Muslimah News, LENSA DAERAH — Pelajar adalah generasi yang disiapkan untuk meneruskan masa depan bangsa, tetapi angka kasus bunuh diri di kalangan mereka memperlihatkan banyak yang tidak sanggup memikul beban.
Merespons hal ini, forum Muslimah Inspiratif Bekasi kembali menyelenggarakan diskusi terbatas pada Ahad (30-11-2025) dengan tema “Fenomena Bunuh Diri Pelajar, Islam Kafah Solusi Tuntas”.
Aktivis muslimah Maya Sri Maryani, M.Pd., memaparkan meningkatnya jumlah bunuh diri pelajar saat ini akibat lemahnya akidah mereka. “Tidak hanya rapuh secara fisik, tetapi juga iman dan akal,” ucapnya.
Ini karena, sambungnya, sistem pendidikan saat ini tidak menciptakan kepribadian Islam pada generasi akibat diterapkannya sistem yang tidak menghadirkan Allah Swt. di dalamnya. “Fakta yang terjadi saat ini seperti fenomena gunung es. Yang terdata itu sedikit, yang tidak terdata jauh lebih banyak,” ujarnya.
Selanjutnya, aktivis muslimah Nunung N. Ummah, S.E. M.Pd. menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri pada pelajar memiliki hubungan kuat dengan kondisi psikologis remaja zaman sekarang. “Beberapa faktor yang membuat remaja mudah stres, antara lain kepribadian yang rentan, pola asuh keluarga yang tertutup, lingkungan sosial yang kurang suportif, dan paparan media sosial yang tidak terkontrol,” paparnya.
Kurang Nilai Agama
Menurutnya, remaja kini hidup dalam tekanan berlapis yang membuat mereka kesulitan mengelola emosi. Namun, tambahnya, akar persoalan tersebut makin parah karena keringnya pendidikan, yakni kurangnya nilai agama dan minimnya pembinaan literasi emosional di sekolah.
“Para pelajar kita pintar secara akademik, tetapi miskin pemahaman diri, miskin akhlak, dan miskin ketahanan mental,” tegasnya.
Kemudian, aktivis muslimah Ir. Ummu Azkia Fachrina, M.A. menyampaikan dengan tegas bahwa rapuhnya generasi saat ini berakar pada krisis karakter yang makin mengkhawatirkan. “Kondisi ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari pembiaran keluarga, lingkungan masyarakat, serta sistem pendidikan yang cenderung sekuler,” ungkapnya.
Sistem sekuler, lanjutnya, membuat anak hanya dipacu untuk mengejar materi, prestasi akademik, dan kesuksesan duniawi, tanpa dibekali nilai agama yang mengatur cara hidup. “Agama dipisahkan dari kehidupan. Inilah akar kerusakan karakter remaja saat ini,” jelasnya.
Kunci Utama
Untuk itu, ia menegaskan bahwa ketakwaan dan keberanian menyampaikan kebenaran merupakan kunci utama untuk keluar dari keterpurukan ini. “Tanpa ketakwaan, pendidikan hanya mencetak generasi pintar, tetapi kosong nilai,” terangnya.
Ia menyatakan, ada tiga pilar penting dalam sistem Islam untuk membentuk generasi kuat, yakni dimulai oleh orang yang cerdas, dilakukan oleh orang yang ikhlas, dan dimenangkan oleh orang yang berani.
“Jadi, solusi dari problematika kita saat ini hanya bisa dijawab dengan penerapan syariat Islam secara kafah. Hanya sistem Islam kafah yang bisa menyelesaikan krisis pendidikan karakter saat ini dan umat harus berjuang untuk melakukan perubahan menuju tegaknya Islam kafah,” tandasnya. [MNews/Kontributor Daerah: Vv/Bekasi]
