Penulis: Asy-Syifa Ummu Sidiq
Muslimah News, OPINI — Pandemi telah memberikan pelajaran berharga bagi dunia bahwa kesehatan itu sangat mahal harganya. Virus Covid-19 telah memorak-porandakan tatanan kesehatan. Oleh karenanya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merancang peta transformasi kesehatan dunia, tidak terkecuali untuk wilayah Asia Tenggara. (Republika, 10/09/2022).
Negeri 1.001 pulau ini pun menyambut peta transformasi kesehatan itu. Ketahanan sistem kesehatan baru ini akan dipakai dalam menghadapi kondisi darurat pada 2023—2027.
Transformasi kesehatan ini akan terfokus pada enam pilar, yakni (1) transformasi layanan primer dengan memusatkan pada tindakan promotif dan preventif; (2) transformasi layanan rujukan dengan peningkatan akses dan pemerataan layanan kesehatan; (3) Transformasi layanan sistem ketahanan kesehatan dengan peningkatan ketahanan penanggulangan medis dan penguatan resiliensi pada masa krisis kesehatan; (4) transformasi sistem pembiayaan kesehatan; (5) transformasi SDM Kesehatan; dan (6) transformasi teknologi kesehatan. (sehatnegeriku.kemkes[dot]go.id, 12/09/2022).
Keenam transformasi itu diharapkan akan mampu mempertahankan kelangsungan hidup manusia. Melihat enam pilar yang begitu lengkap, apakah negeri ini mampu merealisasikannya?
Dalam Impitan Kapitalisme
Dunia sepakat, saat ini tidak ada tempat yang aman dari impitan kapitalisme, termasuk negeri ini, meskipun berkali-kali para pemegang kebijakan membantahnya. Kenyataannya, kapitalisme berhasil memengaruhi segala kebijakan di semua lini. Sistem kesehatan pun tidak luput dari cengkeramannya.
Melihat enam pilar transformasi kesehatan itu, dapat kita simpulkan bahwa semua transformasi tersebut memerlukan biaya besar. Bagi negeri yang mengandalkan pajak sebagai pemasukan kas, dari mana biaya sebesar itu didapatkan? Sedangkan saat ini utang saja sudah cukup menggunung. Yakin mau menambah utang lagi?
Di sisi lain, negeri ini terkenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun faktanya, hampir semua SDA dikuasai asing, aseng, dan asong (para kapitalis pribumi). Jadi, merekalah yang dapat mengeruk keuntungan.
Belum lagi transformasi teknologi dan peralatan, tidak akan bisa sepenuhnya dilakukan sendiri karena peralatan kesehatan kebanyakan dari luar negeri. Mereka tidak mungkin memberikan cuma-cuma pada negara kita karena mereka juga mau mencari untung.
Hampir semua kebijakan kesehatan pun harus mengikuti titah WHO. Sebagai organisasi kesehatan buatan Barat, mau tidak mau, semua keputusannya menginduk pada negara pengusungnya (AS dan sekutu). Walhasil, meski tujuan organisasi ini ingin menyelamatkan nyawa manusia dunia, tetap tidak akan mampu berkutik ketika berhadapan dengan para kapitalis penguasa dunia.
Berkaca dari Penanganan Covid-19
Belajar dari sejarah itu penting. Melihat penanganan Covid-19 yang terkesan lamban di awal hingga memakan banyak korban, tidak ada salahnya jika ada yang beranggapan kalau negara gagap melindungi rakyatnya.
Selama sistem aturan masih dicengkeram oleh kapitalisme, meskipun sistem kesehatan negeri ini dipimpin oleh ahlinya, sulit untuk melahirkan sistem kesehatan yang andal. Apalagi dengan mengikuti arahan dunia yang pada kenyataannya hanya mencari keuntungan.
Negeri ini seharusnya bersikap independen dalam menangani setiap masalah, termasuk soal kesehatan. Selain itu, harus disadari bahwa layanan kesehatan itu bukan hanya hak orang-orang kaya, tetapi seluruh masyarakat, kaya ataupun miskin. Tugas negara adalah memenuhinya, bukan memilah-milah. Covid-19 sudah cukup memberikan pelajaran bahwa ekonomi adalah prioritas utama pemegang kebijakan, bukan keselamatan rakyat.
Islam Mewujudkan Sistem Kesehatan
Islam memiliki sistem kesehatan yang lengkap, dimulai dari memandang bahwa kesehatan adalah kebutuhan setiap orang dan kewajiban pemimpin adalah mewujudkannya. Dengan begitu, Islam akan berusaha memberikan pelayanan terbaik, baik saat kondisi aman ataupun saat wabah. Semua kebijakan kesehatan bukan sekadar diserahkan pada ahlinya, melainkan wajib berdasarkan syariat Allah Taala.
Islam telah membuktikan, selama 13 abad penerapannya, ia mampu mengatasi masalah kesehatan, mulai dari menghadapi wabah kolera dan penyakit lainnya, hingga menghasilkan para dokter dengan teknologi kesehatannya yang modern, seperti Ibnu Sina, Ar-Razi, Abul Qasim az-Zahrawi, dsb.
Sistem kesehatan yang sempurna itu didukung dengan sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, dan sistem lainnya, salah satunya adalah sistem keuangan Baitulmal. Keuangan Baitulmal berasal dari banyak sumber, di antaranya pengelolaan SDA, jizyah, fai, kharaj, ganimah, harta tidak bertuan, dll.
Seluruh pemasukan itu akan membuat perekonomian Islam menjadi andal, termasuk dalam mendukung jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyat. Hanya saja, semua aturan ini tidak mungkin dapat diterapkan selama sistem kapitalisme masih menghantui negeri kaum muslim.
Jika negeri ini meninggalkan kapitalisme dan mengambil Islam, niscaya perwujudan transformasi kesehatan secara Islam akan terlaksana. Pilihannya ada pada kita, kembali pada Islam ataukah tetap mengambil kapitalisme yang terbukti gagal menyelamatkan umat manusia?
Allah Taala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ululamri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa: 59) Wallahualam. [MNews/Gz]
