[Kabar] Pemerhati: Ancaman Wabah Superflu, Butuh Mitigasi Komprehensif

[Kabar] Pemerhati: Ancaman Wabah Superflu, Butuh Mitigasi Komprehensif

Muslimah News, NASIONAL — Infeksi Influenza A (H3N2) subclade K, yang dijuluki superflu dilaporkan menyebar dengan cepat di berbagai negara, seperti Inggris, Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah wilayah di Eropa. Di Amerika, CDC melaporkan setidaknya ada 4.6 juta kasus superflu dengan jumlah kematian akibat superflu mencapai 1.900 per Desember 2025.

Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Cina, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga akhir Desember 2025 mencatat terdapat 62 kasus tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat, mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak.

Di Indonesia, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Butuh Mitigasi Komprehensif

Merespons hal di atas, pemerhati kebijakan kesehatan dr. Arum Harjanti memandang perlunya mitigasi komprehensif. ”Merebaknya penyakit virus yang memiliki penularan tinggi seperti superflu ini membutuhkan mitigasi komprehensif agar mampu melakukan pencegahan secara optimal. Surveilans tentu sangat dibutuhkan untuk mengetahui sejauh mana penyebaran penyakit tersebut di tengah masyarakat. Hasil surveilans ini harus ditindaklanjuti dengan peningkatan kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan layanan kepada pasien,” tuturnya kepada MNews, Sabtu (10-1-2026). 

Meski dinyatakan bahwa varian virus ini tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah, sambungnya, tetapi penularannya lebih cepat sehingga kesiapsiagaan tetap perlu dilakukan. Ia beralasan, di tengah masyarakat ada kelompok risiko tinggi, di antaranya para lansia, orang dengan penyakit penyerta (komorbid), orang dengan gangguan imunitas, ibu hamil, dan anak-anak. 

Ia juga mengingatkan, superflu ini disebabkan oleh virus, maka menjadi penting mewujudkan daya tahan yang kuat pada rakyat, terutama lansia dan anak-anak. ”Daya tahan ini, selain dipengaruhi faktor kesehatan, juga dipengaruhi oleh berbagai hal yang merupakan faktor determinan sosial kesehatan, baik terkait dengan aspek ekonomi, sosial, maupun pendidikan dan akses layanan kesehatan,” jelasnya.  

Namun, Arum menyayangkan, dalam sistem kapitalisme, berbagai faktor ini justru melemahkan daya tahan tubuh dan memudahkan penularan penyakit. ”Tingginya angka kemiskinan, mengakibatkan banyak anak-anak kurang gizi, bahkan menderita stunting. Vaksinasi Influenza yang dapat memperkuat daya tahan terhadap serangan virus ini nyatanya belum masuk dalam Program Imunisasi Nasional (PIN). Kementerian Kesehatan bahkan masih melakukan pengkajian untuk memasukkan imunisasi influenza ke dalam PIN. Artinya, saat ini, hanya mereka yang memiliki uanglah yang dapat mendapatkan layanan imunisasi influenza. Hal ini menguatkan realitas bahwa kesehatan merupakan komoditas, belum menjadi hak seluruh rakyat,” kritiknya.

Menurutnya, rendahnya literasi masyarakat akan penyakit, khususnya influenza tipe A yang sedang merebak dan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mengakibatkan meningkatnya risiko peningkatan kasus secara cepat.

”Kondisi ini merupakan buah tata kelola kesehatan berdasarkan sistem kapitalisme. Dalam sistem ini, negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator, bukan pelayan rakyat. Akibatnya, hari ini rakyat harus melindungi kesehatannya secara mandiri, bahkan ketika terjadi potensi meningkatnya penularan penyakit.  Negara memberikan imbauan kepada rakyat untuk menerapkan  perilaku hidup bersih dan sehat. Negara bertindak setelah terjadi lonjakan kasus, bukan proaktif mencegah penularan dan meningkatkan layanan kesehatan serta memperkuat daya tahan masyarakat,” simpulnya.

Upaya Preventif

Arum lalu membandingkannya dengan sistem Khilafah. Dalam sistem Khilafah, kata Arum, upaya preventif menjadi perhatian Khilafah sebagai realisasi hadis Nabi saw. riwayat Bukhari, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang ia pimpin.”

Islam, lanjutnya, juga menjadikan penjagaan jiwa manusia (hifzh an-nafs ) sebagai salah satu maqashid syariat, sebagaimana sabda Nabi saw. riwayat Nasa’i dan Tirmidzi, “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” 

“Oleh karena itu, dalam Islam, penguasa harus benar-benar berupaya sekuat tenaga menjaga kesehatan rakyatnya, apalagi apabila ada ancaman wabah penyakit. Khalifah akan menjadi komandan atas semua urusan umat dalam menghadapi ancaman wabah sehingga semua dapat terkoordinasi dengan baik, dengan tata kelola terbaik,” terangnya.

Khilafah, ucapnya, secara proaktif melakukan upaya preventif dan promotif, serta siap siaga menghadapi ancaman wabah, termasuk surveilans secara aktif. “Khilafah akan menerapkan tata kelola kesehatan Islam secara komprehensif sehingga dapat mengendalikan wabah dan menjaga kesehatan rakyat. Selain itu, Khilafah juga akan mewujudkan berbagai faktor determinan sosial kesehatan dalam kondisi terbaik sehingga terwujud daya tahan optimal pada setiap individu rakyat,” bebernya.

Menurut Arum, penerapan sistem ekonomi Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat. ”Literasi kesehatan yang terintegrasi dalam sistem pendidikan akan memudahkan terwujudnya budaya bersih dan sehat.  Tersebarnya sarana kesehatan secara merata yang mudah diakses rakyat secara gratis akan mempercepat akses saat layanan kesehatan dibutuhkan. Ketika dibutuhkan adanya imunisasi khususnya bagi kelompok rentan, Khilafah akan menyelenggarakan imunisasi influenza secara gratis dengan dukungan dana dari baitulmal,” jelasnya.

Kemudahan dalam birokrasi dan administrasi dalam Islam, sambungnya, menambah mudah dan cepat penanganan wabah oleh negara. ”Dengan tata kelola kesehatan Islam ini, rakyat akan terlindungi dari ancaman wabah superflu ini,” tegasnya.

Arum mengatakan, sepanjang sejarah peradaban Islam, telah terjadi beberapa kali wabah, termasuk  pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani. ”Berulangnya wabah mendorong para penguasa dan ilmuwan muslim untuk melakukan riset mendalam tentang penanganan wabah. Khilafah segera melakukan karantina untuk mencegah penularan penyakit. Karantina dilakukan pada penduduk, pendatang, juga kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan,” tuturnya.

Selain itu, tambahnya, untuk menjamin kehidupan rakyat negara bergerak menjaga kebersihan tempat publik dan mengirimkan gandum ke wilayah yang kelaparan melalui jalur laut. ”Semua itu menunjukkan keseriusan Khilafah dalam menangani wabah demi menjaga keberlangsungan kehidupan rakyatnya,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *