Zinnirah ar-Rumiyah, Potret Iman Setegar Karang

Zinnirah ar-Rumiyah, Potret Iman Setegar Karang

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Dalam pentas sejarah, selalu terselip kisah yang tidak banyak kita ketahui. Di antaranya adalah kisah Zinnirah ar-Rumiyah, wanita sahaya yang hidup dalam kepemilikan tuannya. Namun, sinar Islam memasuki relung jiwanya hingga keimanan itu mengantarnya menjadi salah satu perempuan mulia. Ia melepaskan belenggu kekufuran dan perbudakan demi imannya pada Rabbul Izzati, Allah Swt..

Zinnirah adalah salah seorang shahabiyah. Ia dikenal dengan nama Zinnirah atau Zaneerah. Nama belakangnya, ar-Rumiyah, tersemat karena ia berasal dari Romawi. Ia menjadi budak Umar bin Khaththab ra. saat beliau belum memeluk Islam. Karena ia tinggal di rumah Umar, Zinnirah menjadi tanggungan Bani Makzum di Makkah.

Zinnirah merupakan salah satu wanita pertama yang memeluk Islam. Perjuangannya mempertahankan keimanan sangat berat. Namun, ia tetap teguh dan istikamah menggenggam iman layaknya bara membara yang tidak pernah padam. Keislamannya dan kedudukannya yang lemah sebagai budak menjadi sasaran empuk penguasa Quraisy untuk menyiksanya.

Kesabarannya teruji tatkala Abu Jahal menghukumnya untuk kembali ke agama sebelumnya. Dia dipaksa untuk tetap menyembah dua berhala panutan suku Quraisy kala itu, Latta dan Uzza.

Zinnirah memeluk Islam saat Rasulullah saw. melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Saat itu, Rasulullah mengarahkan dakwah kepada golongan bawah terlebih dulu. Zinnirah yang masih berstatus budak mendengar dakwah Rasul dan ikut serta di dalamnya.

Setelah mengikuti dakwah Nabi saw., ia pun memantapkan hati memeluk Islam. Khawatir keislamannya diketahui Umar, ia pun menjalankan ibadahnya secara sembunyi-sembunyi. Dia melakukan zikir, salat, berdoa, dan membaca Al-Qur’an dengan sangat hati-hati. Tidak lama berselang, pada akhirnya Umar mengetahui perihal keislaman Zinnirah.

Semenjak itulah Umar mulai menyelidiki perubahan kehidupan Zinnirah dengan cara ibadah yang berbeda. Zinnirah  tidak lagi menyembah berhala dan telah meninggalkan agama nenek moyang mereka.

Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai sosok yang sangat keras pertentangannya terhadap Islam. Secara terang-terangan ia juga memusuhi sahabat Nabi saw., mencercanya dengan sikap berani.

Umar juga mendiamkan perilaku Abu Jahal yang menyiksa Zinnirah dan beberapa budak lainnya yang memeluk Islam. Zinnirah  disiksa, dipukul, ditendang, bahkan dijemur di tengah padang pasir yang sangat terik.

Dengan semua siksaan yang ia dapatkan, Zinnirah tetap tenang dan sabar. Puncak siksaan untuknya adalah ketika kedua matanya dibuat buta. Orang-orang Quraisy menyebut kebutaan Zinnirah lantaran membangkang Latta dan Uzza. Mereka pun menantang Zinnirah agar Tuhannya menyembuhkan kedua matanya yang buta jika Tuhan yang ia sembah memang benar adanya.

Lalu Zinnirah membalas perkataan mereka dengan keyakinan tinggi, “Lalu, apa yang membuat Latta dan Uzza bisa melihat siapa saja yang menyembah mereka? Ini (kebutaan) datangnya dari Allah dan Dia dapat mengembalikannya.”

Kedua mata Zinnirah yang buta tidak menyurutkan keimanannya kepada Allah. Kebutaan itu justru memperkuat keyakinannya pada Islam. Dengan segala keterbatasan itu, ibadahnya kian meningkat dan ia senantiasa mendekat kepada Allah Swt.

Iman setegar karang, seperti itulah sosok Zinnirah. Ketegaran itu ia buktikan dengan doa yang selalu ia panjatkan, “Ini untuk-Mu ya Allah, aku mengarungi kesengsaraan ini untuk mendapatkan kesenangan di akhirat kelak. Perjuangan ini memang sungguh berat, selalu menderita dan sengsara karena aku sadar untuk mendapat surga harus dapat melalui ujian yang berat, sedangkan neraka itu dipagari kesenangan dan kemudahan.”

Allah pun mendengar doanya. Tidak lama, kedua mata Zinnirah dapat melihat kembali. Meski demikian, orang-orang Quraisy tetap saja tidak beriman dengan kenabian Muhammad saw. Mereka tetap memusuhi dakwah Nabi dan para sahabat. Mereka menganggap kembalinya penglihatan Zinnirah adalah sihir yang Nabi lakukan.

Penderitaan dan siksaan kepada Zinnirah silih berganti. Abu Bakar merasa iba melihat para budak yang disiksa. Abu Bakar ash-Shiddiq akhirnya menebus Zinnirah dan budak-budak lainnya. Abu Bakar memerdekakan mereka agar terlepas segala siksa yang menyelimuti mereka. [MNews/Chs]

*Disarikan dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *