahyu Allah Swt. adalah jawaban yang sahih, memuaskan akal, dan sesuai dengan fitrah manusia.

“Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 1—2).

Islam telah memberikan jawaban tuntas tentang tiga pertanyaan mendasar, “dari mana manusia berasal?”, “untuk apa manusia hidup?”, dan “akan ke mana setelah mati?” Dengan demikian, simpul besar hakikat hidup seorang muslim tersingkap dengan gamblang, yakni manusia diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya. Setelah mati, manusia akan kembali kepada Allah Swt. untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukan di dunia pada Hari Perhitungan (yaumu al-hisab). Setelah itu akan ditentukan apakah manusia akan menjadi penghuni surga atau neraka.

Sesungguhnya hidup seorang muslim adalah hidup dengan misi yang agung, hidup yang terarah dan mantap, serta hidup yang bermutu tinggi dengan keyakinan akan kegemilangan hidup hakiki yang abadi di akhirat kelak.

Oleh karenanya, fase kehidupan dunia dengan fase kehidupan sebelumnya terikat dengan hubungan penciptaan (shilatu al-khalq). Sementara itu, fase kehidupan dunia dengan fase kehidupan sesudahnya terikat dengan perhitungan (hisab).

Allah Swt. menciptakan manusia dan melengkapinya dengan potensi-potensi kehidupan (thaqatun hayawiyatun). Potensi-potensi ini secara fitri akan mendorongnya untuk beraktivitas mewujudkan misi penciptaannya, yakni sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Potensi kehidupan yang dimaksud, menurut Syekh Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab Al-Fikru al-Islamiy, berupa hajatu al ‘udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan garizah (naluri).

Hajatu al-‘udhawiyah dapat berupa rasa lapar, haus, serta kebutuhan untuk buang hajat besar dan kecil. Sedangkan garizah berupa naluri beragama (gharizatu al-tadayun) perwujudannya berupa kecenderungan manusia untuk melakukan ibadah atau aktivitas menyucikan segala sesuatu yang dianggapnya besar. Naluri melangsungkan keturunan (gharizatu al-nau’) perwujudannya di antaranya berupa ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya. Adapun naluri untuk mempertahankan diri (gharizatu al-baqa’), salah satu wujudnya adalah keinginan manusia untuk menjadi pemimpin.

Kebutuhan jasmani dan naluri itu menghendaki pemenuhan. Persoalannya adalah selain terkait dengan kemampuan menyediakan sarana/alat (material) pemuas, juga cara manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri itu. Di sinilah, sesuai dengan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah Swt., maka upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan itu juga senantiasa harus berlandaskan pada aturan-aturan syariat Allah. Dengan demikian, upaya memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan Allah Swt. berarti bertentangan dengan hakikat misi penciptaan manusia. [MNews/RY-YG]

Sumber: MR Kurnia, dkk., Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *