Penulis: dr. Nisa Utami, Sp.PD
Muslimah News, OPINI — Tahu dan tempe sudah menjadi makanan pokok orang Indonesia karena merupakan salah satu sumber protein yang paling terjangkau. Selain itu, dalam menghadapi masa pandemi, asupan protein memegang peranan penting untuk menjaga imunitas tubuh. Namun, Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali menyampaikan kabar buruk tentang kenaikan harga kedelai sebagai imbas naiknya harga kedelai dunia.
Sungguh ironis, negeri agraris dengan konsumsi kedelai tertinggi malah impor kedelai—persoalan lama yang tidak kunjung tertangani. Bagaimanakah solusi hakiki dari Islam untuk problematik ini?
“Makanan Pokok” Orang Indonesia
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan pada konferensi pers virtual, Jumat (11/2/2022), mengumumkan kenaikan harga tahu dan tempe diperkirakan akan terjadi dalam enam bulan ke depan. Penyebab utama kenaikan tersebut adalah naiknya harga kedelai dunia. (finance.detik.com).
Indonesia adalah negara pengonsumsi kedelai tertinggi kedua di dunia, setelah Cina. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi tahu orang Indonesia dalam satu minggu bisa mencapai 0,15 kg dan tempe bisa mencapai 0,13 kg. Rata-rata konsumsi kedelai per tahun 2019 bisa mencapai 2,09 kg per orang. Jumlah konsumsi ini cukup tinggi dan diprediksi akan terus meningkat. (katadata.co.id).
Tingginya konsumsi kedelai ini bukan karena pilihan gaya hidup vegetarian yang mulai viral akhir-akhir ini, tetapi karena alasan ekonomi. Dalam Outlook Kedelai 2020, Kementerian Pertanian menyebutkan peningkatan konsumsi kedelai didorong turunnya daya beli masyarakat.
Dibandingkan dengan sumber protein hewani, harga tahu dan tempe jauh lebih terjangkau. Bisa dikatakan tahu dan tempe sudah menjadi makanan pokok orang Indonesia. Alhasil, kenaikan harga kedelai berimbas pada hajat hidup masyarakat.
Kenaikan harga kedelai dunia yang terus berulang ini menyebabkan para produsen memilih menghentikan produksi daripada bertambah rugi. Akibatnya, sempat terjadi kepanikan di masyarakat saat awal pandemi tahun lalu karena tahu dan tempe langka di pasaran.
Ketergantungan Impor Kedelai, Ironi Negeri Agraris
Sungguh ironis, tahu tempe yang kita konsumsi selama ini ternyata hasil impor kedelai dari luar negeri. Kementerian Pertanian mencatat sekitar 86,4% kebutuhan kedelai Indonesia berasal dari impor. Hingga 2020, dalam catatan BPS, terdapat impor kedelai sebesar 2,48 juta ton dengan nilai mencapai US$1 miliar. (katadata.co.id).
Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengungkapkan keran impor kedelai terbuka deras sejak 1998. Berdasarkan kesepakatan dalam Letter of Intent (LoI) antara Indonesia dengan IMF, peran Bulog sebagai pengelola persediaan kebutuhan pokok (termasuk kedelai) harus dilepaskan. Ini karena saat Indonesia meminta IMF membantu mengatasi masalah krisis ekonomi, IMF mengajukan syarat agar Indonesia membuka pasarnya.
Terbukanya keran impor dari luar negeri juga akibat produksi kedelai dalam negeri yang tidak mencukupi. Produksi kedelai nasional cenderung turun dari 907 ribu ton pada 2010 menjadi 424,2 ribu ton pada 2019.
Namun, bagaimana mungkin Indonesia sebagai negara agraris bisa kekurangan produksi kedelai dalam negeri? Rupanya, transformasi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian menjadi penyebab utama penurunan produksi kedelai tersebut. Menurut laporan Kementan, luas lahan panen yang terus menyusut dari 660,8 ribu ha (2010) menjadi 285,3 ribu ha (2019) adalah akibat tuntutan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Selain itu, karena lahannya berkurang, petani kedelai juga tidak mendapatkan subsidi pupuk dan bibit kedelai varietas unggul sehingga biaya produksi yang dikeluarkan cukup tinggi.
Sayangnya, tingginya biaya produksi kedelai yang tidak diimbangi dengan harga jual yang sepadan menjadikan para petani enggan menanam kedelai. Data BPS mencatat, harga produksi kedelai di tingkat petani rata-rata sebesar Rp8.248 per kg. Namun, ketika dijual ke konsumen hanya sekitar Rp10.415 per kg. Petani hanya menerima keuntungan sebesar Rp2.167 untuk masa tanam 3—4 bulan. Sungguh keuntungan yang sangat rendah untuk upaya yang cukup besar.
Rendahnya nilai jual kedelai lokal ini akibat perbedaan kualitas yang mencolok jika dibandingkan kedelai impor. Para produsen tahu dan tempe menjadi enggan memilih kedelai lokal sebagai bahan baku.
Ketua Gakoptindo menjelaskan bahwa 1 kg kedelai impor dapat mengembang menjadi 1,6—1,8 kg ketika dimasak. Sementara, 1 kg kedelai lokal hanya dapat mengembang menjadi 1,4—1,5 kg. Kedelai impor dianggap sudah memiliki standar, mulai dari bentuk, ukuran, dan warna yang seragam karena proses produksinya menggunakan teknologi dan mekanisme mutakhir, sementara kedelai lokal masih berbasis pertanian tradisional.
Kapitalisme Biang Masalah
Kapitalisme adalah sistem kehidupan yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama. Segala kebijakan dipilih yang paling menguntungkan. Alih-alih melakukan perubahan sistem secara mendasar, negara dengan sistem kapitalisme akan memilih solusi pragmatis yang lebih praktis. Wajar jika negara lebih memilih membuka keran impor kedelai ketimbang melakukan perbaikan mendasar sistem pertanian.
Bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak saja diserahkan kepada pihak asing, ke mana fungsi negara sebagai pemangku tanggung jawab utama kesejahteraan rakyatnya?
Oleh sebab itu, sistem kapitalisme ini telah jelas menimbulkan mudarat bagi umat, sudah saatnya kita hijrah pada penerapan syariat Islam.
Islam sebagai Solusi Ketahanan Pangan
Pada masa kekhalifahan, negara menjamin ketahanan pangan umat, termasuk selama dan setelah wabah. Dalam Islam, negara adalah penanggung jawab utama yang mengatur kebutuhan pangan rakyatnya.
Rasulullah saw. menegaskan fungsi utama pemerintahan ini dalam sabdanya, “Imam (khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Muslim dan Ahmad)
Dengan menyadari kewajiban utama ini, negara tidak akan mudah membuka keran impor bahan pangan dari luar negeri. Kemandirian sektor pangan akan dilakukan dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian.
Sejak awal abad ke-9 M, peradaban kota-kota besar muslim yang tersebar di timur dekat Afrika Utara dan Spanyol telah ditopang dengan sistem pertanian yang sangat maju, irigasi yang luas, serta pengetahuan pertanian yang tinggi.
Peradaban Islam telah berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian yang dikenal sebagai Revolusi Hijau Abad Pertengahan atau Revolusi Pertanian Muslim. Produk yang dihasilkan dari teknologi ini akan dipastikan aspek halal dan keamanannya.
Selain itu, sistem ekonomi Islam yang terbukti menyejahterakan akan memastikan terwujudnya segala kebutuhan perkembangan teknologi dan kebutuhan lahan pertanian.
Sungguh rindu akan kembalinya sistem kehidupan Islam yang telah terbukti menyejahterakan ini. Sebab ketika Islam diterapkan, Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi. Masyaallah. [MNews/Gz]

Masya allah, indahnya pengaturan pangan islam