[Kabar] UIY: Tanda Paling Utama Mencintai Nabi ﷺ Adalah Itibak kepadanya

[Kabar] UIY: Tanda Paling Utama Mencintai Nabi ﷺ Adalah Itibak kepadanya

Muslimah News, NASIONAL— Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menerangkan, ada dua tanda bahwa seseorang itu mencintai Nabi saw.. “Pertama, tanda paling sederhana, yaitu selawat. Kedua, tanda paling utama, yaitu itibak kepada Nabi saw.,” tuturnya dalam Fokus to the Point: “Maulid Nabi, Cinta Rasul kok Masih Sekuler?” di UIY Channel, Jumat (5-9-2025).

Itibak kepada Nabi saw., jelasnya, tampak sebagaimana yang disampaikan Imam Ibnu Katsir. “Kalau ada orang yang mengaku mencintai Nabi, tetapi tidak mengikuti Nabi saw. atau tidak haqqul itibak, tidak mengikuti perintah dan larangan-Nya, Ibnu Katsir mengatakan, fahuwa kadzib (ia berdosa),” ungkapnya.

Namun, ia menyesalkan, di tengah masyarakat saat ini kalau ditanya, “Apakah Anda mengikuti Nabi?”, rata-rata menjawab mengikuti Nabi saw.. “Meskipun pada faktanya, banyak aturan hukum yang dipakai, juga perbuatan-perbuatan yang dilakukan, seperti dalam bisnis, politik, hubungan antara pria dan wanita di tengah masyarakat, justu tidak mengikuti perintah Nabi saw.,” urainya.

Dua Perkara

Menurut UIY, inilah pentingnya memahami betul apa yang dimaksud itibak Nabi saw. yang tecermin pada dua perkara penting.

“Pertama, cara berpikir. Seorang muslim yang mengaku cinta kepada Nabi saw. dan mengikuti Nabi saw., mestinya cara berpikirnya mengikuti ajaran Nabi saw.. Ini karena masih banyak yang berpikirnya sekuler, baik bercorak kapitalistis, sosialistis, bahkan komunistis. Apakah ada orang Islam yang komunis? Ada. Dulu ketua umum PKI yang pertama, namanya Semaoen, itu muslim,” bebernya.

Lalu, lanjutnya, kalau muslim, tetapi cara berpikirnya tidak mengikuti ajaran Nabi saw., berarti itibak kepada siapa? “Padahal kita tahu bahwa cara berpikir itu sangat penting sebab akan menentukan perilaku nantinya,” ucapnya.

Kedua, sebutnya, pada perilaku, misalnya muslim salat karena Nabi saw. mengajari dan memerintahkan salat. “Begitu juga puasa, zakat, haji, menutup aurat, berpakaian secara syar’i, menjaga makanan dan minuman yang halal, dan sebagainya. Nah, kalau ada muslim, tetapi tidak salat, tidak mau membayar zakat, tidak ibadah, maka itibak kepada?” tanyanya lugas.

Begitu juga, sambungnya, dalam muamalah. “Nabi saw. dalam keseluruhan hidupnya itu bermuamalah, berekonomi, berpolitik, dan lainnya itu selalu dalam kerangka Islam. Tidak pernah tidak. Nabi saw. tidak pernah berpolitik dengan dasar bukan Islam,” tegasnya.

Jadi, ia mempertanyakan, kalau saat ini ada muslim yang berjuang dan berpolitik tidak dengan dasar Islam dan tidak untuk Islam, maka itibak kepada siapa?

“Kalau ada yang menolak negara Islam, misalkan, di mana posisinya? Beritibak kepada siapa? Kalau menolak ajaran Nabi saw. dan beritibak kepada Montesquieu, Jean-Jacques Rousseau, dan lain sebagainya, jangan salahkan siapa-siapa ketika nanti di akhirat bersama mereka yang dicintainya itu, tidak bersama Nabi saw.,” cetusnya.

Dengan demikian, ia mengingatkan, itibak kepada Rasulullah haruslah totalitas. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *