Muslimah News, INTERNASIONAL — Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (23-9-2025), dikritisi Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi.
“Memang benar Presiden Prabowo berbicara tentang perdamaian dunia, termasuk mengakui adanya genosida di Gaza. Namun, menurut saya, hal paling fatal adalah tidak menyebutkan siapa pelaku genosida itu,” ungkapnya dalam acara Kabar Petang: “Prabowo Berpidato, ‘Israel’ Berpesta Bom” di kanal Khilafah News, Jumat (26-9-2025).
Padahal, ujarnya, pelaku genosida sudah sangat jelas, yaitu entitas penjajah Zion*s Yahudi. Bahkan, lanjutnya, dalam pidato itu juga tidak ada kecaman terhadap negara yang mendukung genosida Zion*s Yahudi ini, yakni Amerika Serikat (AS).
“Dalam pidato tersebut juga tidak menyebutkan sikap diam penguasa-penguasa Arab yang membiarkan terjadinya genosida ini. Inilah hal yang paling fatal kalau kita bicara tentang pidato Presiden Prabowo yang berapi-api tersebut,” ucapnya.
Selain itu, dalam pandangannya, ketika bicara tentang kejahatan apa pun, tentu hal pertama yang dijelaskan adalah kejahatannya. “Namun, tidak berhenti sampai di sana, melainkan kita akan bicara siapa pelakunya. Kemudian, pelaku kejahatan itu harus diberi sanksi dan kejahatannya dihentikan. Itulah cara menyelesaikan kejahatan,” cetusnya.
Oleh karena itu, ia menyesalkan, ketika PBB mengakui ada genosida di Gaza, tetapi tidak disebutkan pelaku utamanya, yaitu Zion*s yang didukung penuh oleh AS.
“Jadi, untuk menguji apakah negara-negara di dunia itu bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan persoalan Palestina harus dilihat apakah negara-negara di dunia sungguh-sungguh menghentikan pelaku genosida. Apalagi, persoalan Palestina bukanlah persoalan perbatasan, bukan pula persoalan antara Ham*s dan Zion*s. Namun, ini persoalan penjajahan,” tegasnya.
Upaya Pengaburan
Menurutnya, solusi apa pun termasuk solusi dua negara tidak menghilangkan akar masalahnya. Hanya saja, ia menilai, solusi dua negara digulirkan saat keadaan Zion*s tertekan oleh sikap masyarakat dunia. “Jadi, ini upaya pengaburan dan pengalihan dari akar persoalan sesungguhnya. Apalagi, solusi dua negara itu mengakui keberadaan Zion*s sebagai negara dan mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Berarti mengakui eksistensi penjajah,” terangnya.
Solusi dua negara juga, sambungnya, adalah solusi pengkhianatan karena alih-alih akan menghentikan kejahatan entitas Zion*s, sebaliknya justru memberikan legitimasi bagi para penjajah Yahudi ini untuk melakukan kejahatan-kejahatannya.
Selain itu, Farid mengingatkan, solusi ini jelas bertentangan dengan prinsip antipenjajahan dalam Islam. “Islam telah memerintahkan kita kalau ada negeri Islam yang dijajah, justru bukan berdampingan dengan penjajah, tetapi memerangi dan mengusirnya dari negeri Islam,” tandasnya. [MNews/RA]

Solusi Gaza adalah jihad dan khilafah