Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Hubungan antara Cina dan Arab sudah terjadi jauh sebelum Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. lahir. Perdagangan di antara keduanya terjadi dalam skala yang cukup besar melalui jalur sutra yang sudah dikenal sejak lama.
Fakta inilah yang memperkuat hipotesis bahwa persentuhan Islam dengan masyarakat Cina sudah terjadi sejak masa awal Islam. Sayangnya, catatan sejarah tentang hal ini tidak begitu lengkap. Bahkan ada sisi-sisi yang berbeda satu sama lainnya.


Ragam Cerita
Sebagian sejarawan mengatakan, Islam dibawa ke Cina oleh Sahabat Rasulullah bernama Sa’ad bin Abi Waqqash (Sa’ade Wangesi) ra.. Saat itu beliau dan beberapa sahabat lainnya dalam posisi sedang hijrah ke Habsyah.
Pada 615 M, beliau dan 2 atau 3 sahabat lainnya bertolak dari Habsyah ke Cina. Saat itu Cina tengah dikuasai oleh Dinasti Sui (581—618 M) khususnya pada masa Kaisar Wei (Kaihuang).
Hanya saja, sejarawan lain menyebut bahwa dakwah Islam di Cina dilakukan secara resmi oleh negara Khilafah pada era Utsman bin Affan ra.. Sekira 651 M, Khalifah mengutus delegasi dakwah di bawah pimpinan Saad bin Abi Waqqash ra.
Beliau diminta untuk menemui Kaisar Dinasti Tang periode pertama (berkuasa antara tahun 618—907 M), dengan membawa mushaf Al-Qur’an yang mulai disalin pada masa Utsman. Kunjungan resmi ini disebut-sebut sebagai kunjungan kedua Ibnu Abi Waqqash ke wilayah Cina setelah kunjungan pertamanya saat ia berada di Habsyah.

Diceritakan, kala itu beliau dan rombongan diterima dengan sangat baik oleh Kaisar Tang yang bernama Yong Hui atau Kao Tsung atau Taizhong (650—683 M). Mereka bahkan diizinkan untuk berdakwah dan membangun masjid di Bukit Guiha wilayah Guangzhou (Chang’an/Kanton), maka Ibnu Abi Waqqash pun tinggal di sana hingga beliau wafat pada 674 M pada usianya yang nyaris 80 tahun.
Masjid yang dinisbahkan pada Ibnu Abi Waqqash itu bernama Masjid Huai Sheng atau Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage. Di dekat Masjid itu, konon Ibnu Abi Waqqash dimakamkan. Hingga sekarang, masjid dan makam itu menjadi salah satu destinasi ziarah umat Islam di wilayah Cina Selatan.

Para sejarawan rata-rata sepakat bahwa Ibnu Abi Waqqash memang berjasa dalam mengembangkan Islam di Cina. Di antara mereka adalah sejarawan Cina bernama Ibrahim Tien Ying Ma penulis Muslims in China dan Lui Tschih penulis Muslim China. Juga sejarawan Barat, Philip H. Hitti penulis buku History of the Arabs.
Hanya saja, dalam bukunya (terj. halaman 426) Hitti menulis, Saad sang penakluk Persia itu diutus ke Cina oleh Nabi, bukan oleh Khalifah Utsman. Ia pun menyebut “makam” Saad bisa ditemukan di Kanton.

Adapun tentang akhir perihidup Ibnu Abi Waqqash diceritakan secara berbeda oleh ilmuwan-ilmuwan muslim yang lain. Misalnya, Abu al-Qasim al-Asfahani, Ibnu al-Jauzi, Adz-Dzahabi, Ibn Al-‘Iraqi, Ibn Katsir dan lain-lain.
Mereka rata-rata menyebut Sa’ad bin Abi Waqqash justru dimakamkan di Madinah, bukan di Cina. Khalid Muh Khalid dalam bukunya Karakteristik 60 Sahabat Nabi misalnya menulis bahwa Saad Bin Abi Waqash dimakamkan di pekuburan Baqi’. Baqi’ adalah pekuburan besar yang ada di Madinah.
Generasi Awal Muslim Cina
Ada beberapa daerah yang menjadi titik awal dakwah dan kemudian berkembang menjadi pusat dakwah Islam di Cina. Daerah itu rata-rata merupakan wilayah pelabuhan atau bandar besar yang dilewati jalur sutra, seperti Guangzhou, Yangzhou, Hangzhou, dan Quanzhou.
Di daerah Quanzhou yang dikenal sebagai titik mula jalur sutra juga berdiri sebuah masjid yang bernama Masjid Qingjin. Masjid ini konon didirikan tahun 1009 M dengan desain khas daerah Damaskus di Suriah.
Di Quanzhou juga ditemukan sekitar 10 ribu makam orang Arab bertuliskan Cina dan Arab di Pulau Baiqi. Termasuk temuan makam di Gunung Lingsan yang diduga kuat merupakan makam dua orang Sahabat Nabi yang membersamai Abi Waqqash merintis dakwah di Cina.
Menurut catatan sejarah, orang Islam yang masuk ke Cina awalnya mendapat sebutan Tasyih atau Dashi. Mereka adalah orang-orang Arab, Persia, dan Asia Tengah.
Lalu pada masa dinasti Yuan, setiap muslim, baik yang non-Cina maupun campuran disebut Hui Hui (pengikut Muhammad). Sedangkan agama Islamnya sendiri disebut Dashi Fa yang berarti ajaran Dashi, atau Yisilan Jiao yang berarti agama yang murni.
Sejak masa Khilafah, sudah banyak Arab maupun Pesia dan Asia Tengah, muslim yang menetap di Cina, terutama ketika Dinasti Tang berkuasa. Pada era dinasti itu, Cina memang sedang mencapai masa keemasannya hingga dikenal sebagai wilayah kosmopolitan.
Situasi ini terus berlangsung hingga kekuasaan dipegang Dinasti Yuan yang keturunan Mongolia (1279—1368 M). Dinasti ini disebut sebagai satu dari dua dinasti asing yang berkuasa di Cina. Yang lainnya adalah Dinasti Qing dari keturunan Manchu (1644—1912 M) yang menjadi dinasti kekaisaran terakhir Cina. Dinasti ini pernah menghadapi serangan dari negara-negara Eropa dan Jepang.
Pada masa kekuasaan Dinasti Yuan ini terjadi migrasi besar-besaran umat Islam ke wilayah Cina. Mereka memiliki posisi setara dengan orang-orang Cina dan Mongolia, baik dalam bidang ekonomi, birokrasi maupun militer. Bahkan pernah jabatan perdana menteri, hakim agung, dan gubernur dijabat oleh orang-orang Islam.
Pada era ini pula, delegasi Khilafah tercatat puluhan kali datang. Proses asimilasi pun besar-besaran terjadi. Pernikahan campuran muslim non-Cina (Arab, Pesia dan Asia Tengah) dengan orang-orang pribumi sangat banyak terjadi. Kelompok muslim keturunan inilah yang kelak disebut Hui-hui dan menjadi marga penganut Islam terbesar hingga saat ini.
Masa-Masa Sulit
Namun era keemasan kaum muslim di Cina ini berubah saat dinasti Ming dari Mongol (1368—1644 M) dan Dinasti Qing dari suku Manchu (1616—1911 M) berkuasa. Pada awal era Dinasti Ming, umat Islam masih bisa bernapas lega, meskipun sudah ada kebijakan yang membatasi budaya Islam.
Pada era Ming ini migrasi muslim dari Mongol pun masih terjadi. Bahkan saat Kaisar Yongle, generasi ketiga dinasti Ming berkuasa (1403—1424), pemerintah mendukung penjelajahan Ceng Ho ke Samudra Hindia hingga Afrika Timur pada 1405—1433.
Namun, pada masa-masa setelahnya, umat Islam mulai mengalami kemerosotan yang signifikan. Pihak penguasa mulai memperketat masuknya muslim di pelabuhan-pelabuhan Cina.
Kondisi ini makin parah pada era Dinasti Qing. Kaum muslim kerap diperlakukan secara diskriminatif oleh penguasa, hingga pada era ini kerap pula terjadi pemberontakan berdarah.
Beberapa daerah yang dikenal sarat konflik adalah wilayah-wilayah mayoritas muslim, seperti daerah Xinjiang, Shaanxi, dan Gansu yang dikenal sebagai kekhanan. Salah satu pemberontakan yang terkenal adalah pemberontakan suku Uighur pada 1765. Pemicunya adalah kasus pemerkosaan wanita Uighur oleh putra pejabat Manchu dan pelayannya secara beramai-ramai.
Situasi sulit ini terus berlangsung hingga Cina mengalami perubahan struktur politik dari era Kekaisaran menjadi Republik. Hal ini dimulai sejak Revolusi China pimpinan dr Sun Yat Sen berkobar sejak 1894 hingga berhasil meruntuhkan Dinasti Qing yang dipandang zalim pada 1912.
Perubahan politik berikutnya terjadi pada 1949 tatkala Mao Zedong memimpin pemberontakan dan melakukan revolusi budaya. Dialah yang mengganti ideologi Cina menjadi Komunis.
Pendirian negara komunis RRC ini menjadi era paling memilukan bagi muslim Cina yang mayoritas ada di wilayah Barat Laut dan Barat Daya Cina, khususnya suku Uighur di Xinjiang atau Turkistan. Juga bagi suku-suku minoritas seperti yang ada di Tibet.

Pemerintah komunis Cina bertindak sangat represif terhadap umat Islam. Dengan alasan mencegah separatisme, pemerintah Cina menerapkan program asimilasi budaya seperti mendorong migrasi besar-besaran suku Han ke Xinjiang dan membatasi akses masyarakat muslim pada sektor-sektor strategis.
Propaganda ideologi dan Sinofikasi ajaran Islam dengan istilah kamp re-edukasi juga dilakukan dengan represif dan masif hingga sekarang. Jutaan umat Islam harus masuk dalam kamp re-edukasi yang sejatinya merupakan proyek cuci otak ini.
Pemerintah Cina juga mengkriminalisasi begitu banyak ajaran Islam. Atas nama mencegah radikalisme, budaya Islam dilarang, sampai sekadar memelihara janggut dan menggunakan sorban. Di luar itu, laki-laki di bawah usia 18 tahun dilarang masuk ke dalam masjid, sementara ceramah-ceramah para khatib pun wajib dilaporkan. Alhasil lebih dari 24 ribu masjid di Xinjiang ada dalam pengawasan ketat aparat komunis Cina.
Tampak jelas, pemerintah Cina sedang berusaha keras memastikan wilayah ini benar-benar ada dalam genggamannya. Maklum, wilayah Xinjiang adalah provinsi terbesar di Cina yang termasuk jalur sutra dengan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah ruah.
Butuh Khilafah
Ujian bagi muslim Cina, khususnya suku Uighur di Xinjiang masih terus berlangsung hingga sekarang. Selain menjadi target deideologisasi, mereka pun diduga menjadi target genosida oleh pemerintahan komunis Cina, baik melalui proyek asimilasi maupun sterilisasi paksa.
Semua kekejaman ini terjadi di hadapan mata penduduk dunia. Namun, para penguasa muslim dan lembaga-lembaga internasional tampak tidak berdaya. Mereka hanya mampu mengecam dan membuat wacana. Namun, tidak ada tindakan nyata untuk benar-benar menolong kaum muslim Cina.

Situasi ini menunjukkan realitas dengan jelas, bahwa ketiadaan payung Khilafah membuat umat Islam di dunia tidak memiliki kekuatan apa-apa. Terbukti, berharap pada para pemimpin muslim dan organisasi-organisasi dunia hanya akan berbuah kesia-siaan.
Oleh karenanya, salah satu cara menolong kaum muslim Cina adalah dengan bekerja sama menegakkan Khilafah, yakni sistem kepemimpinan Islam yang tegak di atas spirit akidah dan siap menerapkan aturan-aturan Islam secara kafah.
Khilafah inilah yang akan menyatukan seluruh potensi umat Islam, termasuk tentaranya untuk membangun dan menjaga kemuliaan Islam di setiap sudut di mana muslim berada. Bahkan, Khilafah yang kelak akan membebaskan dunia dari dominasi kekufuran.
Meski tidak mudah dan butuh waktu panjang, proyek penegakan kembali Khilafah ini merupakan proyek riil yang harus didukung oleh umat Islam sebagai konsekuensi iman. Terlebih, kembalinya Khilafah ini sudah Allah janjikan dan menjadi salah satu kabar gembira yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Wallahualam. [MNews/Has]
