Korelasi Islam dengan Kapitalisme dan Sosialisme, Bukan Berarti Islam Sama dengan Keduanya

Korelasi Islam dengan Kapitalisme dan Sosialisme, Bukan Berarti Islam Sama dengan Keduanya

Penulis: Wiwing Noeraini

Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Dalam artikel di sebuah media, Achmad Murtafi Haris menulis bahwa Islam memiliki korelasi dengan ideologi kapitalisme dan sosialisme. Ia menganggap ajaran Islam sebagai akar kapitalisme Barat.

Hal ini berawal dari pengakuan dan penghargaan Islam atas kepemilikan individu dan banyaknya materi yang ada dalam fikih muamalat, seperti qard (pinjaman/loan), wadiah (deposito), ijarah (sewa), hibah (hadiah/grant), hiwālah (transfer), mudarabah (bagi hasil), dan lainnya yang berlaku hingga kini; suatu hal yang mendorong berkembangnya sektor swasta sebagai soko guru perekonomian kapitalis. Berbeda dengan sosialisme yang menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian.

Sedangkan pandangan bahwa Islam memiliki korelasi dengan sosialisme di antaranya adalah pandangan Gus Dur seputar “keadilan sosial” dengan mengutip Al-Hasyr (59): 7,

“Apa saja harta rampasan fai yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.”

Penggalan kalimat “agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” menjadi bagian penting untuk diperhatikan dalam pembangunan ekonomi, serta bahwa janganlah negara membiarkan penimbunan kekayaan oleh segelintir orang dan melupakan nasib orang banyak.

Pandangan Gus Dur ini sejalan dengan pandangan sosialisme vis a vis kapitalisme yang mendukung tumbuhnya pengusaha-pengusaha kelas kakap. Sosialisme tidak ingin membiarkan status quo yang menimbulkan ketimpangan sosial yang ditopang kapitalisme merajalela. (nu[dot]or.id, 29/1/2022).

Masih banyak lagi penjelasan di artikel tersebut tentang korelasi antara Islam dan kapitalisme-sosialisme. Dengan membaca artikel tersebut, kita digiring pada sebuah kesimpulan bahwa ada kesesuaian antara Islam dan kedua ideologi tersebut.

Apakah ini artinya Islam sama dengan ideologi lainnya? Lalu, bolehkah seorang muslim berideologi selain Islam?

Islam Berbeda secara Diametral dengan Kapitalisme dan Sosialisme

Apabila kita telusuri dunia ini, kita akan jumpai ada tiga ideologi yaitu kapitalisme, sosialisme (termasuk komunisme) dan Islam. Ketiga ideologi ini memiliki perbedaan sejak dari asasnya. Di dalam Kitab Nizhamul Islam, Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan dengan gamblang perbedaan ketiga ideologi tersebut.

Kapitalisme tegak atas akidah pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Ide ini menjadi akidahnya (sebagai asas), sekaligus sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis), serta qaidah fikriyah (kaidah berpikir)-nya. Mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya. Mereka pertahankan kebebasan manusia yang terdiri dari kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik, dan kebebasan bertingkah laku. Dari kebebasan hak milik ini lahir sistem ekonomi kapitalis, yang termasuk perkara paling menonjol dalam ideologi ini. Karena itu, ideologi tersebut dinamakan ideologi kapitalisme.

Adapun sosialisme, termasuk juga komunisme, memandang bahwa alam semesta, manusia, dan hidup adalah materi. Bahwa materi adalah asal dari segala sesuatu. Melalui perkembangan dan evolusi materi, benda-benda lainnya menjadi ada. Di balik alam materi tidak ada alam lainnya. Materi bersifat azali (ada dengan sendirinya/ tak berawal dan tak berakhir), qadim (terdahulu) dan tidak seorang pun yang mengadakannya. Dengan kata lain bersifat wajibul wujud (wajib adanya). Penganut ideologi ini mengingkari penciptaan alam ini oleh Zat Yang Maha Pencipta. Mereka mengingkari aspek kerohanian, dan beranggapan bahwa pengakuan adanya aspek rohani merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan. Agama dianggap sebagai candu yang meracuni masyarakat dan menghambat pekerjaan.

Sekalipun ada pertentangan antara kapitalisme dan sosialisme (karena kapitalisme masih mengakui adanya agama, sementara sosialisme meniadakan agama) tapi kedua ideologi ini sepakat bahwa nilai-nilai yang paling tinggi dan terpuji pada manusia adalah manfaat dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh manusia itu sendiri.

Sedangkan Islam menerangkan bahwa di balik alam semesta, manusia, dan hidup, terdapat Al-Khaliq yang menciptakan segala sesuatu, yaitu Allah Swt. dan ada kehidupan setelah kehidupan dunia. Islam memandang bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan berhak untuk membuat aturan untuk manusia. Dialah yang mengutus Nabi Muhamad saw. dengan membawa agama-Nya untuk seluruh umat manusia. Dan bahwa kelak manusia akan dihisab atas segala perbuatannya di hari kiamat.

Dari sini maka jelas, Islam berbeda secara diametral dengan kapitalisme dan sosialisme. Islam mengharuskan aturan berasal dari Allah Swt. Sang Maha Pencipta manusia dan seluruh alam semesta, sementara ideologi yang lainnya menetapkan bahwa aturan yang terbaik adalah yang berasal dari manusia. Karena itu aturan yang berasal dari Islam, meskipun sebagiannya diklaim mirip dengan ideologi kapitalisme dan sosialisme, tapi bukan berarti Islam sama dengan keduanya.

Islam Bukan Kapitalisme Juga Bukan Sosialisme

Islam sering dianggap sama dengan kapitalisme dan sosialisme karena adanya aturan atau pemikiran Islam yang mirip dengan kedua ideologi tersebut. Misalnya pengakuan dan penghargaan Islam terhadap kepemilikian individu, sering diklaim sama dengan kapitalisme. Jelas ini anggapan yang salah. Konsep kepemilikan individu dalam Islam jauh berbeda dengan kapitalisme.

Kapitalisme memberikan porsi yang sangat besar terhadap kepemilikan individu, sehingga setiap individu bebas memiliki harta apapun, termasuk harta milik umum. Sedangkan Islam menetapkan bahwa harta milik umum tak boleh menjadi milik individu, sehingga harta milik umum seperti sumber daya alam, barang tambang dan sebagainya dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada seluruh rakyat. Tak boleh ada individu atau perusahaan milik pribadi yang menguasai mata air pegunungan, menguasai hutan, menguasai tambang-tambang yang jumlahnya sangat banyak dan melarang masyarakat mengambilnya.

Contoh lainnya, perhatian Islam terhadap kesejahteraan setiap individu masyarakat dianggap memiliki kesamaan dengan konsep ‘keadilan sosial’ ala sosialisme. Padahal konsep sosialisme tentang hal ini jauh berbeda dengan Islam. Konsep keadilan sosial ala sosialisme menghapuskan sebagian kepemilikan individu bahkan di sebagian aliran sosialisme telah menghapuskan semua kepemilikan individu.

Ada aliran sosialisme yang hanya membolehkan individu memiliki barang barang konsumtif dan melarang individu memiliki barang barang produktif, seperti tidak boleh memiliki rumah untuk disewakan, tidak boleh punya pabrik, tanah dan sebagainya. Semua itu menurut sosialisme adalah cara agar seluruh rakyat mendapatkan keadilan, agar sejahtera bukan hanya milik orang-orang kaya. Tentu ini jauh berbeda dengan konsep dalam Islam. Islam menjamin keadilan dari sisi setiap individu rakyat terpenuhi kebutuhan pokoknya, tetapi bukan berarti tidak boleh memiliki harta untuk dikembangkan.

Ini hanya sebagian kecil saja dari aturan Islam yang diklaim sama dengan kapitalisme atau sosialisme, tapi ternyata setelah ditelusuri secara mendetail, nampak sekali perbedaannya. Wajar, karena hukum dan aturan Islam adalah ketetapan yang berasal dari Allah, tak mungkin bisa disamakan dengan aturan kapitalisme ataupun sosialisme buatan manusia.

Menyamakan = Merusak Kebenaran Islam

Sudah sangat jelas perbedaan Islam dengan ideologi lainnya baik dari sisi asas (akidah) maupun pemikiran dan aturan yang terlahir dari akidah tersebut. Maka sebuah kedangkalan berpikir ketika menganggap Islam sama dengan ideologi lainnya hanya karena korelasi Islam (pada sebagian kecil ajarannya) dengan ideologi ideologi tersebut.

Dan patut diduga, ada sesuatu yang terselubung di balik gagasan menyamakan Islam dengan kedua ideologi tersebut, yaitu upaya merusak kebenaran Islam.

Sebagaimana kita ketahui, hanya Islam satu satunya agama yang benar. Allah SWT berfirman

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” ( TQS Ali Imran [3] : 19 ).

Makna diin di ayat tersebut bukan hanya sebatas agama ritual-spiritual (sebagaimana agama Nasrani dan Yahudi). Tapi makna diin di ayat tersebut adalah keberadaan Islam sebagai ajaran ritual sekaligus sebagai ajaran politik (ideologi). Hal ini karena Islam tidak hanya mengatur urusan salat, puasa dan zakat ( ajaran ritual), tapi juga mengatur urusan politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan lain lain (ajaran politik-ideologi). Itu sebabnya Islam bukan hanya sebuah agama, tapi juga sebuah ideologi sehingga kedudukan Islam dalam hal ini setara dengan ideologi kapitalisme dan sosialisme.

Ayat ‘inna diina indallahil islam’ adalah penetapan dari Allah bahwa hanya Islam satu satunya agama dan ideologi yang benar, sedangkan agama dan ideologi yang lain salah. Maka menyamakan Islam dengan ideologi lain adalah upaya merusak kebenaran Islam, dan sekaligus penyesatan. Umat Islam dibuat bingung dan selanjutnya digiring untuk mau mengambil ideologi kapitalisme atau sosialisme dan meninggalkan Islam sebagai ideologi.

Akhirnya Islam hanya diambil sebagai ajaran spiritual, sementara ajaran politiknya mengambil dari ideologi selain Islam. Inilah yang disebut dengan sekuler, memisahkan agama dari kehidupan, sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Allah akan menghinakan pelakunya di dunia dan memasukkannya ke dalam azab yang pedih di neraka, sebagaimana firmanNya

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al Baqarah [2] : 85).

Haram Menggabungkan Islam Dengan Ideologi Lain

Selain merusak kebenaran Islam, upaya menyamakan Islam dengan ideologi lainnya akan membuat umat rancu sehingga mengiranya sama dengan Islam, dan akhirnya menggabungkan Islam dengan ideologi tersebut. Sehingga dikenal ada konsep sosialisme islam, kapitalisme religius dan lainnya. Atau penggabungan hanya di sebagian pemikiran ideologi tersebut, sehingga dikenal ada konsep demokrasi Islam, feminisme islam, nasionalisme islam dan lain lain. Penggunaan embel embel ‘islam’ sengaja untuk mengaburkan pemahaman umat Islam, seolah olah sudah sesuai Islam, padahal realitanya tidak sesuai dengan Islam.

Tentu ini tidak benar. Menggabungkan Islam dengan kapitalisme dan sosialisme baik secara keseluruhan atau sebagian pemikirannya adalah sesuatu yang diharamkan karena itu berarti mencampuradukkan antara kebenaran (Islam) dengan kebatilan (ideologi lainnya). Allah SWt berfirman
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.(TQS Al Baqarah [2] : 42)

Khatimah

Ideologi kapitalisme dan sosialisme berbeda secara diametral dengan Islam, sehingga adanya korelasi bukan berarti Islam sama dengan kedua ideologi tersebut. Maka cukuplah bagi setiap muslim menjadikan hanya Islam sebagai ideologinya. Menjadikan Islam sebagai akidahnya, sekaligus sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis), serta qaidah fikriyah (kaidah berpikir)nya.

Wallahualam bisawab

Share

4 thoughts on “Korelasi Islam dengan Kapitalisme dan Sosialisme, Bukan Berarti Islam Sama dengan Keduanya”

  1. Terimakasih ilmunya.. sampai dijabarkan ada apa dibalik gagasan menyamakan ideologi islam dg kapitalisme dan sosialisme, yg membuktikan bhw strategi Barat mengkerdilkan umat Islam sangat nampak

    1. pemahaman bahwa, sosialisme yamg anda sebut itu filsafat materialisme.

      komunis memang basisnya adalah materialie sedangkan sosialisme belom tentu komunis. sosialisme juga belom tentu asalnya dari materialisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *