Bagian 4: Akar Masalah, sambungan dari Bagian 3: Saatnya Ditinggalkan.
Penulis: Dr. Rini Syafri
Muslimah News, FOKUS — WHO mendefinisikan determinan sosial kesehatan (SDoH) sebagai faktor nonmedis yang berpengaruh terhadap kesehatan. Berupa kondisi orang dilahirkan, tumbuh, bekerja, hidup, dan menua. SDoH juga merupakan rangkaian kekuatan dan sistem yang lebih luas membentuk kehidupan sehari-hari, mencakup kebijakan dan sistem ekonomi, agenda pembangunan, norma dan kebijakan sosial, serta sistem politik.[1],[2]
Artinya, SDoH adalah sistem kehidupan yang unik pada setiap ideologi, sekaligus aspek fundamental bagi terawat tidaknya kesehatan bani insan. Ini karena faktanya, keberadaan kondisi dasar (underlying) klinis dalam proses alami perjalanan penyakit (natural history of diseases), pada prinsipnya hanyalah akibat dari keberadaan kondisi dasar nonklinis, di samping faktor genetis. Kondisi dasar nonklinis yang dimaksud akan terwujud manakala terjadi kegagalan pemenuhan kebutuhan hidup insan, baik kebutuhan fisik akibat proses fisiologi normal (hajatul ‘udhwiyyah), maupun nonfisik (kebutuhan naluri).
Sejumlah riset membuktikan bahwa determinan sosial kesehatan sekularisme adalah yang paling bertanggung jawab atas kondisi dasar berbagai perjalanan penyakit hari ini. Pada perkara penyakit jantung, misalnya, sekumpulan riset menyatakan, “Penentu determinan sosial kesehatan yang meliputi faktor ekonomi, sosial, lingkungan, dan psikososial, berpengaruh (baca: buruk) terhadap kesehatan, bahkan memainkan peran penting dalam perkembangan faktor risiko penyakit kardiovaskular (CVD), juga kesakitan/morbiditas dan kematian/mortalitas CVD.” (Artikel “Social Determinants of Cardiovascular Disease”, Journal of American Heart).
Artinya, persoalan primordial lagi fundamental yang menjadi akar masalah terjadinya kerusakan hebat kesehatan adalah peradaban kapitalisme berikut determinan sosial kesehatannya, mengingat sifatnya sebagai perusak kesehatan.
Hal ini tecermin dari kegagalannya dalam menjamin pemenuhan kebutuhan hidup bani insan oleh karakter kebijakan pemerintah sistem politik demokrasi destruktif terhadap kesehatan, termasuk sistem kesehatan kapitalisme yang begitu rapuh.
Buruknya Pemenuhan Kebutuhan Hidup
Terpenuhinya kebutuhan hidup adalah kunci terawat dan lestarinya kesehatan setiap insan, baik kebutuhan fisik akibat proses fisiologi normal (hajatul ‘udhwiyyah), maupun kebutuhan nonfisik (kebutuhan naluri).
Buruknya pemenuhan kebutuhan hidup fisik yang mendasar adalah pangan yang menjadi fenomena yang sangat patut dikhawatirkan. Selama puluhan tahun, tercatat ada 828 juta jiwa kelaparan di tengah produksi pangan berlimpah. Tiga tahun terakhir, terjadi penambahan 150 juta jiwa kekurangan gizi dan 45% kematian anak dalam kondisi kelaparan dan penyakit yang berhubungan dengannya. Di sisi lain, terjadi kematian 700 anak setiap hari dalam kondisi pengidap penyakit akibat air kotor dan sanitasi yang buruk. Polusi udara pun menjadi pembunuh jutaan jiwa penduduk dunia setiap tahunnya.[3],[4]
Kerusakan lingkungan juga berakibat buruk pada kesehatan, padahal terjaganya kelestarian lingkungan merupakan bagian dari kebutuhan hidup bani insan. Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan, “Kesehatan kita bergantung pada kesehatan ekosistem yang mengelilingi kita; dan ekosistem ini sekarang terancam oleh penggundulan hutan, pertanian, dan perubahan penggunaan lahan lainnya, serta pembangunan kota yang pesat. Perambahan yang makin jauh ke habitat hewan meningkatkan peluang bagi virus yang berbahaya bagi manusia untuk melakukan transisi dari inang hewan mereka. Antara 2030 dan 2050, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun akibat malnutrisi, malaria, diare, dan tekanan panas.”
Puncak kegagalan pemenuhan kebutuhan hidup insan di alam peradaban kapitalisme ditandai tingginya persoalan kesehatan mental, bahkan menjadi beban terberat dunia. Hasil riset 2019 yang dimuat di situs resmi thelancet[dot]com pada 22-2-2022 menunjukkan tentang beban global gangguan mental, yakni terjadi peningkatan dari 80,8 juta jiwa pada 1990 menjadi dua kali lipatnya, yakni 125,3 juta pada 2019.
Di Indonesia, kondisinya tidak kalah buruk. Diperkirakan jumlah penderita kelaparan di negeri ini mencapai 50% atau sekitar 200 juta jiwa (ketika dimasukkan angka kelaparan tersembunyi). Bisa jadi kebutuhan protein dan karbohidrat terpenuhi, tetapi kekurangan dari sisi berbagai mikronutrien yang begitu penting bagi perawatan kesehatan.
Bagaimana dengan kondisi pemenuhan kebutuhan dasar lain berupa sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan? Dapat dipastikan tidak kalah buruk. Demikian juga perihal pemenuhan perkara urgen bagi keberlangsungan hidup manusia, baik transportasi publik, air bersih dan sanitasi, maupun energi dan lingkungan sehat. Misal, lingkungan yang buruk terhadap kesehatan tampak dari tingginya kandungan partikel halus paling berbahaya (PM 2,5) di udara.
Puncak kesengsaraan masyarakat itu kemudian terlihat dari puluhan juta jiwa pengidap gangguan mental emosional. Ini sebagai buah pahit berkelindannya keburukan pemenuhan kebutuhan fisik dan nonfisik yang berasal dari keberadaan naluri. Menjadi konsekuensi logis dari pola kehidupan masyarakat sekuler yang dipenuhi aspek individualisme, hedonisme, dan sinkretisme, selain bahaya determinan sosial kesehatan kapitalisme terhadap kesehatan.
Akibat Karakter Destruktif
Buruknya pemenuhan kebutuhan hidup insan adalah cerminan karakter destruktif peradaban kapitalisme terhadap kehidupan dan kesehatan. Capaian pemenuhan kebutuhan hidup hari ini adalah hasil interaksi gaya hidup khas masyarakat sekuler, buruknya jaminan pemenuhan hidup dari negara, serta tekanan sosial dan ekonomi yang melingkupi atmosfer kehidupan publik.
Seiring tercerabutnya nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan dari kehidupan, yang tersisa hanyalah nilai materi. Hasilnya sungguh mengerikan, yakni berupa suasana kehidupan individualistis dan hedonis, dipenuhi kebengisan dan kekerasan, juga tekanan ekonomi yang begitu kuat sebagai buat pahit meluas dan masifnya kerusakan di daratan dan lautan. Ini karena peradaban kapitalisme dibangun berasaskan sekularisme. Sendi-sendi kehidupan dan peraturan hidup dibangun berasaskan paham yang bertentangan dengan fitrah insani ini.
Aktivitas kehidupan manusia harus dibebaskan dari ketentuan syariat. Hal ini sesuai dengan gambaran peradaban Barat tentang kehidupan dunia, yakni manfaat sebagai ukuran perbuatan dan kebahagiaan diartikan sebagai perolehan manfaat materi sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya, hal ini membentuk gaya hidup khas masyarakat sekuler yang bersifat negatif atau perusak kesehatan.
Kondisi ini diperparah oleh sistem kehidupan sekuler, khususnya sistem ekonomi dan sistem politik demokrasi sebagai SDoH kapitalisme yang bekerja secara sistemis bagi terwujudnya faktor risiko dan pemicu nonklinis. Misal, ketimpangan sosial, tekanan kemiskinan, kerusakan lingkungan, urbanisasi tidak terencana, dan polusi.
Karakter destruktif atau perusak kehidupan dan kesehatan peradaban sekularisme beserta determinan sosial kesehatannya dikukuhkan oleh fakta dan pengakuan bahwa kondisi buruk ini berlangsung semenjak revolusi industri pertama hingga RI 4.0 yang saat ini tengah berlangsung, yakni sepanjang keberadaan peradaban kapitalisme dengan determinan sosial kesehatannya di tengah kehidupan dunia.[3]
Diakui WHO
Karakter peradaban kapitalisme sebagai perusak kehidupan dan kesehatan dari aspek kebijakan negara dan keseluruhan sistem kehidupan sekularisme, khususnya sistem politik demokrasi beserta sistem ekonomi kapitalisme, telah diakui. Bahkan, pengakuan itu datang WHO sendiri sehubungan diadopsinya konsep health in all polycies (HiAPs) ‘kesehatan di semua kebijakan’ sebagai upaya tambal sulam.
Dinyatakan, “Kebijakan pemerintah di berbagai sektor berpotensi berpengaruh buruk terhadap kesehatan. Pendekatan HiAPs yang bertujuan mengatasinya adalah keharusan untuk menjadikan aspek kesehatan sebagai pertimbangan dalam kebijakan di luar sektor kesehatan.[4]
Sementara itu, sejumlah fakta menunjukkan kebijakan dan pembangunan kapitalisme yang berbahaya terhadap kesehatan. Sektor di luar kesehatan (pertanian, pendidikan, perumahan, keamanan), seperti kenaikan prevalensi penyakit pernapasan dan kematian prematur oleh asap pembakaran hutan dan lahan demi proyek ambisius kapitalisme berkedok energi bersih biofuel berbasis sawit. Sedangkan di sektor kesehatan sendiri adalah buruknya kualitas pelayanan kesehatan di tengah masifnya pencapaian UHC yang berujung kematian jutaan pasien setiap tahun.[5],[6],[7],[8]
Ini hanyalah sebagian fakta bahwa akar masalah kerusakan kesehatan fisik mental, spiritual, dan sosial yang melanda dunia dan negeri ini, adalah peradaban kapitalisme. Oleh karenanya, upaya tambal sulam apa pun ketika masih dalam bingkai yang sama, tidak akan berfaedah, termasuk keberadaan RUU Kesehatan dan agenda transformasi kesehatan. Yang harus dilakukan adalah mencabut peradaban kapitalisme hingga ke akarnya dan menghadirkan solusi sejati. [MNews/Gz]
Bersambung ke Bagian 5: Solusi Sejati (selesai).
[1] https://www.who.int/health-topics/social-determinat-of-health#tab=tab_1
[2] https://health.gov/healthypeople/priority-areas/social-determinants-health/
[3] http://isj.org.uk/capitalism-class-health-and-medicine/; In the first instance urban and industrial growth intensified health and mortality problems, not least in the big cities. Britain led the way, becoming in 1851 the first urban state with more than half its population in towns. Others followed in the 20th century.
[4] https://www.who.int/activities/promoting-health-in-all-policies-and-intersectoral-action-capacities/
[5] https://attheu.utah.edu/facultystaff/political-and-social-determinants-of-health/
[6] http://isj.org.uk/capitalism-class-health-and-medicine/
[7] https://ehjournal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12940-022-00872-w; PM2.5 air pollution from peatland fires, causes, on average, around 33,100 adults and 2,900 infants to die prematurely each year from air pollution. In addition, peatland fires cause on average around 4,390 additional hospitalizations related to respiratory diseases, 635,000 severe cases of asthma in children, and 8.9 million lost workdays.
[8] https://www.who.int/news-room/heets/detail/quality-health-services/ Lima belas persen dari seluruh kematian atau ada 5,7—8,7 juta kematian setiap tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (Indonesia salah satunya) berkaitan dengan buruknya kualitas perawatan.
