Threads or Threat?

Threads or Threat?

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.

Muslimah News, OPINI — Threads adalah media sosial dan layanan jejaring sosial daring berbasis teks yang dimiliki oleh perusahaan teknologi Amerika, Meta Platforms, milik Mark Zuckerberg, yang juga bos Facebook dan Instagram.

Aplikasi Threads berfungsi mirip dengan platform mikroblog lainnya, seperti Twitter. Pengguna dapat mengirim dan berbagi teks, gambar, dan video; serta membalas, memuat ulang (repost), dan menyukai kiriman sesama pengguna lainnya. Di antara kelebihannya, profil pengguna di Threads terhubung ke akun Instagram.

“Pencaplokan” Twitter

Pada hari peluncuran Threads, CEO Meta Mark Zuckerberg mempromosikan aplikasi terbarunya lewat sebuah cuitan di akun @finkd. Dalam cuitannya, Zuckerberg hanya memajang gambar Spider-Man saling tunjuk tanpa keterangan apa pun. Gambar yang dipilih Zuckerberg itu dianggap sebagai lelucon untuk menyindir Elon Musk dan Twitter. Pasalnya, kedua aplikasi tersebut sangat mirip dan punya fitur-fitur yang kurang lebih sama.

Memang, langkah berani Zuckerberg ini bisa dikatakan sebagai kritik terhadap fitur Twitter yang selama ini memberlakukan aturan pembatasan karakter, bahkan begitu mudahnya terjadi penangguhan (suspend) akun pengguna. Ini tentu saja tidak terlepas dari peralihan kepemilikan baru atas Twitter setahun belakangan ini.

Kita ketahui, pada April 2022, Elon Musk membeli (baca: mencaplok) Twitter dan langsung menerapkan sejumlah aturan represif, tidak terkecuali di kalangan manajemen Twitter. Musk bahkan tidak segan memecat CEO Twitter sehari setelah dirinya berhasil mengakuisisi platform media sosial tersebut.

Kendati kebijakan mengenai aturan pembatasan performa akun pengguna dan peringatan tentang pelanggaran aturan komunitas juga terjadi di Facebook milik Zuckerberg, tetapi sebagai sesama bos media sosial, tampaknya Zuckerberg merasa pola kerja Musk di Twitter cukup meresahkan bagi masa depan bisnis di bidang teknologi percakapan dunia maya tersebut.

Threads or Threat?

Jadi, apakah fenomena ini akan mengibarkan Threads? Atau malah menjadi threat (ancaman), khususnya bagi Twitter? Lantas, apa implikasinya bagi kepentingan masyarakat? Ataukah ini hanya perang dagang sesama bos media sosial?

Berdasarkan jumlah pengguna di awal kelahirannya, Threads tentu saja berbangga dengan angka 100 juta pengguna baru hanya dalam waktu lima hari. Apalagi Threads menawarkan kebijakan aturan komunitas yang lebih longgar (untuk sementara ini) dibandingkan Twitter. Ini jelas sejalan dengan visi besar kebebasan sistem demokrasi, yakni kebebasan berbicara (freedom of speech).

Manfaat bagi pengguna tentu terkait kebebasan berbicara tersebut. Pembatasan di Twitter berdasarkan aturan komunitas maupun jumlah karakter tiap twit pastilah membuat pengguna merasa terbatas dengan Twitter. Tidak pelak, lalu lintas Twitter pun sempat lumpuh selama beberapa hari karena jejaring pengguna langsung berpindah ke Threads. Praktis, secara ekonomi, Threads mengancam Twitter.

Sejatinya, munculnya Threads pun tidak lebih dari sekadar perang dagang antara Zuckerberg dan Musk dengan Twitter-nya. Lantas, bagaimana nasib pengguna? Mereka pun akan sekadar menjadi massa mengambang yang mudah terombang-ambing untuk dimanfaatkan oleh kapitalis besar jika tidak memiliki paradigma untuk menciptakan arus sendiri di masing-masing platform media sosial yang bersangkutan. Percakapan pengguna juga bisa terjebak dalam obrolan receh jika kosong dari paradigma tersebut.

Sarana Dakwah

Bagaimanapun, kapitalisme adalah ideologi yang—meski bobrok—saat ini masih memiliki panggung, baik di dunia nyata maupun maya. Kita harus menyadari bahwa kapitalisme mustahil mensponsori berjayanya pemikiran Islam. Ini karena akidah bagi kapitalisme adalah sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Namun, keberadaan sejumlah aplikasi media sosial yang sejatinya menjadi wadah penggencaran ide sekularisme, ternyata bisa menjadi peluang untuk menyebarkan ide lawan sekularisme tersebut.

Sungguh, tiadalah perkataan dan perbuatan terbaik seorang hamba, kecuali dalam rangka dakwah. Allah Taala berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).

Juga dalam ayat, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS Al-Mukminun [23]: 3).

Jelas, satu-satunya lawan yang sepadan bagi pemikiran batil sekularisme adalah Islam. Islam adalah cahaya kehidupan. Sebaliknya, sekularisme beserta kapitalisme adalah sumber kegelapan. Terlebih, motivasi kelahiran berbagai platform media sosial toh memang untuk menjadi sarana kebebasan berbicara sebagaimana empat pilar utama demokrasi.

Para kapitalis pun mensponsorinya dengan menggelontorkan dana besar-besaran demi tersebarnya ide kebebasan, meski di baliknya terjadi perang dagang di antara sesama mereka sendiri untuk mewujudkan kepentingan kapitalistik mereka masing-masing. Namun, meski mereka saling lawan di tengah perang dagang, mereka justru akan bersatu saat menghadapi pihak yang mereka posisikan sebagai musuh bersama (common enemy), yakni Islam.

Tidak heran, akun maupun konten Islam/dakwah sering kali dibatasi, bahkan ditangguhkan, baik itu di Facebook maupun Twitter, dengan alasan yang tidak masuk akal. Konten dakwah acap kali dianggap ujaran kebencian. Bukan tidak mungkin nantinya Threads juga akan memberlakukan aturan serupa.

Oleh karena itu, hendaklah beragam media sosial kita posisikan berdasarkan hakikat sarana dakwah semata. Sudah rahasia umum bahwa keberadaan media sosial sebagai ancaman dakwah adalah karena berasal dari kaum kafir, bahkan telah menjadi sarana perang opini dengan ide kufur.

Jika akun kita dibatasi/ditangguhkan, jangan sampai membuat arus dakwah kita terhenti. Masih ada banyak bentuk dan cara lain untuk membesarkan dakwah. Tantangan dan ancaman di media sosial tidak layak membuat kita gentar atau mundur. Sebaliknya, kita wajib tetap teguh menyerukan kalimat-Nya.

Khatimah

Rasulullah saw. bersabda, “‘Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, kalian pasti akan mengikuti mereka.’ Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?’ Beliau menjawab, ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’” (HR Musim).

Dengan demikian, tidaklah patut kaum muslim terbawa arus di media sosial selain dalam rangka kemuliaan dakwah. Hipokritnya berbagai kebijakan aturan komunitas yang terdapat di media sosial milik para kapitalis, semestinya membuat kita sadar bahwa keberpihakan mereka tidak akan pernah diberikan kepada Islam. Anggaplah itu sekadar onak duri perjuangan Islam yang keberadaannya tidak boleh mematahkan motivasi dan langkah dakwah kita. Wallahualam bissawab. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *