[Kabar] Pakar: Ada Tanda Kejatuhan “Raksasa” Barat Akibat Peristiwa di Gaza

[Kabar] Pakar: Ada Tanda Kejatuhan “Raksasa” Barat Akibat Peristiwa di Gaza

Muslimah News, INTERNASIONAL — Pakar ilmu politik dan Dosen UI Chusnul Mariyah, Ph.D. menilai, ada tanda-tanda kejatuhan kekuatan “raksasa” Barat (tumbling colossus) akibat peristiwa yang terjadi di Gaza saat ini. Hal ini disampaikannya dalam Bincang Hangat Tokoh Muslimah: “Gaza dan Ketakutan Barat akan Tegaknya Khilafah”, Jumat (16-5-2025).

Di hadapan ratusan tokoh muslimah yang hadir, baik secara luring maupun during, ia menggambarkan kondisi di Gaza melebihi yang terjadi saat pengeboman di Nagasaki, Jepang, ketika Perang Dunia II.

“Yang terjadi di Nagasaki tidak ada apa-apanya dengan bom-bom yang Zion*s jatuhkan di rumah sakit, sekolah, kamp pengungsi, dan tempat lain di Gaza. Anak-anak dan bayi-bayi pun tega dibunuh oleh Zion*s. Bahkan, jauh sebelumnya, banyak anak Palestina kerap dibunuh atau ditahan oleh Zion*s,” ungkapnya.

Ini tidak terlepas dari kolonialisme, ucapnya, sebuah sistem jahat yang mengaveling dunia ini. “Yakni, dimulai sejak Perjanjian Tordesillas dan Perjanjian Saragossa yang membagi dunia menjadi dua wilayah, sebelah Barat dikuasai Spanyol dan sebelah Timur dikuasai Portugis. Baru kemudian masuk Inggris, Prancis, Belanda, Italia, Jerman, dan Amerika Serikat (AS) yang menjadi empire hari ini,” bebernya.

Skenario Barat pun, tambahnya, kuat sekali dalam pembentukan Zion*s Israel, khususnya oleh Inggris dan AS. “Bahkan, di AS sendiri saat ini politiknya ditentukan oleh kekuatan lobi Zion*s melalui American Israel Public Affairs Committee (AIPAC),” tuturnya.

Ia memaparkan, saat keruntuhan Khilafah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 setelah Perang Dunia I, semua negara di wilayah Timur Tengah itu dikaveling-kaveling Barat, kecuali Palestina. “Ini karena Palestina didesain melalui peristiwa Nakba 1948. Yahudi yang awal kedatangannya di Palestina disambut baik oleh kaum muslim, tiba-tiba mengakui Tanah Palestina dan mengusir warganya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menguraikan, terjadinya Taufan al-Aqsa (7-10-2023) tidak terlepas dari pidato PM Zion*s Benyamin Netanyahu di PBB (22-9-2023) yang menghilangkan peta wilayah Tepi Barat, Palestina.

“Di sisi lain, KSA, Turki, UEA, Pakistan, dan beberapa negara Islam lainnya sedang mempersiapkan normalisasi hubungan dengan Zion*s. Namun, Palestina tidak pernah menyerah dalam perjuangan ini. Bahkan, saat ini perjuangan itu menyebar ke seluruh dunia,” paparnya.

Materialisme

Berkaitan dengan kekuatan AS setelah Perang Dunia II, jelasnya, pembangunan yang dilakukannya berbasis materialisme kapitalisme, termasuk industri judi, narkoba, perbankan ribawi, dan seks, yang jauh dari nilai moral. “Yang dipikirkan hanya untuk dunia, tidak memikirkan konsep setelah kehidupan dunia,” katanya.

AS pun, tambahnya, mengatur berbagai lembaga internasional semisal IMF, Bank Dunia, dan struktur lain yang menguasai globalisasi, termasuk berperan dalam kolonialisme dan kekerasan yang brutalnya luar biasa.

“Ideologi yang mereka emban adalah liberalisme, politiknya demokrasi, ekonominya kapitalisme, masyarakatnya individualisme, produknya adalah warga negara, orientasinya nasionalisme, loyalitasnya pada nation, bukan agama,” cetusnya.  

Padahal, ucapnya, sebelum negeri-negeri Islam dikaveling-kaveling Barat, identitasnya adalah agama dan satu umat sehingga kaum muslim harus bisa merebut tafsir bahwa identitas agama adalah human right.

Islam

Oleh karenanya, ia mengingatkan, jika ingin membangun new world order (tatanan dunia baru), jangan menggunakan proyek demokrasi atau skenario Barat, tetapi berdasarkan Islam.

“Untuk menghadapi kekuatan negara modern sekuler saat ini, perlu pengetahuan tentang etik sebagaimana diajarkan Islam. Misalnya metodologi profetik (sesuai kenabian) dan akhlak. Semuanya berfungsi untuk melayani peradaban dengan melaksanakan firman-firman Allah Swt.,” imbuhnya.

Kemudian, ungkapnya, dengan mengembangkan dan melanjutkan Islam sebagai sistem politik. “Kita harus membangun narasi sendiri, jangan narasi kita dituliskan orang lain. Apalagi, saat ini kekuatan Barat ibarat sudah kanker stadium IV. Jadi siapkan diri kita, siapkan aktornya, jangan berdiam diri,” tegasnya. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *