[Kabar] UIY: Korupsi di Negeri Ini Ibarat Sirkuit yang Tidak Putus

[Kabar] UIY: Korupsi di Negeri Ini Ibarat Sirkuit yang Tidak Putus

Muslimah News, NASiONAL — Menyoroti korupsi yang seolah tidak bisa diselesaikan di negeri ini, apalagi pada hari-hari politik seperti saat ini, cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, ini gejala umum yang sangat berbahaya, ibarat sirkuit yang tidak putus.

“Menjadi sangat berbahaya ketika orang mendapatkan kekuasaan untuk keuangan. Ketika sudah memegang keuangan, itu untuk kekuasaan. Ini sering disebut money for power, power for money,” ungkapnya dalam Focus to the Point: Uang Korupsi di Sekitar Pemilu” melalui kanal UIY Official, Kamis (8-2-2024).

Ia menerangkan, orang yang sedang berebut untuk mendapatkan kekuasaan, baik di legislatif maupun eksekutif, di tingkat daerah maupun pusat, pasti tidak ada yang mengatakan untuk uang, tetapi dalam faktanya, hal itu menjadi keinginan utamanya.

“Lalu uang itu nanti untuk mengembalikan kekuasaan. Jadi, mendapatkan uang itu untuk mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan dan mencari bekal untuk kekuasaan. Kemudian dilakukan secara bersama-sama atau korupsi berjemaah,” urainya.

Ketika terjadi kejahatan berjemaah, lanjutnya, ini membentuk kultur politik yang pada satu level tertentu akan menjadi sangat sulit diberantas. “Kenapa? Karena semuanya melakukan dan saling mengunci,” ucapnya.

Bahkan, ujarnya, saat berharap kepada lembaga pemberantas korupsi, justru ketuanya menggunakan kewenangannya untuk ikut terlibat korupsi. “Lalu kita berharap pada pimpinan tertinggi, tapi kita sudah banyak mendengar bahwa ia justru memanfaatkan orang-orang yang melakukan korupsi itu untuk menggolkan semua kepentingan-kepentingan politiknya,” beber UIY.

Makin Mengkhawatirkan

Oleh karenanya, ia menerangkan, ada beberapa hal yang menunjukkan kondisi ini makin mengkhawatirkan.

Pertama, sebutnya, membentuk budaya koruptif karena tidak ada teladan dari pemimpin, bahkan pemimpinnya terlibat di situ.

“Kedua, hukum yang tumpul. Pelaku korupsi bisa tidak tersentuh hukum jika mau melakukan hal-hal yang dimau penegak hukum atau oleh kekuasaan,” ujarnya.

Ketiga, imbuhnya, kalaupun ada hukuman, maka itu makin ringan dan tidak memiliki efek jera. “Keempat, jumlah uang yang dikorupsi sangat besar. Orang bisa berpikirnya, ambil seratus, nanti yang sepuluh untuk menyelesaikan kasus. Jadi, bisa dilihat jumlahnya bukan lagi miliaran, tetapi triliunan atau jumlah yang sudah tidak terbayangkan lagi sebelumnya. Publik berangsur-angsur mendengar korupsi triliunan itu sudah biasa karena jumlahnya makin hari makin besar,” urainya.

Kalau itu terjadi, jelasnya, maka menguatlah kelompok jahat sehingga kelompok yang anti kejahatan bisa mengalami kesulitan, bahkan kalah. “Kekuatan uang yang mereka miliki bisa mengendalikan negara, “membeli” aparat, birokrasi, bahkan hukum sebagaimana yang kemudian kita lihat,” cetusnya.

Masyarakat Islam

Kemudian UIY membandingkan dengan struktur masyarakat Islam yang jumlah orang kayanya juga tetap ada, demikian pula orang yang berpengaruh secara politik. “Namun, meskipun jumlahnya segelintir, tetapi tidak bisa serta-merta mengendalikan negara,” ujarnya.

Ia menguraikan, ada dua hal yang menjadi kunci. Pertama, jelasnya, asal kekayaannya. “Kalau didapatkan dari cara halal atau benar, maka akan ia gunakan untuk keperluan yang benar. Kalau asalnya dari cara yang tidak benar, maka akan digunakan untuk cara yang tidak benar atau paling tidak untuk menutupi ketakbenarannya,” jelasnya.

Kedua, ungkapnya, berhadapan dengan ketentuan syariat yang tidak bisa diubah. “Yang halal tidak mungkin berubah menjadi haram dan sebaliknya. Kekuasaan tidak mungkin digunakan untuk mengubah kebijakan negara yang bertentangan dengan syariat,” terangnya.

Selain itu, tambahnya, sistem Islam akan menutup seminimal mungkin perolehan harta dengan cara haram.

Memang, UIY tidak memungkiri, bisa saja terjadi pergolakan karena ada yang memiliki ambisi terhadap kekuasaan, tetapi ini sekadar kasus dengan usaha recovery yang cepat dilakukan.

“Ibarat lantai bersih yang terkena lumpur, maka membersihkannya gampang karena situasinya bersih,” urainya.

Namun, sambungnya, ini berbeda dengan sistem buruk yang diibaratkan lumpur, maka baju yang bersih akan mudah terkena. “Kalau sudah terkena kotoran akan dianggap biasa karena itu tempat yang kotor,” bebernya.

Oleh karenanya, ia menekankan, recovery kerusakan pada sistem yang tidak berdasarkan ketentuan Islam menjadi tidak mudah dan memerlukan kekuatan yang sangat besar. [MNews/Ruh]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *