Muslimah News, INTERNASIONAL— Mencermati peta perpolitikan antara Inggris dan Rusia, aktivis dakwah Hassan Hamdan menyatakan, hubungan antara Inggris dan Rusia sangat tidak stabil dan tegang sejak abad ke-18, dengan permusuhan yang jelas dan nyata di antara mereka.
“Rusia mewarisi masalah Uni Soviet dan pandangan dunianya, termasuk pandangannya terhadap Inggris dengan permusuhan yang berakar dalam, meskipun sekarang dengan perbedaan kemampuan dan sumber daya,” urainya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Rabu (25-6-2025).
Ia mengutip penjelasan dalam buku Pandangan Politik Hizbut Tahrir , “Kebijakan luar negeri Inggris masih beroperasi dengan gencar terhadap Rusia melalui berbagai cara internasional, juga dalam kebijakan parsial. Inggris terus bersikap sabar, melakukan penipuan, dan [menggunakan] metode rahasia untuk mempertahankan Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu, seraya menentang kebijakan luar negeri AS ketika bertindak melawan kepentingan Inggris. Sementara itu, tidak ada harapan bahwa Rusia akan bersikap lunak terhadap Inggris.”
Alasan
Dalam analisisnya, Inggris adalah penghasut perang dan telah menemukan peluang yang diinginkan dalam perang Ukraina dengan beberapa alasan.
“Pertama, mengejar perannya di tingkat global dan di Eropa untuk pijakan bagi dirinya sendiri karena Inggris dikenal kelicikan dan penipuannya. Kedua, menyibukkan AS dengan perang dan berupaya memperpanjangnya, bahkan jika memungkinkan, melibatkan NATO di dalamnya,” ungkapnya.
Ketiga, ucapnya, perbedaan prioritas antara kebijakan luar negeri Inggris dan AS. “Prioritas utama AS adalah menahan ancaman Cina, kemudian menargetkan Rusia melalui Eropa untuk melemahkan kedua belah pihak dan menjerat Rusia. Strategi ini tidak bertujuan untuk melemahkan Rusia sepenuhnya. AS ingin Rusia tetap agak kuat sebagai ancaman bagi Eropa dan menjaga Eropa di bawah sayap AS,” paparnya.
Sebaliknya, ia menuturkan, Inggris melihat Rusia sebagai prioritas utama, bukan Cina. “Inggris memandang Cina sebagai ancaman ekonomi yang jauh. Inggris tidak memiliki permusuhan historis sebagaimana dengan Rusia. Meskipun Inggris mengakui bahaya Cina, ia tidak menempatkannya di puncak prioritas kebijakan luar negerinya,” bebernya.
Lebih lanjut, urainya, surat kabar The i Paper yang diterbitkan di London oleh grup media Daily Mail mengabarkan bahwa Inggris telah menjadi musuh utama Rusia setelah mencairnya hubungan antara Washington dan Moskow. “Surat kabar tersebut mengaitkan perubahan ini, dalam sebuah laporan oleh kepala korespondennya Richard Holmes, dengan peran utama yang dimainkan Inggris dalam menentang agresi Rusia terhadap Ukraina yang telah memperkuat posisi Inggris sebagai musuh utama Moskow saat ini,” jelasnya.
Ia mengemukakan, Inggris memprovokasi Rusia dengan dalih agresi Rusia dan berupaya menjelek-jelekkan Rusia dengan sekuat tenaga, menggambarkannya sebagai negara jahat yang melanggar hukum internasional.
“Inggris telah memberikan bantuan keuangan, peralatan, pelatihan, intelijen, dan segala yang dapat diberikannya dalam perang tersebut. Bahkan, dalam salah satu laporan The i Paper di situs webnya, mengutip seorang pejabat intelijen Inggris mengatakan bahwa jika tidak ada kerja sama dengan Washington, perusahaan pertahanan dan keamanan swasta mungkin akan campur tangan untuk mengisi kesenjangan yang disebabkan oleh kurangnya akses ke intelijen AS,” ulasnya.
Serius
Keseriusan pendirian Inggris menjadi jelas, lanjutnya, ketika terungkap bahwa Inggris memang berada di balik “Operasi Jaring Laba-laba,” yang mengakibatkan hancurnya 41 pesawat tempur, termasuk pesawat pengebom strategis.
“Operasi tersebut menghancurkan lebih dari sepertiga armada pesawat strategis Rusia, antara tujuh hingga sembilan pesawat pengebom strategis model A-50 Tupolev-95, dan Tupolev-22M3. Operasi tingkat tinggi seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh Ukraina, tanpa bantuan internasional yang signifikan dan dukungan internasional yang substansial,” cetusnya.
Hal ini, nilainya, tampak dalam wawancara Andrei Kelin, Duta Besar Rusia untuk London, dengan Sky News (5-6-2025) yang mengeklaim bahwa Inggris telah memainkan peran utama dalam operasi rahasia tersebut dengan memberikan informasi intelijen. “Kelin mengatakan, ‘Saya tidak percaya bahwa AS [terlibat]. Hal itu telah dibantah oleh Presiden Trump, tetapi tidak dibantah oleh Inggris.’,” ungkapnya.
Memang, ujarnya, kebijakan Trump saat ini sangat kontras dengan tindakan-tindakan tersebut. “Dalam pernyataan juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, disebutkan bahwa Trump tidak mengetahui sebelumnya tentang serangan pesawat nirawak Kyiv terhadap Rusia,” jelasnya.
Adapun sikap Inggris—yang ditandai dengan sikap bungkamnya—, sambungnya, meningkatkan perang, lalu menunggu tanggapan Rusia. “Jika tanggapan tersebut tidak cukup tegas untuk menyeret Eropa ke dalam perang langsung, Inggris akhirnya mengeklaim bertanggung jawab atas tindakan tersebut setelah beberapa waktu,” ucapnya.
Ia memandang, Rusia menyadari bahwa Inggris berada di balik operasi tersebut karena Kelin menuduh Inggris berpartisipasi dalam serangan besar-besaran Ukraina terhadap lima pangkalan udara di wilayah Rusia yang mengakibatkan hancurnya puluhan pesawat tempur. “Kelin menggambarkan operasi tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang dapat menyeret dunia ke dalam perang dunia ketiga,” terangnya.
Di sisi lain, urainya, Inggris sangat menyadari bahaya respons tidak langsung Rusia. “Presiden Putin telah berulang kali menyatakan bahwa Moskow tidak berniat menyerang negara-negara NATO, menegaskan bahwa langkah seperti itu “tidak masuk akal.” Namun, karena kurangnya kepercayaan pada AS—terutama di bawah pemerintahan Trump—Inggris telah mengaktifkan rencana yang kuat dan siap untuk berbagai skenario darurat potensial,” bebernya.
Ia mengutip The Daily Express bahwa Mayor James Stephen Heappey, mantan Menteri Negara Inggris untuk Angkatan Bersenjata, mengomentari peningkatan pengeluaran biaya pertahanan Inggris. “Heappey mengatakan, itu adalah pesan kepada Moskow bahwa Inggris sedang memperkuat angkatan bersenjatanya dan basis industri, juga bagian dari kesiapannya untuk berperang jika diperlukan,” ujarnya.
Terakhir ia menyimpulkan, permusuhan yang mengakar antara Rusia dan Inggris terlihat jelas bagi semua pengamat. “Hal itu telah muncul secara terbuka dan konflik tersebut kini terungkap untuk dilihat semua orang,” tutupnya. [MNews/RA]

Pertarungan ideologi antara sosialisme kapitalisme tjd karena ingin eksistensinya yg menonjol.