Muslimah News, TOKOH BICARA — Meneladan hijrah Rasulullah saw., para tokoh muslimah memandang bahwa sudah seharusnya hijrah itu bukan hanya individu, tetapi hingga perubahan ke arah penerapan syariat Islam kafah dalam sebuah negara.
—
Hijrah Hakiki
Hijrah yang hakiki adalah kita berpindah dari pola perilaku yang tidak sesuai dengan syariat, dimulai dari individu, keluarga, masyarakat, sistem pendidikan, dan semua sistem kemasyarakatan beralih kepada syariat yang sesuai dengan Islam secara kafah. Itu tidak bisa dilakukan oleh pribadi atau individu, tetapi kita semua harus berjuang bersama-sama untuk mewujudkan suatu masyarakat yang sesuai dengan syariat, yang ditentukan oleh syariat. Untuk itu, kita harus bergabung dan bekerja sama dalam sebuah komunitas.
Hari ini, kita berada dalam kondisi yang tidak semua mengimplementasikan nilai-nilai Islam. Jadi, kita harus menggerakkan semua pola pikir, pemikiran, sampai dapat mengaplikasikan semua syariat Islam. Umat Islam harus terus menambah ilmu dan semua wawasannya, membuka pola pikirnya agar semua yang ada dalam implementasi kehidupan kita kembali kepada syariat Islam secara kafah.
dr. Wa Ode Mariyana, Sp.OG. (Praktisi Kesehatan)
—
Tidak Hanya Fisik
Rasulullah hijrah tidak hanya fisiknya, tetapi juga ruhiyah-nya supaya umat Islam makin memurnikan akidahnya dan tatanan untuk menegakkan syariat Islam secara kafah sebagaimana di Madinah (ada Piagam Madinah).
Kita sebagai umat Islam di akhir zaman, bisa mencontoh makna hijrah Rasulullah saw.. Di Indonesia, umat Islam mayoritas, tetapi ternyata Islam kafah dalam Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah tidak ditegakkan. Sudah saatnya, 1 Muharram tahun hijriah ini, kita mengikuti jejak Rasulullah.
Agar hijrah tidak hanya secara individu, melainkan seluruh umat Islam, maka perlu berdakwah ke semua pihak. Karena tidak akan terjadi ukhuah islamiah itu apabila jauh dari syariat Islam secara kafah yang berpegang pada Al-Qur’an.
Kita harus yakin bahwa pertolongan Allah itu akan datang, tetapi kita pun harus berjuang, tidak hanya omon-omon. Kita action, mulai merangkul semua agar mencintai Al-Qur’an dan Rasulullah saw. sebagai suri teladan. Jadi, kita tidak boleh berhenti berdakwah, terus mengedukasi mereka yang masih tertanam sekularisme dan belum paham pemikiran Islam kafah.
Hj. Irma Wahidah, S.ST., M.Kes. (Akademisi)
—
Dari Kegelapan Menuju Cahaya
Hijrah Rasulullah adalah hijrah minadh dlulumati ilan-nur dari kegelapan menuju cahaya, dari pemikiran dan akhlak jahiliah menuju akhlak Islam.
Yang bisa menyelesaikan semua persoalan adalah Khilafah Islamiah. Sistem apa pun yang ada di dunia ini, kalau tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis, berarti sudah tidak benar.
Mufidah Said Bawazier, S.E., M.M. (Aktivis Muslimah)
—
Mengubah Sistem
Hijrah Rasulullah saw. bukan sekadar hijrah dari Makkah ke Madinah, tetapi mengubah sistem yang dahulunya jahiliah menjadi Islam.
Hijrahnya Rasulullah saw. menjadi contoh bahwa solusi umat Islam adalah sistem Khilafah. Meskipun masyarakatnya sudah gereget (dengan kondisi saat ini) dan ingin bersatu, tetapi kalau negaranya belum menerapkan sistem pemerintahan Islam dan belum ada ikatan dalam Khilafah Islamiah, akan sulit.
Ustazah Tingting Rohaeti (Mubaligah)
—
Penerapan Al-Qur’an dan Sunah
Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah tersesat suatu kaum kalau ia selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunah.” Implementasi dari Al-Qur’an dan Sunah adalah masyarakat yang melaksanakan Al-Qur’an dan Sunah, salah satunya Rasulullah mendirikan negara di Madinah saat itu.
Berarti, Al-Qur’an dan Sunah itu ada penerapannya, yaitu berbentuk negara yang melaksanakan Al-Qur’an dan Sunah. Inilah yang jarang atau belum kita masyarakatkan bahwa perlu wadah untuk menerapkan Al-Qur’an dan Sunah itu.
Syarifah Syahidah (Mubaligah)
—
Hijrahnya Seorang Pemimpin
Hijrah yang harus dilakukan adalah hijrah pemikiran, yaitu dari pemikiran yang salah atau sekuler kepada pemikiran Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, hukum Allahlah yang harus diterapkan, baik hukum di ranah pribadi, maupun sistem atau negara. Jadi, taat kepada Allah itu bukan hanya di kehidupan pribadi sendiri, tetapi dalam kehidupan kemasyarakatan juga harus menaati hukum Islam.
Sejak runtuhnya Khilafah pada 1924, umat Islam tidak memiliki pemersatu, umat Islam terpecah belah dan ini ada kaitannya dengan sistem kapitalisme yang sedang berkuasa saat ini. Kalau umat Islam itu bersatu dan sadar akan pentingnya kepemimpinan Islam yang hakiki, maka mereka (pengusung kapitalisme) akan kalah.
Untuk menyatukan umat Islam yang tercerai berai dalam sekat nasionalisme, kita harus belajar, menggali tsaqafah Islam, bukan hanya untuk pemahaman kita, tetapi juga untuk menyebarkannya, membangun kesadaran akan pentingnya umat yang satu dalam naungan Islam kafah.
Sudah seharusnya para pemimpin di dunia ini mengikuti jejak hijrah Rasulullah saw., hijrahnya seorang pemimpin untuk membangun sistem negara yang menerapkan Islam kafah dan mewujudkan ukhuah hakiki . Negeri Islam itu banyak, tetapi pemimpinnya belum ada yang berpikir melakukan hijrah seperti hijrah Rasulullah saw..
Dr. Rita Yuliana, S.Si., M.SE. (Akademisi)
—
[MNews/RA]
