Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Pada hari Sulaiman bin Abdul Malik meninggal dunia, saudara sepupunya, yaitu Umar bin Abdul Aziz dibaiat sebagai khalifah kaum muslim. Ketika dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mengerahkan segenap potensi dan kemampuannya, serta mengabdikan seluruh hidupnya untuk reformasi urusan kenegaraan, stabilitas keamanan, pemerataan kesejahteraan, dan penegakan keadilan di seluruh lapisan masyarakat.
Salah Seorang Tabiin Mulia
Umar bin Abdul Aziz juga seorang ahli fikih yang mujtahid dan tabiin yang mulia. Ia rujukan bagi para ulama. Imam Ahmad berkata, “Aku tidak melihat seorang pendapat tabiin pun yang menjadi dalil, kecuali pendapat Umar bin Abdul Aziz. Banyak tabiin meriwayatkan darinya, antara lain Abu Bakar bin Hazm, Raja’ bin Haiwah, Ibnul Munkadir, Az-Zuhri, Anbasah bin Sa’id, Ayyub as-Sakhtiani, Abdul Aziz (putranya), Zabban (saudaranya), dan banyak lagi yang lainnya.
Adz-Dzahabi menyifati Umar bin Abdul Aziz dengan karakter-karakter mulia. Ia berkata, “Imam yang hafiz, allamah, mujtahid, zahid, ahli ibadah, sayid, amirulmukminin sejati, Abu Hafsh al-Umawi al-Madani al-Mishri, khalifah yang zahid lagi rasyid, dan Bani Umayyah yang paling dicintai.”
Pemimpin yang Sangat Takut kepada Allah
Ketakwaan, kesalehan, dan keadilan Umar bin Abdul Aziz mengantarkannya pada jabatan khalifah, meskipun ia sendiri mengetahui beratnya tugas dan tanggung jawab kekhalifahan yang membuatnya khawatir tidak mampu menjalankannya.
Pada suatu ketika, Salim as-Sadi yang merupakan salah seorang terdekat Umar bin Abdul Aziz datang menghadapnya setelah ia dibaiat sebagai khalifah. Kepada Salim, Umar bertanya, “Apakah pengangkatanku membuatmu senang ataukah susah?” Salim menjawab, “Aku merasa senang bagi rakyat, tetapi aku merasa susah bagi dirimu.” Umar berkata, “Aku khawatir telah menjerumuskan diriku sendiri.” Salim berkata, “Alangkah baiknya jika engkau khawatir. Aku justru khawatir jika engkau tidak khawatir.” Umar pun berkata, “Nasihatilah aku.” Salim berkata, “Ayah kita Adam diusir dari surga karena satu kesalahan saja.”
Pemimpin yang Zuhud dan Memprioritaskan Kesejahteraan Rakyat
Kekhalifahannya berpengaruh besar dalam kehidupan Umar bin Abdul Aziz. Sebelum menjadi khalifah, kehidupannya bergelimang kenikmatan, sampai-sampai apabila ia melewati suatu jalan, maka aroma minyak wangi kasturinya menyebar. Umar juga sering menyisir rambutnya dan berpenampilan menarik.
Namun, sejak menjabat sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz terkenal benar-benar zuhud dan jauh dari kesenangan dunia. Perasaan akan tanggung jawab sebagai pemimpin umat Islam begitu dalam hingga memalingkannya dari segala kenikmatan dan kemewahan dunia. Bahkan, ia bersikap keras terhadap dirinya sendiri karena merasa berlebihan dalam menikmati kehidupan mewah sebelum menjabat sebagai khalifah.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menolak menggunakan kendaraan dinas berupa kuda-kuda berkualitas tinggi dan mahal karena semua itu memperlihatkan kemewahan dan kebanggaan. Umar berkata, “Kendaraanku sendiri lebih lembut kepadaku.”
Ia juga menolak tinggal di istana kekhalifahan dengan alasan, “Gubukku sendiri ini sudah cukup bagiku.” Ia lalu menjual kendaraan tersebut, dan hasil penjualannya ia masukkan ke Baitulmal.
Politik Dalam Negeri
Kebijakan politik dalam negeri Umar bin Abdul Aziz adalah bagian terpenting dalam kekhalifahannya. Ia adalah seorang administrator ulung. Kemampuan ini diperolehnya dari pengalaman panjang sebagai wali di Kota Khanashirah di negeri Syam dan juga pernah menjadi Wali Madinah al-Munawwarah. Ia pun pernah menjabat sebagai penasihat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Dengan kedudukan tersebut, Umar dapat melihat berbagai peristiwa dari dekat dan melatih kemampuan mengelola serta menjalankan urusan-urusan pemerintahan.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerapkan beberapa strategi, di antaranya penjagaan harta umat Islam, efisiensi waktu dan tenaga, kecepatan penanganan urusan, penyederhanaan birokrasi, penyelesaian hakim, kepala daerah, dan pejabat, penghapusan semua aktivitas yang tidak sejalan dengan semangat Islam, perwujudan keseimbangan di tengah masyarakat, serta dialog persuasif dengan para pemberontak secara baik-baik agar mereka kembali ke naungan jemaah. Di samping itu, karakter utama metode ini adalah keadilan, objektivitas, kasih sayang, dan perlakuan sebaik-baiknya.
Pengaruh kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz bagi sejarah Islam menjadi bukti konkret bahwa ketika seorang penguasa muslim bertekad benar dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya di hadapan Allah, maka ia akan meluruskan segala hal yang bengkok dan mengembalikan semua yang menyimpang ke jalur yang benar.
Amirulmukminin Umar bin Abdul Aziz laksana mutiara di kening kekhalifahan Bani Umayyah, bahkan kekhalifahan umat Islam seluruhnya. Inilah khalifah kebanggaan Islam dan umat Islam, bahkan seluruh umat manusia di setiap waktu dan tempat. Wallahualam. [MNews/Ruh]
Sumber: Prof. Dr. Abdusysyafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, Pustaka Al-Kautsar
Foto ilustrasi: “Surat dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Istana Sriwijaya” (National Geographic Indonesia)
