Penulis: Asy-Syifa Ummu Shiddiq
Muslimah News, OPINI — Rakyat menyimpan harapan besar pada kepemimpinan baru. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas juga mengharapkan pemimpin terpilih dapat bersikap tegas terhadap para tikus berdasi. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan nanti harus punya program membangun jeruji besi, selanjutnya menangkap koruptor. Dengan begitu, julukan negara terkorup ke-4 se-ASEAN pada 2023 bisa terhapus. (Republika, 11-6-2024).
Indonesia memang sedang mengalami bermacam-macam kasus korupsi. Berbagai jenis kasus yang menggerogoti uang rakyat ini terjadi di penjuru negeri, mulai dari kelas teri hingga kelas kakap. Beberapa kasus yang sempat mengguncang Tanah Air adalah kasus PT Timak Tbk. yang menelan kerugian Rp271 triliun. Kasus ini terungkap ketika menyelidiki Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk. tahun 2015—2022.
Kasus besar lainnya yang terkenal adalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kejahatan ini terjadi saat krisis moneter pada 1997. Pada saat itu, BI memberikan suntikan dana Rp147,7 triliun untuk 48 bank agar tidak kolaps. Selain itu ada korupsi PT Grup Duta Palma yang merugikan RP78,8 triliun, pengolahan kilang minyak ilegal di Tuban yang merugikan Rp35 triliun, Asabri dengan kerugian Rp22,78 triliun, Jiwasraya sebesar 16,8 triliun, dst.
Beberapa kasus di atas merupakan sebagian kecil dari banyaknya korupsi di Indonesia. Bahkan, bisa jadi korupsi itu bagian dari fenomena gunung es, yang tidak tampak jauh lebih banyak lagi. Artinya, korupsi itu sebenarnya sudah menggejala. Bisa jadi sudah kronis kondisinya.
Apabila kita perhatikan, para tikus berdasi adalah orang-orang yang punya kekuasaan, punya uang dan punya link. Mereka menggunakan tiga hal itu untuk memenuhi nafsu pribadi. Ini menunjukkan bahwa mereka punya kesempatan untuk melakukan. Namun, tatkala kita menengok masyarakat biasa, nyaris tidak ada hal yang bisa mereka manfaatkan untuk melakukan korupsi.
Akibat Iklim Demokrasi
Penerapan aturan saat ini memberikan kesempatan yang lebar agar mereka mengerat uang rakyat. Demokrasi nyatanya tidak bisa menutup celah besar itu dan yang ada malah menyuburkannya. Ini wajar saja terjadi karena demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dipakai oleh kapitalisme. Sistem ini mengambil landasan sekularisme yang mana agama tidak akan pernah mendapatkan wewenang mengatur kehidupan. Oleh karena itu, demokrasi meletakkan kedaulatan, yaitu hak membuat aturan di tangan manusia.
Seperti kita ketahui, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Manusia memiliki naluri-naluri yang senantiasa mendorongnya melakukan sesuatu. Naluri eksistensi mendorongnya untuk tampil menjadi yang terbaik, terkaya, paling berkuasa, dll. Apabila dorongan itu tidak disertai dengan kekuatan iman, maka bisa menjerumuskan pada tindakan salah, salah satunya korupsi.
Apalagi dengan adanya hak membuat aturan ada pada manusia. Ini memberikan kesempatan lebar bagi manusia untuk membuat aturan sesuai dengan keinginannya. Namanya juga akal manusia, hanya bisa melahirkan aturan sesuai kepentingannya dan tidak akan mengakomodasi semua kepentingan orang lain.
Pada kondisi ini, manusia membuat kebijakan hanya untuk dilanggar. Dalam setiap aturan yang mereka buat, selalu saja ada celah untuk memanfaatkannya. Sebagus apa pun aturan yang lahir, para tikus berdasi itu tetap bisa memperdaya kita semua. Meskipun kita membuat seribu jeruji besi, tidak akan pernah mampu menanggulangi para tikus berdasi. Ini karena demokrasi masih ada. Selama demokrasi masih dipercaya, tikus berdasi pun tetap terpelihara.
Kondisi ini terbukti saat ini, meski banyak kasus sudah terungkap. Nyatanya, korupsi terus berjalan dan tidak membuat gentar, bahkan penegak hukumnya juga ada yang melakukan praktik haram itu. Jadi, sebaik apa pun kondisi negara, selama masih percaya pada iklim demokrasi, tidak akan pernah mampu memberantas korupsi.
Islam Membasmi Tikus Berdasi
Islam memandang korupsi sebagai perilaku yang salah, ini termasuk pada khianat. Orangnya disebut khâ’in. Mereka yang melakukan korupsi adalah orang-orang yang tepercaya untuk mengurus sesuatu, tetapi ternyata malah mengkhianati dengan mengambil uang dari kepercayaan itu.
Faktor utama yang menyebabkan ini terjadi adalah penerapan aturan (ideologi) yang salah. Sebagai seorang muslim, harusnya kita mengambil Islam sebagai ideologi karena Islam punya solusi yang solutif. Islam punya cara pencegahan (preventif) maupun penindakan (kuratif).
Preventif merupakan langkah pencegahan agar korupsi tidak terjadi. Pertama, Islam akan melakukan rekrutmen SDM aparat negara wajib yang amanah, profesional, dan integritas, bukan karen koneksi atau nepotisme. Kedua, perlu adanya pembinaan terhadap aparat negara termasuk pegawainya. Ini untuk menanamkan dan menjaga ketakwaan mereka. Dengan begitu, mereka tidak akan berpikir untuk mengerat uang rakyat.
Ketiga, Islam mewajibkan negara untuk menyediakan fasilitas termasuk gaji yang cukup untuk aparatnya. Tersebab kebutuhannya sudah terpenuhi semua, tidak akan ada lagi rasa kekurangan untuk mencari uang dengan cara yang haram.
Keempat, Islam menerapkan larangan menerima suap dan hadiah untuk aparat. Kelima, Islam akan menerapkan aturan perhitungan kekayaan terhadap para aparat. Dengan begitu, akan tahu hartanya lebih atau tidak. Jika kelebihan, akan disita oleh negara. Keenam, negara dan masyarakat akan melakukan pengawasan.
Selain preventif, negara juga menerapkan penyelesaian secara kuratif. Islam akan mendorong negara untuk menerapkan sanksi yang tegas dan tidak boleh pilih-pilih. Islam mengatur hukuman bagi koruptor adalah takzir, yaitu hukuman yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh hakim/penguasa. Sanksinya bisa berupa penjara, denda, atau tasyhîr (pelakunya diumumkan ke masyarakat umum); bisa hukuman cambuk, sampai yang paling berat, yaitu hukuman mati. Sanksi tersebut akan disesuaikan dengan tindak kejahatan yang dilakukan.
Langkah-langkah di atas tidak akan mungkin bisa dilaksanakan dalam sistem saat ini. Hanya Islam sebagai sistem yang sempurna yang bisa melakukannya. Oleh karena itu, sudah saatnya menanggalkan sistem yang justru menyuburkan korupsi dan kembali pada panggilan Ilahi, yaitu kepada sistem Islam. Wallahualam. [MNews/Gz]
