[Fikrul Islam] Menjemput Hidayah

[Fikrul Islam] Menjemput Hidayah

Penulis: Ustaz Hafidz Abdurrahman

Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Mengenai qarînah ‘aqliyah yang juga bisa mengubah konotasi hidayah dan dhalâlah yang murni dari Allah menjadi konotasi hidayah dan dhalâlah sebagai ciptaan Allah adalah ayat-ayat hisab yang meminta akuntabilitas manusia atas segala tindakannya semasa di dunia.

Jika manusia mendapatkan petunjuk, Allah akan memberikan pahala dan surga kepadanya. Dan jika ia tersesat, Allah pun akan menimpakan siksa dan neraka kepadanya. Allah Swt. berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔

“Siapa saja yang melakukan kebajikan, itu adalah untuk dirinya sendiri dan siapa saja melakukan keburukan, maka itu pun untuk dirinya. Dan Tuhan kamu tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya.” (QS Fushshilât: 46)

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ

“Maka siapa saja yang melakukan kebaikan meskipun hanya sebesar biji zarah, maka ia sendiri yang akan melihatnya, dan siapa saja yang melakukan kejahatan meski hanya sebesar biji zarah, maka ia sendiri juga pasti akan melihatnya.” (QS Al-Zalzalah: 7)

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِهٖۙ

“Siapa saja yang melakukan kejahatan, maka ia akan dibalas dengan (balasan) kejahatan.” (QS An-Nisâ’: 123)

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ

“Allah menjanjikan kepada orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan serta orang-orang kafir neraka Jahanam, mereka akan kekal di dalamnya.” (QS At-Taubah: 68)

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa jika Allah menyiksa orang-orang kafir karena kesesatannya, sedangkan kesesatan tersebut ditentukan oleh Allah, maka berarti Allah zalim kepada mereka. Karena itu, Allah membantah anggapan tersebut,

ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔

“Dan sekali-kali Tuhanmu tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya.” (QS Fushshilât: 46)

Jadi, ayat-ayat di atas dengan tegas menolak bahwa hidayah dan dhalâlah sepenuhnya “perbuatan” Allah Swt. sehingga Allah dipandang zalim karena menyiksa orang kafir. Karena itu, Allah kemudian menegaskan,

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ

“Dan Kami telah memberikan dua pilihan (jalan), ada yang bersyukur (menjadi mukmin) dan ada yang kafir.” (QS Al-Balâd: 10)

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

“Dan Dia telah memberikan petunjuk kepadanya (manusia), ada yang durjana dan ada yang bertakwa.” (QS Asy-Syams: 8)

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa Allah Mahaadil. Allah juga tidak akan menyiksa dan memberi pahala pada manusia, kecuali setelah ditunjukkan jalannya, yaitu jalan ke surga dan neraka, yang keduanya sama-sama ditunjukkan kepada manusia sehingga ketika Allah menyiksa mereka yang tersesat itu bukan karena kesalahan Allah, melainkan karena merekalah yang bersalah. Sebab, mereka tidak mengikuti agama Allah.

Jika mereka diberi pahala surga pun, bukan semata-mata karena kemurahan Allah, sehingga surga tersebut akan diberikan kepada siapa saja tanpa melihat usahanya. Namun, karena usaha merekalah, mereka diberi pahala dan surga oleh Allah.

Dengan kata lain, manusia secara fitri telah diberi kecenderungan oleh Allah untuk beriman dan kufur. Inilah yang dimaksud, bahwa Allah Swt. adalah Zat Pencipta hidayah dan dhalâlah. Setelah diberi kecenderungan tersebut, manusia kemudian diberi pilihan dan dua alternatif, baik/buruk, surga/neraka, serta pahala/siksa.

Inilah hakikat hidayah dan dhalâlah yang sesungguhnya, yakni dari konotasi langsung dari Allah, baik ciptaan ataupun tindakan-Nya, menjadi makna tidak langsung, hidayah dan dhalâlah tersebut merupakan ciptaan Allah, sementara yang mengusahakannya adalah manusia.

Karena manusia telah diberi potensi untuk mendapatkan keduanya. Bahkan tidak hanya itu, Allah Swt. juga menurunkan Rasul yang diberi tugas menjelaskan kedua jalan tersebut, sehingga setelah diutusnya Rasul tidak ada lagi yang melemparkan umpatan dan tuduhan pada Allah dengan mengatakan, bahwa Allah Swt. tidak adil, dengan berbagai alasan. Firman Allah,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“Dan Kami tidak akan menyiksa (siapa saja) sebelum Kami mengutus Rasul.” (QS Al-Isrâ’: 15)

لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ

“Supaya manusia tidak mempunyai alasan (macam-macam) di hadapan Allah setelah diutusnya Rasul.” (QS An-Nisâ’: 165)

Inilah gambaran yang sesungguhnya mengenai hidayah dan dhalâlah tersebut. Dengan  gambaran tersebut, jelas bahwa usaha manusia untuk mencari hidayah berbeda dengan usaha manusia mencari rezeki. Sebab usaha mencari hidayah pasti akan berhasil, sedangkan usaha mencari rezeki belum tentu berhasil.

Ini dibuktikan dengan balasan pahala dan dosa yang diberikan oleh Allah kepada manusia terkait dengan hidayah dan dhalâlah tersebut. Sementara dalam masalah rezeki, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Mengenai beberapa ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Swt. berfirman,

وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS Al-Mâ’idah: 108)

وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَۚ

“Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 258)

وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

“Dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS Al-Baqarah: 264)

Ayat-ayat tersebut tidak bisa diartikan bahwa Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang kafir, fasik, dan zalim. Ayat-ayat ini maksudnya adalah bahwa karena hidayah adalah ciptaan Allah dan untuk memperolehnya Allah telah memberikan jalan, yaitu ketaatan hingga orang tersebut memperoleh hidayah-Nya, maka ketika mereka mencari hidayah dengan menempuh jalan kemaksiatan, seperti kefasikan, kekufuran, atau kezaliman, pasti hidayah tersebut tidak akan sampai kepada mereka.

Jadi, hidayahtersebut tidak diberikan oleh Allah kepada orang fasik, zalim, dan kufur, karena jalan mereka salah. Mencari hidayah melalui jalan kefasikan, kezaliman, atau kekufuran.

Ada satu masalah yang belum dijelaskan di atas, yaitu adanya orang-orang yang ditetapkan oleh Allah untuk tidak diberi hidayah, sebagaimana yang disampaikan oleh Allah Swt. kepada Nabi-Nya,

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, baik kamu beri peringatan ataukah tidak, mereka sama saja; mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati, pendengaran, serta penglihatan mereka.” (QS Al-Baqarah: 6-7)

Ayat ini merupakan informasi dari Allah yang diberikan kepada para Nabi, mengenai adanya orang-orang yang tidak akan pernah beriman. Semuanya ini ada dalam pengetahuan Allah.

Hanya tidak berarti ada kelompok manusia yang beriman dan tidak. Sebaliknya, semua manusia mempunyai potensi beriman dan kafir, sedangkan mereka yang dinyatakan tidak beriman, berarti bahwa ilmu Allah Mahatahu, yakni adanya orang tertentu yang tidak beriman, karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Sementara apa yang belum diberitahukan kepada kita, maka kita pun tidak bisa memastikan, misalnya si A atau si B telah ditutup hatinya oleh Allah. Tindakan seperti ini tidak berhak dilakukan oleh siapa pun. Sebab, ia tidak pernah tahu ilmu-Nya atas orang tersebut.

Dengan demikian, para pengemban dakwah tidak seharusnya putus asa ketika mengajak orang lain menuju jalan kebenaran. Sebab orang itulah yang hakikatnya menentukan hidayah untuknya sehingga dia mendapatkan petunjuk atau tidak.

Jika dia bersungguh-sungguh mencarinya, pasti akan bisa memperoleh. Di sini fungsi pengemban dakwah dan Rasul adalah menjelaskan jalan yang sesat dan jalan yang benar kepada orang banyak agar mereka bisa memperoleh hidayah-Nya. [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Abdurrahman, Islam Politik & Spiritual

Share

One thought on “[Fikrul Islam] Menjemput Hidayah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *