[Tarikh Khulafa] Al-Mutawakil ‘Alallah bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rasyid

[Tarikh Khulafa] Al-Mutawakil ‘Alallah bin Al-Mu’tashim bin Ar-Rasyid

Penulis: Nabila Ummu Anas

Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Al-Mutawakil lahir pada Syawal 206 H di Fam ash-Shulh. Ketika Khalifah Al-Watsiq meninggal, para pembesar negeri berkumpul. Mereka adalah Kadi Ibnu Abi Duad, Menteri Muhammad bin Abdil Malik az-Zayyat, dua sekretaris negara, yaitu Umar bin Faraj dan Ahmad bin Khalid, dua panglima Turki, yaitu Itakh dan Wahif. Mereka bermusyawarah tentang siapakah yang akan mereka angkat sebagai khalifah menggantikan Al-Watsiq. Ibnu Abi Duad mengusulkan Ja’far bin Al-Mu’tashim. Mereka pun sepakat atas usulan tersebut.

Dibaiat Menjadi Khalifah

Mereka menghadirkan Ja’far bin Al-Mu’tashim, kemudian Ahmad bin Abi Duad memakaikan pakaian kebesaran kepadanya dan mengecup dahinya, sambil berkata, “Selamat wahai amirulmukminin.” Orang-orang yang hadir berbaiat kepadanya. Ia diberi gelar Al-Mutawakil Alallah. Kemudian masyarakat umum juga berbaiat kepadanya.

Pembaiatan ini berlangsung pada hari meninggalnya Al-Watsiq yaitu pada 24 Zulhijah tahun 232 Hijriyah. Al-Mutawakil tetap menjadi khalifah hingga ia terbunuh pada 4 Syawal 247 H dalam usia 41 tahun. Masa kekhalifahannya selama empat belas tahun sembilan bulan dan sepuluh hari.

Memadamkan Pemberontakan

Pada masa Khalifah Al-Mutawakil terjadi beberapa pemberontakan yang berhasil dipadamkannya. Pertama, pemberontakan Muhammad bin Al-Baits bin Jalis. Pemberontak ini berasal dari Kota Marnad, salah satu kota yang terkenal di Azerbaijan. Kota ini awalnya sebuah desa kecil, lalu Abu Al-Baits menempati dan membangun benteng bersama putranya, Muhammad. Muhammad membangun istana di dalamnya.

Muhammad bin Al-Baits pernah dipenjara di tempat Ishaq bin Ibrahim. Setelah bebas, ia menetap di Marnad. Orang-orang yang ingin berbuat kekacauan bergabung bersamanya hingga jumlah pendukungnya sekitar 2.200 orang.

Penumpasan pemberontakan ini berlangsung lama, akhirnya Khalifah Al-Mutawakil mengirim pasukan dalam jumlah yang sangat besar dari kaum Turki, Syakiri, dan Maghribi. Pemberontakan pun berhasil dipadamkan. Pemimpin pemberontakan, yaitu Muhammad bin Al-Baits dihadapkan kepada Khalifah Al-Mutawakil. Namun, dia dimaafkan oleh khalifah dan dibebaskan.

Kedua, pemberontakan Armenia. Seorang pembesar patrik (bangsawan) Armenia bernama Baqrath bin Asyuth sangat berambisi untuk menjadi pemimpin dengan melakukan pemberontakan. Akan tetapi, Wali Persia, Yusuf bin Muhammad menangkapnya dan membawanya kepada khalifah. Hal ini membangkitkan kemarahan para patrik. Mereka bersepakat utuk mengadakan pemberontakan terhadap wali Persia. Mereka mengepung dan berhasil membunuh Yusuf bin Muhammad.

Ketika mengetahui berita terbunuhnya sang wali, Khalifah Al-Mutawakil mengirim Bugha Asy-Syarabi ke Armenia beserta pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Pasukan ini berhasil membunuh sekitar tiga puluh ribu orang dan menawan sejumlah besar dari mereka.

Peperangan Melawan Romawi

Perang antara kaum muslim dan Romawi terus berlangsung baik di darat maupun laut. Pada tahun 238 H pasukan Romawi menyerang Mesir dari arah Dimyath. Mereka datang dengan tiga ratus kapal perang. Mereka memasuki Mesir, berbuat kerusakan, membakar rumah dan masjid jamik, serta menawan banyak kaum perempuan dan ahli zimmah. Mereka mengambil rampasan perang kemudian kembali ke negerinya.

Kaum muslim juga melakukan serangan di wilayah-wilayah Romawi yang berbatasan dengan negara Islam, yaitu wilayah utara dan di laut Romawi.

Pada 241 H terjadi pertukaran tawanan antara kaum muslim dan Romawi di sungai Al-Lamis. Jumlah kaum muslim yang dibebaskan selama tujuh hari sebanyak 2.100 laki-laki dan perempuan.

Pada 242 H, Romawi keluar dari arah Syimsyath. Mereka mendekati Amid, kemudian keluar dari perbatasan Al-Jazariyah. Mereka melakukan perampasan di berbagai desa dan menawan mayoritas penduduk. Kemudian mereka kembali ke negerinya.

Pada Rabiulakhir 244 H, Khalifah Al-Mutawakil memerintahkan panglimanya Bugha yang berada di Damaskus agar melakukan penyerangan ke Romawi. Pasukan menyerang Ash-Shaifah dan berhasil menaklukkan Shamlah. Pada 245 H pasukan Romawi balik menyerang Samsota . Mereka membunuh dan menawan sekitar lima ratus orang. Kemudian dibalas lagi serangannya oleh pasukan muslim.

Pada 246 H terjadi lagi pembebasan tawanan kaum muslim dan Romawi. Sebanyak 2.367 tawanan muslim berhasil dibebaskan.

Demikian seterusnya, peperangan antara kaum muslim dengan Romawi terus berlangsung dengan berbagai strategi yang dilancarkan oleh masing-masing pihak. Kaum muslim tidak putus asa dan menyerah, meskipun terkadang memperoleh kekalahan, tetapi tidak menghentikan semangat dan upaya penunaian kewajiban jihad fi sabilillah. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Muhammad al-Khudari, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Abbasiyah, Puncak Keemasan dan Kejayaan Kekhilafahan Islam, Pustaka Al-Kautsar

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *