Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Jarang diketahui bukan berarti tidak dikenal di kalangan sahabat Nabi ﷺ. Selain dikenal sebagai sahabat dan pejuang tangguh, Abu Dujanah juga dikenal sebagai ayah yang penuh tanggung jawab.
Abu Dujanah dikenal sebagai sahabat Nabi yang setelah salat selalu segera pulang tanpa menunggu doa Rasulullah ﷺ. Hal ini membuat Rasulullah bertanya kepadanya tentang alasannya, “Mengapa engkau berperilaku demikian, wahai Abu Dujanah?”
Abu Dujanah menjawab, “Di pekaranganku ada pohon kurma yang bukan milikku, melainkan milik tetanggaku yang dikenal sebagai orang munafik. Oleh karena itu, setiap kali kurma jatuh, aku segera membersihkannya dan menyerahkannya kepada pemiliknya. Aku tidak pernah berharap imbalan. Tujuanku hanya agar anak-anakku tidak memakan sesuatu yang haram. Namun, suatu hari aku mendapati anakku sudah lebih dahulu bangun dan memakan kurma tersebut. Aku pun segera mengeluarkannya dari mulutnya, meski anakku menangis tersedu-sedu. Begitulah keadaannya, ya Rasulullah.”
Penjelasan Abu Dujanah membuat Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ash-Shiddiq begitu terharu hingga keduanya meneteskan air mata. Mereka tersentuh oleh kesungguhan Abu Dujanah menjaga keluarganya dari hal-hal yang haram, meski hidup dalam keterbatasan.
Rasulullah ﷺ sangat mengagumi kejujuran dan ketaatan Abu Dujanah. Beliau bahkan mencari pemilik pohon kurma tersebut dan menawarkan harga tinggi untuk membelinya. Hal ini dilakukan Rasulullah ﷺ sebagai bentuk kepedulian terhadap sahabatnya yang sedang kesulitan. Air mata Rasulullah ﷺ bukan hanya ungkapan haru, melainkan juga tanda kasih sayang dan penghargaan atas keteguhan iman Abu Dujanah. (Disarikan dari berbagai sumber).
Hikmah
Dari sekelumit kisah Abu Dujanah tersebut dapat kita petik beberapa hikmah. Pertama, Abu Dujanah menegaskan pentingnya jujur dan taat kepada Allah Taala, meski dalam kesulitan. Di tengah kehidupan sekuler yang konsumtif, nilai kejujuran dan ketaatan sering kali terabaikan. Godaan untuk meraih keuntungan dengan cara instan dan tidak halal begitu kuat. Demikianlah, kehidupan sekuler menjauhkan manusia dari ketaatan dan kejujuran. Terlebih jika seseorang tersebut diberi amanah berupa jabatan dan kekuasaan. Mereka terlena dengan nikmat dunia dan tidak takut akan hisab yang menantinya di akhirat jika berlaku curang dan khianat.
Kedua, Abu Dujanah mengajarkan agar berhati-hati serta memastikan bahwa nafkah yang diberikan kepada keluarga bukan harta haram.
Ketiga, Abu Dujanah merupakan teladan ideal seorang ayah yang penuh tanggung jawab dan senantiasa takut kepada Allah dalam mendidik anak-anaknya. Kisahnya menjadi pengingat bahwa Islam mewajibkan setiap orang tua untuk menanamkan akidah Islam dan kepribadian mulia kepada putra dan putri mereka.
Keempat, Abu Dujanah menunjukkan sikap kanaah, yakni merasa cukup dan tidak tamak. Ketamakan dan kerakusan akan mendatangkan bencana bagi orang lain. Kerakusan dan keserakahan (at-thama’) bukan sekadar kelemahan pribadi, melainkan penyakit hati yang merusak tatanan sosial.
Kerakusan lahir dari keinginan berlebihan. Sementara itu, keserakahan tumbuh dari nafsu yang tidak pernah puas akan harta, kuasa, dan kenikmatan dunia. Jika dibiarkan, keduanya akan melahirkan ketidakadilan, eksploitasi, dan runtuhnya nilai moral dalam masyarakat.
Orang yang rakus akan mengabaikan batas halal dan haram. Sedangkan orang yang serakah akan terus menumpuk kekayaan tanpa peduli penderitaan orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, ia pasti ingin memiliki lembah ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam, kecuali tanah (kematian). Dan Allah akan menerima tobat siapa saja yang bertobat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kisah Abu Dujanah menegaskan bahwa hakikat kekayaan bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada ketaatan kepada Allah Taala dan ketenangan hati. Kisah ini juga memberikan satu pesan penting bahwa beriman dan bertakwa membutuhkan habitat yang baik, yakni sistem kehidupan yang diatur berdasarkan syariat Islam secara kafah. Semoga kisah ini menjadi dorongan bagi kita untuk senantiasa taat, jujur, dan menjaga iman di tengah kehidupan sekuler yang mengikis nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]
