Penulis: MR Kurnia, dkk
Sambungan dari “Mengenali Potensi” Bagian 3/7.
Muslimah News, TELAAH KITAB — Allah Swt. berfirman bahwa manusia akan membaca catatan amalnya sendiri selama hidup di dunia, “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan ia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak ‘Celakalah aku.’ Dan ia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS Al-Insyiqâq: 7—12).
“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduh, celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun juga.” (QS Al-Kahfi: 49).
Setelah itu manusia akan digiring ke tempat di mana timbangan amal perbuatannya diletakkan.
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan) itu hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya (pahalanya). Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al-Anbiyâ: 47).
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya), maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangannya (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS Al-Qari’ah: 6—9).
Setelah tahapan ini selesai, manusia akan dimasukkan ke dalam neraka atau surga. Orang kafir, baik dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun orang musyrik, akan dijebloskan ke neraka dengan diseret atas muka mereka selamanya. Muslim yang lebih banyak dosanya daripada amal baiknya akan masuk neraka untuk sementara waktu sesuai yang dikehendaki Allah dan selanjutnya masuk surga.
“… Allah memerintahkan para malaikat mengentas dari neraka itu orang-orang yang tidak pernah sekalipun melakukan perbuatan syirik. Yaitu, mereka yang berucap Laa ilaaha illallah. Orang-orang ini dapat diketahui melalui ciri khasnya, yakni di wajahnya ada bekas sujud. Api yang membakar tubuh manusia itu tidak sampai melalap bagian-bagian tubuh yang pernah bersujud. Dan itu memang dilarang Allah. Maka keluarlah mereka dengan keadaan terbakar. Untuk memadamkannya, disiramkanlah ke tubuh-tubuh yang hangus itu air kehidupan. Dari air itu, bekas-bekas yang terbakar menjadi musnah dan membuat mereka tumbuh seperti biji-biji yang terbawa air bah.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).
“Orang-orang (kafir) yang dihimpunkan ke Neraka Jahanam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.” (QS Al-Furqân: 34).
“Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS Al-Bayyinah: 6).
Siksa neraka begitu dahsyat. Amat berat penderitaan para penghuni neraka menanggung semua siksa. Rasul menggambarkan, siksa yang paling ringan saja cukup membuat otak mendidih.
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS An-Nisa: 56).
“Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancurluluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” (QS Al-Hajj: 19—20).
“Azab yang paling ringan di neraka pada Hari Kiamat adalah seseorang yang pada dua telapak kakinya ada dua bongkah bara api, lalu bara api ini akan merebus otak orang tersebut.” (HR At-Tirmidzi).
Adapun orang-orang mukmin, mereka akan masuk surga yang penuh kenikmatan seraya mendapatkan rida dari Allah Azza wa Jalla. Para nabi, syuhada, ulama, dan shiddiqin akan masuk ke dalam surga-Nya dengan mendapat limpahan rahmat dan rida-Nya.
“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-Waqi’ah: 17—24).
“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Akan tetapi, mereka mendengarkan ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon pisang yang tersusun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, dan kasur-kasur yang tebal dan empuk. Sesungguhnya Kami ciptakan mereka (bidadari-bidadari) lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu segolongan besar dari orang yang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang yang kemudian).” (QS Al-Waqi’ah: 25—40). [MNews/RY-YG]
Sumber: MR Kurnia, dkk, Meretas Jalan Menjadi Politisi Transformatif.
Bersambung ke “Mengenali Potensi” Bagian 5/7.

One thought on “[Politisi Transformatif] Mengenali Potensi: Memahami Hakikat Diri (Bagian 4/7)”