Muslimah News, NASIONAL — Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan materiel, tetapi juga trauma psikologis.
Merespons hal itu, pemerhati pendidikan dan dunia remaja Diansyah Novi Susanti, S.Pt. menyampaikan pandangannya. Kepada MNews, Kamis (1-1-2026), ia mengatakan, jika negara gagal hadir secara utuh menangani hal tersebut, maka akan runtuhlah harapan generasi muda, termasuk pelajar.
“Dalam konteks ini, pelajar yang menjadi korban bencana sejatinya bukan sekadar korban kemanusiaan, melainkan aset strategis peradaban yang nasibnya tidak boleh dipertaruhkan dan diabaikan,” ungkapnya.
Pembangun Peradaban
Apalagi, tuturnya, Islam memandang generasi muda sebagai penerus risalah dan pembangun peradaban. “Karena itu, perhatian terhadap pelajar pascabencana adalah keharusan politik, bukan pilihan moral semata,” ujarnya mengutip QS An-Nisa: 9, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang jika meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (nasib) mereka.”
Ayat tersebut, jelasnya, bukan sekadar nasihat keluarga, tetapi peringatan keras bagi penguasa agar tidak membiarkan lahirnya generasi yang lemah, yaitu lemah fisik, mental, maupun visi hidup akibat kelalaian sistem.
“Dalam Islam, pelajar adalah calon ulama, pemimpin, ilmuwan, dan penjaga umat. Rasulullah saw. bahkan menjadikan pendidikan sebagai prioritas, termasuk dalam kondisi sulit. Ini sebagaimana hadis Rasulullah saw. dalam hadis Ibnu Majah bahwa menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim,” terangnya.
Oleh karena itu, sambungnya, ketika pelajar menjadi korban bencana, trauma mereka tidak boleh dinormalisasi, keterputusan pendidikan tidak boleh dianggap wajar, penderitaan mereka tidak boleh diserahkan pada empati relawan semata. “Mengabaikan pelajar korban bencana berarti membiarkan mata rantai peradaban Islam terputus,” tegasnya.
Pendidikan Pascabencana
Diansyah menyayangkan, realitas hari ini menunjukkan bahwa pendidikan pascabencana sering diposisikan sebagai kegiatan darurat sementara, sekolah tenda tanpa pendampingan mental, kurikulum yang mengejar ketertinggalan akademik, tetapi abai pada trauma.
“Padahal dalam Islam, pendidikan berfungsi memulihkan jiwa melalui iman dan makna hidup, Menjaga akal (hifzh al-‘aql) dari keputusasaan dan penyimpangan, menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang bersyaksiyah islamiah, juga menguasai sains dan teknologi,” tuturnya seraya menyitir QS Al-Mujadilah: 11, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
Pendidikan pascabencana yang mengabaikan pemulihan keimanan dan psikologis, lanjutnya, adalah pendidikan yang gagal melahirkan generasi tangguh. “Untuk mencegah hal itu, maka Islam memandang bahwa negara harus hadir sebagai raa’in (pengurus), bukan sekedar regulator dengan memastikan pendidikan pascabencana tetap berlangsung,” ucapnya.
Menurutnya, negara wajib menyediakan sekolah atau infrastruktur yang aman, menyediakan guru yang memahami kondisi psikologis pelajar dan mengintegrasikan nilai keimanan terkait pemahaman atas ketetapan Allah Swt., serta ketangguhan mental dalam pendidikan pascabencana, dan pastinya menjamin keberlanjutan pendidikan.
“Jika negara abai, trauma pelajar akan menjelma menjadi krisis karakter, meningkatnya problem mental dan sosial, hilangnya arah generasi. Inilah ancaman besar bagi keberlangsungan masa depan generasi yang dipertaruhkan,” tegasnya.
Kepedulian Negara
Diansyah mengingatkan, bencana alam sejatinya menguji kepedulian negara terhadap masa depan umat. “Islam menegaskan bahwa pelajar bukan korban biasa, tetapi penentu arah peradaban. Negara yang membiarkan pelajar larut dalam trauma, memutus pendidikan pascabencana, menyerahkan pemulihan generasi pada solidaritas masyarakat semata, sesungguhnya sedang menggadaikan masa depan peradaban,” ucapnya.
Islam, sambungnya, menawarkan paradigma yang jelas, yaitu dengan akidah yang kuat, maka jiwa akan tenang. “Pendidikan Islam mampu membangun akal sehingga umat mempunyai pemikiran dan pemahaman yang benar terkait manusia, alam semesta,dan kehidupan, juga kehadiran negara yang bertanggung jawab penuh atas semua yang menimpa rakyatnya,” tuturnya.
Ia menekankan, bencana alam yang terus berulang hari ini, tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa alam semata. “Ini adalah alarm keras atas rusaknya tata kelola kehidupan ketika sistem sekuler kapitalisme menjadikan alam sebagai komoditas, bukan amanah,” kritiknya.
Ketika keserakahan dilegalkan, lanjutnya, maka kerusakan tidak terelakkan, dan generasi terutama pelajar menjadi korban paling nyata dari masa depan yang digadaikan oleh sistem yang abai terhadap nilai dan tanggung jawab.
“Karena itu, kembali kepada sistem Islam bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan kebutuhan mendesak untuk menghadirkan tata kelola yang menyelamatkan, menyejahterakan, dan menjamin keberlangsungan peradaban manusia,” pungkasnya. [MNews/RA]
