Muslimah News, NASIONAL — Badan dan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan penggunaan kecerdasan buatan (AI), seperti ChatGPT, banyak digunakan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Hal ini disampaikan oleh Aflahah, periset Pusat Riset Pendidikan BRIN.
Aflahah dan tim riset melakukan survei terhadap 293 mahasiswa dari 17 PTKIN di Indonesia. Hasil riset menunjukan sebanyak 90% lebih responden sering menggunakan ChatGPT. Adapun penelitian ini dilakukan pada 2025.
Tim peneliti BRIN lainnya, Prof. Farida Hanun, mengatakan bahwa faktor yang membuat mahasiswa dapat kecanduan AI itu beragam yang muncul karena manfaat dan kemudahannya. Dari hasil kajian 44 artikel yang terindeks Scopus, Farida melihat adanya penurunan kemampuan berpikir kritis hingga meningkatkan plagiarisme sebagai dampak mahasiswa yang ketergantungan AI.
Persoalan
Menurut aktivis Marnina Ika Putri, S.Pd., M.Pd., temuan BRIN ini memperlihatkan persoalan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar maraknya penggunaan teknologi baru di kalangan mahasiswa. “Mahasiswa hari ini cenderung memperlakukan AI, khususnya ChatGPT, sebagai sumber informasi utama. Padahal, ChatGPT hanyalah produk teknologi yang bekerja dengan merangkum dan memprediksi teks berdasarkan data, tanpa memiliki standar benar dan salah, serta tanpa mekanisme perlindungan terhadap akal manusia,” paparnya kepada MNews, Rabu (17-12-2025).
Ia menerangkan, ketika AI dijadikan rujukan utama dalam proses akademik, fungsi berpikir kritis, analisis mendalam, dan kemampuan bernalar secara mandiri perlahan tergeser. “Mahasiswa menjadi terbiasa dengan jawaban instan, bukan proses berpikir. Inilah yang kemudian berkontribusi pada kedangkalan berpikir dan meningkatnya praktik plagiarisme sebagaimana tercermin dalam kajian puluhan artikel ilmiah yang dirujuk BRIN,” bebernya.
Bahkan, ungkap Marnina, pedoman penggunaan AI yang disusun oleh kampus atau kementerian sejatinya tidak cukup untuk menghadapi persoalan ini. “Sebabnya, yang dihadapi bukan sekadar persoalan etika individu atau tata kelola teknis, melainkan hegemoni digital yang berbasis keuntungan,” ujarnya.
Ia mengatakan, platform AI dikembangkan dalam sistem kapitalisme digital yang menjadikan efisiensi, kecepatan, dan profit sebagai tujuan utama, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap kualitas akal dan peradaban manusia.
“Dalam sistem kapitalisme, kerusakan nalar generasi bukanlah variabel yang diperhitungkan. Selama teknologi tersebut meningkatkan produktivitas dan menghasilkan keuntungan ekonomi, dampak buruknya dianggap sebagai risiko yang dapat ditoleransi. Akibatnya, pendidikan pun terjebak dalam logika instan, pragmatis, dan dangkal yang menjauhkan mahasiswa dari tradisi berpikir ilmiah yang sejati,” jelasnya.
Terlebih lagi, ungkapnya, fakta bahwa hasil kajian terhadap lebih dari 40 artikel ilmiah yang menunjukkan penurunan berpikir kritis dan peningkatan plagiarisme menegaskan adanya ketidakmampuan sistem saat ini dalam menjaga akal. “Padahal, akal merupakan aset utama generasi dan pilar peradaban. Teknologi yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan, membantu proses belajar, dan mempermudah ibadah, justru berpotensi melemahkan fungsi akal jika dilepas tanpa kendali nilai,” ucapnya.
Pandangan Islam
Hal ini, tutur Marnina, berbeda dengan Islam yang memandang kemajuan teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat. “Teknologi dipandang sebagai alat yang harus diarahkan oleh akidah dan nilai-nilai syariat. Motivasi penggunaannya bukan sekadar kepentingan materi atau duniawi, melainkan untuk mendukung ketaatan kepada Allah Swt. dan menjaga kemuliaan manusia,” paparnya.
Oleh karena itu, ia menyampaikan, Islam tidak membiarkan pemanfaatan teknologi berlangsung bebas tanpa aturan. “Negara dalam sistem Islam memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi selaras dengan syariat, menjaga akal, melindungi jiwa, dan tidak merusak tatanan pemikiran masyarakat. Penggunaan AI pun harus diatur secara komprehensif, bukan hanya melalui pedoman etis, tetapi melalui sistem pendidikan, kebijakan negara, dan arah pembangunan teknologi yang berlandaskan nilai ilahiah,” terangnya.
Jadi, ia mengingatkan, tanpa perubahan paradigma dan sistem, AI akan terus menjadi instrumen kapitalisme digital yang melemahkan kualitas berpikir generasi. “Sebaliknya, dengan sistem Islam yang menempatkan akal sebagai amanah dan teknologi sebagai sarana ibadah, kemajuan sains dan teknologi dapat benar-benar menjadi rahmat bagi manusia, bukan ancaman bagi masa depan peradaban,” tandasnya. [MNews/RA]
